
Rombongan Dzoki sudah datang. Mobil Szokidan beberapa mobil polisi sudah masuh ke halaman gedung tua yang sudah lama tak di pakai itu dan akhirnya menjadi base camp genk motor King Speed.
Awalnya Dzoki ragu untuk memberitahukan tempat ini pada Polisi dan kedua orang tuanya. Bagi Dzoki, base camp ini adalah aib dan seharusnya tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Tapi, Dzoki terpaksa karena Cyeril sedang menjadi tawanan Egi dan kawan -kawannya yang masih anggota geng motor King Speed.
Dzoki dan kedua orang tuanya sudah turun di temani dengan beberapa polisi yang mengawalnya untuk masuk ke dalam base camp geng motor King Speed tersebut.
Ternyata seluruh gedung ini sudah di kepung oleh Polisi. Tidak ada celah untuk mereka yang ingin kabur meninggalkan gedung.
Dzoki menatap ke arah pintu masuk gedung tua base camp itu. Semuanya tampak sunyi dan senyap sekali. Seperti tidak ada orang yang berada di dalam. Langkah Dzoki pelan sekali, melihat melalui celah kaca jendela yang bisa menembus ke bagian dalam.
Saat kedua mata Dzoki menatap ke arah dalam, Dzoki melihat banyak sekali botol minuman keras yang berserakan di lantai. Botol -botol itu sudah kosong. Kedua mata Dzoki berali pada kursi sofa yang memang di bawa DZoki dulu dari rumah untuk mengisi base campnya. Di meja itu banyak sekali botol minuman yang masih utuh atau yang isinya hanya tinggal sedikit. Beberapa orang temannya tertidur di sofa dan di karpet bagian bawah.
Tadi dari arah depan Dzoki melihat motor milik Egi. Itu tandanya Egi ada di sini.
"Gimana Ki? Ada Cyerilnya di sini?" tanya Bunda Nur pada Dzoki.
"Gak tahu Bun. Tapi motor Egi ada. Sebentar Bun," ucap Dzoki menatap ke arah bawah.
Dzoki mengambil sesuatu dari bawah dan ia tersenyum kecut sambil mengepalkan tangannya erat.
Tubuh DZoki langsung berbalik menatap pintu masuk yang tertutup dan mendang denagn satu kakinya dengan sangat kuat dan keras hingga pintu masuk itu terbuka lebar dan menimbulkan suara keras sekali.
__ADS_1
BRAK!!
"EGI!!" Suara Dzoki menggema keras dan sangat lantang sekali. Dzoki sudah masuk di ikuti dengan kedua orang tuanya dan beberapa polisi yang langsung menangkap para anggota genk motor yang masih mabuk karena minuman keras. Mereka belum sepenuhnya sadar dan masih meracau kesal karena kedua tangannya langsung di borgol.
Dzoki berlari ke arah kamar yang ada di sana. Kamar satu -satunya yang biasanya Dzoki gunakan untuk beristirahat setelah mengikuti event besar sambil menunggu pagi dan merayakan kemenangan.
Wajah Dzoki sudah merah padam, ia yakin seklai Egi ada di dalam bersama Cyeril.
BRAK!!
Kedua kalinya Dzoki marah dan menendang pintu kamar itu. Pintu kamar yang hanya terbuat dari papan yang tidak tebal dan kini sudah terbuka lebar membuat Egi terperanjant kaget.
"Brengsek kamu Gi!!" teriak Dzoki sambil memukul telak ke arah perut Egi dengan sangat keras. Egi mengaduh keras. Lalu tanpa ampun, Dzoki kembali memukul Egi di bagian rahang dan pipi hingga membuat Egi terjatuh dan berdarah.
Egi belum siap dengan kedatangan Dzoki. Egi sudah menduga kalau Dzoki bakal datang tapi Egi tak pernah menyangka akan secepat iti.
Dzoki langsung mengangkat tubuh Egi.
"Loe apain bini gue!! Loe apain bini gue!! Loe mau cicipin dia!! Brengsek loe Gi!" teriak Dzoki semakin geram dan kembali memeukul Egi yang pasrah dan tidak berdaya.
Baju Cyeril juga sudah tersingkap naik ke atas dan Dzoki melihat pakaian dalam itu sudah berhasil di lepas oleh Egi dan itu semakin membuat Dzoki emosi.
__ADS_1
"Gi!! Kita bersahabat sudah lama!! Loe udah ngerusak Tasya, sampai kandungannya loe buat seolah dia keguguran. Loe cuci otak Tasya agar benci sama gue dan Tasya!! Maksud loe apa? Loe sebenarnya ada masalah apa sama gue!! Selama ini gue sama loe itu udah kayak apa? Loe udah gue anggap saudara kandung gue sendiri!! Kita makan bareng, minum bareng, jajan bareng dan bahkan tidur bareng!! Setiap apa yang loe minta selalu gue kasih!! Apa yang loe butuhkan selalu gue penuhin kan!! Tapi loe tegas sama Tasya? Sekarang lebih parahnya loe tega sama gue dan Cyeril!! Loe dulu yang jebak gue samapi gue tidur sama Cyeril dan di hamil. Gue gak cinta sama Cyeril dan gue benci sama dia!! Itu dulu. Berjalannya waktu gue cinta sama Cyeril!! Gue sayang sama Cyeril dan anak gue yang masih ada di kandungannya!! Sampai kalau di tukar nyawa, gue mau!! Asal kematian gue tenang lihat istri dan anak gue bahagia!! Kalo loe mau tarung sama gue!! Ayo!! Gue ladenin!! Tapi gak gini loe matiin gue dengan merusak orang -orang yang gue sayang!! Gue pikir dengan loe sama Tasya, loe bahagia. Walaupun saat itu gue kecewa sama loe dan Tasya. Bisa -bisanya kalian bermain di belakang gue. Dari situ gue sadar. Mungkin emmang jodoh gue sama Cyeril. Dan akhirnya memang gue berjodoh sama Cyeril, gue cinta banget, gue cinta mati sama bini gue! Loe paham?" teriak Dzoki keras di depan wajah Egi.
Dzoki makin geram dan memukul bertubi -tubi ke arah Egi yang sudah lemah tak berdaya.
"Cukuip Dzoki!! Jangan lanjutkan!! Cukup!! Biar polisi. Kamu urus Cyeril!! Kasihan dia!!" titah Ayah Riski dengan suara keras dari arah luar kamar yang sejak tadi hanya menatap kedua sahabat yang sedang bertarung.
Dzoki melepas tubuh Egi dari genggamannya ke kasur. Ia tadi kalap dan seperti kemasukan setan.
Dzoki langsung memeluk Cyeril dan membukakan ikatan pada tangan dan kaki Cyeril. Lalu membuka lakban hitam yang masih menutup mulutnya. Air mata Cyeril terus luruh ke bawah dan memeluk erat ke arah Dzoki.
"Kamu gak apa -apa sayang?" tanya Dzoki pelan sambil menutup kembali bagian dada Cyeril dan mengancingkannya kembali.
"Kak Dzoki. Maafin Cyeril ya," ucap Cyeril terbata dan terus menangis. Tubuhnya terasa lemas sekali.
"Untuk apa minta maaf? Kakak yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Maafin Kakak ya, Ril. Kamu gak apa- apa? Ekhemm ... Maksud Kakak, Egi sudah berbuat apa sama kamu?" tanya Dzoki pelan dan kembali memeluk Cyeril dan mencium kening Cyeril penuh kasih sayang.
"Gak Kak. Cyeril belum sempat di apa -apakan hanya memnag semapat akan melakukan itu jika Kak Dzoki terlambat datang," ucap Cyeril jujur.
Dzoki menoleh ke arah Egi yang menatapnya sendu. Darah sudah mengalir banyak di sudut bibirnya.
"Sorry Ki ... Gue khilaf," ucap Egi lemah.
__ADS_1