KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
38


__ADS_3

Dzoki dan Cyeril sudah sampai di rumah Bunda Nur dan Ayah Riski. Baru juga masuk ke dalam rumah itu, sudah di suguhi aroma wangi masakan Bunda Nur yang memang sudah terjamin kualitas dan rasanya yang sangat enak.


"Kak, Cyeril bantu Bunda dulu ya," ucap Cyeril pelan saat Dzoki menutup pintu depannya.


"Iya. Sini tas nya biar Kakak bawa ke atas," ucap Dzoki menitah Cyeril.


Cyeril tersenyum dan melepas tas slempangnya dan di berikan kepada Dzoki. Ia langsung berjalan menuju dapur di mana Bunda sedang sibuk memasak untuk makan malam.


"Siang Bunda. Maaf telat datangnya," ucap Cyeril sopan lalu menyalami Bunda Nur dan mencium pipi Bunda Nur dengan lenih kasih sayang.


Sosok Bunda Nur memang sudah di anggap sebagai Ibu kandungnya sendiri bagi Cyeril bukan sebagai sosok mertua saja. Begitu pun dengan sosok Ayah Riski yang begitu baik dan berwibawa, adalah sosok Ayah idaman Cyeril selama ini.


"Baru pulang kuliah?" tanya Bunda Nur kepada Cyeril yang mulai mengelapi beberapa piring yang akan di rapikan di meja makan.


Itulah Cyeril, ringan tangan dan peka terhadap pekerjaan di sekitar. Ini yang membuat Bunfa Nur dan Ayah Riski sayang kepada Cyeril.


"Sudah dari siang Bunda. Tadi ke kafe milik Pak Kahfi, tempat Cyeril bekerja dulu. Cyeril mau ajak kerja sama. Rencananya mau buka stand di dalam kafe itu, Cyeril mau ikut jualan kue kering dan beberapa kue basah yang dadakan di buat di sana," ucap Cyeril pelan.


"Kenapa gak buat kafe sendiri saja," tanya Bunda Nur.


"Ekhemm ... Kafe itu ramai Bunda. Setidaknya, Cyeril mau kenalin dulu nih kue -kue buatan Cyeril sama orang banyak. Baru Cyeril berani buka outlet sendiri. Lagi pula kalau Cyeril buka outlet hanya berisi kue -kue saja. Kalau ikut bikin stand di kafe kan jatuhnya kita melengkapi jualan mereka," ucap Cyeril menjelaskan.


"Wih ... cerdas banget sih anak Bunda," ucap Bunda Nur bangga.


"Kan Bunda yang ngajarin Cyeril. Jadi perempuan harus punya value yang cukup tinggi, harus mandiri dan bisa melakukan semuanya tanpa harus meminta bantuan orang lain. Usaha dulu yang terpenting, kalau hasil pasti kan mengikuti bagaimna kerja keras kita? Bener kan, Bun?" tanya Cyeril sambil tertawa.


"Betul banget. Tapi inget. Jaga kandungan kamu. Bunda gak mau denger kamu kenapa -kenapa karena kecapekan," titah Bunda Nur tegas.


"Gak akan Bunda. Dzoki pasti jagain Cyeril," ucap Dzoki yang tiba -tiba datang sambil mengecup pipi Bunda Nur dan Cyeril secara bergantian.


Dzoki langsung menghampiri istri kecilnya dan menciumi kedua pipinya bergantian. Sekarang Dzoki sudah tidak malu bermesraan dengan Cyeril di depan Bunda Nur.


"Duh ... Mesranya anak Bunda sama istri tercinta bikin iri aja," ucap Bunda Nur terkekeh.


"Hemm ... Kalau Dzoki tahu menikah itu enak kayak gini. Sudah dari dulu Dzoki nikah," tawa Dzoki pecah.

__ADS_1


"Memang Kak Dzoki mau nikah sama siapa?" tanya Cyeril menatap Dzoki lekat.


"Yang jelas Kak Dzoki sekarang nikahnya sama kamu. Perempuan istimewa yang hebat. Terima kasih sudah mau sabar menghadapi Kakak," ucap Dzoki memeluk Cyeril dari belakang sambil mengusap perut Cyeril yang mulai membuncit.


"Hemmm ... gombal," ucap Cyeril terkekeh.


"Waduh kalian bikin baper aja sih. So sweet banget," goda Bunda Nur sambil senyum -senyum sendiri.


Dzoki dan Cyeril ikut terkekeh dan tersenyum menatap Bunda Nur.


Skip ...


Acara makan kali ini terasa sangat berbeda. Hubungan Dzoki dan Cyeril semakin mesra dan selalu membuat iri kedua orang tuanya.


"Gimana rumah kontrakannya?" tanya Ayah Riski di sela -sela makan malamnya.


"Enak Ayah. Tempatnya nyaman sekali, terus jauh dari keramaian jadi suasananya begitu tenang dan sunyi," ucap Dzoki menjelaskan.


"Pantes betah. Honeymoon terus," ucap Ayah Riski tertawa.


"Gak Ayah. Cyeril sibuk bikin kue. Kak Dzoki jug sibuk kejar bisa skripsi semester depan. Cyeril kan semester depan mau cuti dulu buat lahiran," ucap Cyeril lembut.


"Wahh Bali ... Cyeril mau Ayah," ucap Cyeril pelan.


"Boleh. Kita persiapkan. Liburan tinggal satu bulan lagi," ucap Ayah Riski serius.


"Serius Ayah? Bunda?" tanya Cyeril senang.


"Kamu lagi hamil lho Ril," ucap Dzoki mulai posesif.


"Terus kenapa? Kan perginya juga sama Ayah dan Bunda. Lagi pula memangnya Cyeril mau lari -larian di sana," ucap Cyeril mulai cerewet kalau sudah punya keinginan.


"Kamu ikut juga kan?" tanya Ayah Dzoki pelan.


"Dzoki kan KKN, Bun," ucap Dzoki lirih.

__ADS_1


Ia juga mau ikut berlibur ke Balinsekaligus honeymoon dan ingin bermesraan dengan istrinya dengan wajar.


"Oh iya. Ya sudah nunggu Dzoki selesai KKN dulu. Memang KKN -nya dimana?" tanya Ayah Riski pelan.


"Di dataran tinggi kota kecil," ucap Dzoki pelan.


"Wah jauh itu Kak. Sinyal juga susah sekali," ucap Cyeril sedih. Kebersamaannya tidak lama lagi. Apalagi di saat perutnya mulai besar malah ia akan berjauhan dengan Dzoki, suaminya.


Tangan Dzoki mengusap rambut Cyeril lembut.


"Seminggu sekali Kakak akan ijin pulang sama Kakak pendampingnya. Semoga saja di ijinin," ucap Dzoki pelan mencoba menenangkan Cyeril.


"Kita yang akan menjenguk Dzoki kesana," ucap Bunda Nur lirih.


"Iya Bunda. Kak Dzoki gak usah pulang. Biar Cyeril yang kesana sama Ayah dan Bunda," ucap Cyeril lirih.


"Ya ampun. KKN -nya juga masih semester depan. Kenapa jadi mellownya sekarang sih," ucap Dzoki berusaha mencairkan suasana malam itu.


Skip ...


Malam itu Cyeril dan Dzoki sudah berada di dalam kamar lama mereka. Dzoki masih asyik bermain game dan Cyeril duduk di sebelah Dzoki sambil membaca majalah tentang kehamilan yang di beri oleh Bunda Nur.


"Serius aja baca artikelnya? Belum ngantuk? Udah malam ini. Jangan kelelahan. Susunya habisin," ucap Dzoki terus mencereweti Cyeril.


"Bentar lagi Kak. Ini belum selesai. Lagi seru, ini tentang responsif kehamilan di usia lima bulan," ucap Cyeril pelan. Kedua matanya tetap membaca artikel itu tanpa menatap Dzoki yang sejak tadi sudah tidak lagi bermain game dan hanya menunggu Cyeril selesai membaca artikel di majalah.


"Uhh ... Akhirnya kelar juga," ucap Cyeril pelan lalu menutup majalahnya dan menumpuk di atas meja dan meneguk sisa susu hamil yang sudah dingin.


Wajah cantiknya langsung menoleh ke arah Dzoki yang sejak tadi menatap Cyeril.


"Lho? Sudah selesai main gamennya?" tanya Cyeril pelan.


"Sudah dari tadi, Cyeril sayang," ucap Dzoki lembut.


"Yuk tidur. Tapi Cyeril belum ngantuk aslinya," ucap Cyeril lirih.

__ADS_1


"Sama ... Kak Dzoki juga belum ngantuk," jawab Dzoki lembut.


Tatapan Dzoki begitu lekat tepat pada kedua mata Cyeril.


__ADS_2