KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
29


__ADS_3

Tangan Dzoki sejak tadi terkepal erat. Ia kesal sekali dengan Egi dan Tasya. Di balik sikap manis mereka ternyata mereka adalah ular berbulu domba. Sama sekali tidak ada baik -baiknya.


Dzoki langsung pergi dari sana. Tidak perlu berlama -lama lagi dia mendengakan sebuah kebenaran sahabatnya itu.


Jadi, kemarin Tasya sengaja menjebal dirinya untuk menjadikan Dzoki sebagai tumbal dan perlahan akan menguras harta Dzoki yang banyak itu. Karena Dzoki adalah pewaris tunggal almarhumah Neneknya.


Dzoki menggeleng tak percaya. Egi bukan saja sudah di anggap sahabat baik tapi juga sudah di anggap sebagai saudara Dzoki sendiri. Makan dan minum bersama bajkan satu piring dan satu gelas bersama tanpa ada rasa jijik sedikit pun. Tapi ternyata mereka malah membuat jebakan betmen yang benar -benar di luar nalar.


Langkah kakinya sudah berjalan menuju kantin rumah sakit. Dzoki membeli banyak makanan dan minumannserta tisue dan kebutuhan lain yang di rasa Dzoki akan di butuhkan saat melihat barang tersebut.


Setelah mendapatkan semua barang -barang itu. Dzoki kembali ke ruang VIP di mana Cyeril di rawat.


Ceklek ...


Pintu kamar terbuka. Dzoki masuk dengan pelan agar rak mengganggu.


"Lama banget beli makan aja. Kamu beli apa? Kasihan Cyeril sudah lapar. Ibu hamil itu gak boleh merasa kelaparan, karena yang butuh makan gak cuma Ibunya tapi anaknya juga. Kamu itu kok peka sih," ucap Bunda Nur mulai kesal dan terus mengomel.


Cyeril cuma bisa diam dan tak banyak bicara. Membiarkan Bunda Nur memarahi Dzoki.


"Maaf Bun. Tadi ramai dan antri," jawab Dzoki malas berdebat dengan Bundanya. Di mana -mana lelaki itu akan salah dan tidak pernah benar.


Dzoki memberikan satu plastik belanjaannya kepada Bunda Nur. Bunda Nur mulai membuka dan menyiapkan untuk menyuapi Cyeril.


Bunda Nur sengaja mencontohkan Dzoki. Setelah ini, Bunda Nur dan Ayah Riski akan pamit pulang dan sengaja membiarkan keduanya berduaan saja.


"Kamu harus makan banyak Cyeril. Apapun yang kamu inginkan coba untuk kamu beli dan makan agar stamina kamu juga tetap terjaga," titah Bunda Nur kepada Cyetil sambil menyuapi Cyeril dengan pelan.


"Makasih Bunda. Bunda sudah mengurus Cyeril," ucap Cyeril pelan.


"Iya sama -sama," ucap Bunda Nur pelan.


Tak sampai satu jam. Satu kotak makan berisi bubur sudah habis masuk ke dalam perut Cyeril dan membuat gadis itu kekenyangan.


"Bunda mau pulang dulu sama Ayah. Kamu istirahat ya, ada Dzoki yang temani kamu. Dzoki!! Jaga Cyeril dengan baik. Jangan kabur," titah Nunda Nur kepada Dzoki dan Cyeril.


"Iya Bunda. Makasih Bunda sudah nemenin Cyeril. Bunda hati -hati pulangnya ya," ucap Cyeril pelan.


"Iya Bunda. Dzoki pasti jagain Cyeril," jawab Dzoki datar.


Terasa sekali ada kekecewaan mendalam di hati Dzoki. Ia seperti sedang memendam rasa kesal.


"Kok jawabnya kayak gak ikhlas," ucap Bunda Nur pelan kepada Dzoki.

__ADS_1


"Gak apa -apa. Salah mulu sih. Percayakan Cyeril sama Dzoki," tegas Dzoki kemudian.


Akhirnya, Bunda Nur dan Ayah Riski pun pulang meninggalkan Cyeril dan Dzoki. Mereka ingin pasangan muda itu saling membutuhkan satu sama lain.


Cyeril terdiam menatap langit -langit kamar rawat inapnya. Ia bingung harus berbuat apa saat ini. Tidur tidak bisa, mau nonton televisi tapi remotenya ada di meja. Sesekali melirik ke arah Dzoki yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


Entah Dzoki tertidur atau tidak yang jelas kedua matanya terpejam.


Ya, Dzoki tidak tidur. Tadinya ia juga ingin istirahat tapi pikirannya terus terbayang kejadian tadi. Betapa jahatnya Tasya dan Egi kepada dirinya.


Perlahan Cyeril bangkit dari tidurnya fdan menurunkan kedua kakinya. Cyeril amu ke kamar mandi untuk buang air kecil.


BRAK ...


"Arghh ...." teriak Cyeril keras saat tiang infusan terjatuh ke bawah dan jarum infusan terlepas dari kulitnya dan mengucurkan darah sedikit dari punggung tangannya.


Suara teriakan Cyeril membuat Dzoki terbangun dan menatap Cyeril yang merintih kesakita memegang tangannya yang tertarik paksa jarum itu lepas.


Dzoki langsung menghampiri Cyeril.


"Kamu kenapa? Lihat tangannya?" tanya Dzoki pelan.


Cyeril diam saja tapi menunjukkan tangannya pada Dzoki dan Dzoki membersihkan darah itu dengan tisue.


"Kamu diam di sini, biar aku langgilka perawat," titah Dzoki yabg berjalan cepat menuju ruangan perawat untuk memberitahukan bahwa infusan Cyeril lepas.


Tak lama, infusan itu sudah terpasang di tangan Cyeril. Dua perawat itu ijin pamit dari sana.


Dzoki membantu Cyeril untuk tidur kembali.


"Aku mau pipis Kak. Sudah kebelet dari tadi," ucap Cyeril lembut.


"Hemm ... kenapa gak bilang dari tadi. Panggil aja, biar kejadian kayak gini gak terulang lagi," ucap Dzoki lembut mengingatkan.


Cyeril menatap Dzoki aneh. Tak biasanya suaminya ini bisa bicara lembit dan pelan. Malahan yang ada berteriak keras dan membentak.


"Iya Kak."


Cyeril pun di tuntun Dzoki menuju kamar mandi dan sekarang Cyeril bingung bagaimana menurunkan pakaian dalamnya.


Cyeril keluar lagi dari kaamar mandi sambil membawa infusannya.


"Gak jadi pipis. Cyeril gak bisa buka ini?" ucap Cyeril menahan hasrat ingin pipis.

__ADS_1


Dzoki menatap Cyeril dengan iba.


"Aku masuk ke dalam. Aku bantu boleh?" tanya Dzoki pelan kepada Cyeril meminta ijin.


Walaupun keduanya sudah menikah dan SAH. Tapi mereka tidak pernah lagi melakukan hal itu selain waktu itu.


Sejenak Cyeril nampak berpikir. Tapi untuk apa malu toh sudah suami istri. Dari lada menahan sakit ingin pipis.


"Kak Dzoki gak apa- apa? Takutnya risih lihat Cyeril pipis," ucap Cyeril pelan.


"Gak apa -apa Ril. Masa risih lihat punya istri sendiri," ucap Dzoki tertawa.


"Ih ... Kak Dzoki gitu,"


Keduanya masuk kamar mandi. Cyeril memegang tabung infusan dan Dzoki membantu membuka kan pakaiaan dalam Cyeril.


"Kakak hadap sana biar kamu gak malu. Kalau sudah bilang," titah Dzoki pelan.


"Udah," jawab Cyeril yang sudah membersihkan sisa air seninya.


Keduanya kembali ke dalam kamar lagi. Cyeril sudah naik ke atas kasurnya dan merebahkan tubuhnya kembali.


Dzoki menyantolkan kembali infusan itu di tiang infusan.


"Mau ngemil? Atau minum susu? Tadi Kakak beli susu, mau ya?" ucap Dzoki pelan kepada Cyeril.


"Boleh,"


Dzoki membuka susu kotak untuk Cyeril. Dzoki hanya ingin fokus pada Cyeril yang sudah jelas mengandung anaknya sendiri.


Ia memberika satu kotak susu untuk Cyeril minum.


"Makasih Kak,"


"Iya. Maafin sikap Kakak selama ini," ucap Dzoki lirih.


Deg ...


Ada apa ini?


Kenapa Suaminya meminta maaf?


Padahal Cyeril tak pernah merasa terabaikan. Bagi Cyeril semua butuh waktu dan proses saja.

__ADS_1


"Maaf atas sikap Kakak yang mana?"


Kedua pandangan mereka saling bertemu.


__ADS_2