
Sesuai dengan yang sudah di rencanakan oleh Ayah Riski dan Firman, pebgacara Dzoki. Hari ini adalah hari yang di tunggu oleh Dzoki. Berkasnya sudah lengkap sejak hari kedua ia di tangkap dan di tahan. Ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Dzoki dan Cyeril serta kedua orang tua Dzoki.
Sidang persana kasus pembunuhan Mahesa, putra tunggal dari salah satu dosen senior dan ternama di kampus tempat Dzoki menimba ilmu.
Cyeril, Bunda Nur dan Ayah Riski sudah datang sejak pagi. Dua jam sebelum jadwal sidang perdana di mulai, ketiganya sudah hadir. Sampai -sampai Bunda Nur meminta sarapan di dekat lokasi pengadilan saja agar tidak terlambat karena jalanan yanh macet.
"Mau sarapan apa Ril? Ada bubur ayam, ketupat sayur, nasi uduk kuning, nasi soto atau ketoprak?" tanya Bunda Nur lembut. Bunda Nur tahu persis, ibu hamil moodnya suka labil dan tidak pasti. Kadang ucapan dan keinginan suka berbeda.
Kedua mata Cyeril mengedar dan menatap satu per satu tempat jualan itu lalu memilih menu makanan untuk sarapa pagi yang sedang ia inginkan.
Satu tangannya menunjuk ke arah tempat makan yang memang sedang Cyeril. Pilihannya jatuh pada nasi padang yang ada di seberang jalan tepat di depan bangunan pengadilan umum tersebut.
"Itu Bunda. Nasi padang, Cyeril lagi pengen makan tunjang sama perkedel," ucap Cyeril lembut sambil mengecap pelan. Rasanya ia sangat ingin menikmati tunjang dan perrkdel secara bersamaan dalam satu piring.
Bunda Nur menatap lurus ke arah bangunan depan yang di tunjuk oleh Cyeril. Bangunan rumah makan mewah bertuliskan nasi padang salero bundo.
"Nasi padang, Ril?" tanya Bunda Nur memastikan.
"Iya?" jawab Cyeril lembut dengan senyum tersungging di bibir mungilnya.
Cyeril masih nampak malu- malu jika di suruh memilih apa yang di inginkan.
"Kan pedes Ril. Mana masih pagi lagi. Nanti perut kamu sakit, sayang," ucap Bunda Nur menasehati.
Mendengar jawaban Bunda Nur yang kurang sesuai dengan keinginannya. Cyeril pun tak menjawab lagi. Rasa laparnya hilang begitu saja. Nafsu ingin memakan tunjang pun sudah tak berselera sama sekali.
"Ya udah bubur ayam aja," kawab Cyeril lemah.
"Nah gitu. Bukan Bunda gak bolehin tapi ini masih pagi. Nanti siang kalau sudah pulang, pasti Bunda ajak makan tunjang," ucap Bunda Nur lembut dan mengusap pelan kepala Cyeril yang memang sudah di anggap anak sendiri.
Skip ...
Ayah Riski, Pengacara Firman dan Dzoki sudaj duduk di salah satu ruangan menunggu jadwal untuk sidang.
Dzoki sudah memakai pakaian hitam putih. Selama ini ia di tuduh menjadi tersangka dan mendekam beberapa hari di sel tahanan hingga semua berkas lengkap.
__ADS_1
"Jangan gugup. Kami selalu ada untuk membela kamu, Dzoki. Semua bukti sudah jelas dan kamu tidak bersalah karena tidam ada bukti yang menyudutkan mu.
Dzoki duduk tenang di kursi. Ia memang sedikit gugup. Hanya sedikit saja. Tidak banyak. Ia berkali -kali menghirup napas dalam lalu di hembuskan pela dari mulit dan hidungnya.
Semua berkas sudah di tumpuk rapi di depan Dzoki. Itu semua bukti untuk pembelaan. Ada saksi lain yang memanh menguntungkan bagi Dzoki.
"Aku tidak gugup. Aku hanya tak sabar untuk bertemu istri kecilku dan calon buah hatiku," ucap Dzoki pelan.
Pernyataan Dzoki yang lugas dan jujur malah membuat Firman merasakan aliran darah yang terpacu dan sedikit menggebu. Ya, Firman cemburu. Ia benar -benar cemburu. Beberapa hari ini Firman sering ke runah Ayah Riski dan sering bertemu Cyeril, makan bersama dan sharing bersama. Sudah membuat Firman jatuh cinta pada wanita hamil itu.
Skip ...
Pagi itu sesuai dengan jadwal yang telah di jadwalkan. Semua keluarga tersangka dan korbam sudah datang untuk mengaksikan perjalanan sidang. Dzoki duduk di kursi pesakitan dengan beberapa saksi yang telah ada.
"Tasya? Kamu? Jadi saksi aku?" tanya Dzoki pelan sekali.
Tasya tersenyum lebar dan senyuman itu penuh arti.
"Gak ada yang gratis Ki," ucap Tasya pelan dan menatap Firman yang sedang sibuk menatap wanita lain tak alin Cyeril.
Cepret ...
Satu bidikan foto yang jelas -jelas membidik tepat pada wajah Cyeril. Tangan Dzoki spontan mengepal erat. Wajahnya langsung masam dan kesal.
Kalau bukan karena keinginan Ayahnya untuk memakai Firman sebagai pengacaranya.
"Kenapa? Cemburu? Kamu bisa bermain denganku Dzoki," ucal Tasya pelan.
Tatapan Dzoki menoleh tajam ke arah Tasya. Dalam hatinya bertanya pada dirinya sendiri. Permainan apalagi ini? Malah membuat semuanya tak beraturan.
"Kamu? Masih saja busuk Tasya!!" ucap Dzoki lirih.
"Pilih ikut balapan atau tetap tinghal di penjara. Lihat, sudahbada kucing yang siap menerkam ikan hias tercantikmu itu," ucap Tasya tertawa.
Ia memang di hadurkan sebagai saksi. Ia berhasil keluar dari rumah Egi. Tapi lihat, Egi dan semua teman temannya sudah ada di area ini dan siap menerkam Tasya.
__ADS_1
"Pilihan gila!! Bekerja pake hati!!" tegas Dzoki tak peduli lagi.
Dzoki duduk diam menatap hakim yanh sudah memulai acara sidang.
Firman sendiri sudah menutup.layar ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana bahan yang di pakianya.
Dzoki bersumpah. Sampai ia bisa bebas tanpa syarat. Ia akan lembali tinggal bersama kedua orang tuanya dan mengurung Cyeril di dalam kamar. Cyeril boleh keluar rumah jika memang lergk bersama dirinya atau dengan kedua orang tuanya.
Pikirannya mulai kacau. Dzoki mulai tak fokus pada masalahnya.
Sidang berlangsung alot setiap bukti yang di keluarkan Firman selalu di sanggah dengan baik hingga ada suara teriakan keras dari arah belakang ruangan sidang itu.
"Aku pembunuhnya!! Ini pisau yang aku gunakan untuk membunuh Mahesa!! Ini pakaian yang aku pakai saat aku membunuh Mahesa. Pakaian yang penuh dengan lumuran darah," ucap Anton dnegan siara keras dan lantang.
Cyeril langsung menoleh ke belakang dab menatap wajah Anton yang juga swdanh menatap dirinya.
Anton terus berjalan ke depan dan hanya menatap Cyeril.dari kejauhan. Dzoki pun tercengang menatap Anton dengan lekat.
Lelaki itu makin mantap melangkahkan kakinya ke depan tempat persidangan berlangsung.
Lalu menghampiri Dzoki.
"Aku pembunuhnya. Maafkan aku sudah membuat kami terfitnah karena insiden uabg sudah di rencanakan jauh -jauh hari," ucap Anton tegas.
Dzoki diam saja. Ia tak bisa berkata -kata untuk masalah ini. Di biarkan malah di akui sendiri oleh pelakunya.
Polisi langsung menangkap Anton dan melepaskan Dzoki. Bebas tanpa syarat sesuai harapannya.
Tasya dan Firman saling menatap bingung. Mereka bertemu tanpa sengaja saat Tasya kabur dan akhirnya mereka memiliki kontrak kerja sendiri.
Firman menggelengkan kepalanya pelan dan merobek semua kontrak kerja dengan Tasya.
Hal itu membuat Tasya panik dan bingung. Tasya sama sekali tak punya pilihan lain selain menjadi tawanan Egi kembali.
Persidangan di tutup dan Dzoki bersujud di lantai. Cyeril berlari menghampiri suaminya dan ikut bersijud emmeluk suaminya.
__ADS_1
Keduanya saling berperlukan dan menangis bersama.