
Tasya semakin geram dan gemas. Ia marah sendirian dan pergi dari keramaian itu sambil menabrak beberapa orang di depannya.
Tasya sudah di permalukan. Banyak orang tahu kalau Tasya juga sedang mengandung anak Egi. Kebetulan sekali Egi tidak ada di sana. Mungkin kalau ada, wajahbya akan merah padam menahan rasa malu.
Kedua mata Tasya basah. Air matanya menetes. Tangannya terkepal kesal. Sudah jelas Egi melemparka tanggung jawab ini kepada Dzoki sebagi tumbal. Tapi, kenapa Dzoki bisa memiliki rekaman saat ia perilsa di poli kandungan saat berada di rumah sakit.
Pantas saja, sejak saat itu, sikap Dzoki berubah drastis pada Tasya. Tasya tak sadar akan hal itu. Ia pikir, Dzoki hanya sedang lelah saja. Ternyata memang semua itu sudah di atur oleh Dzoki karena Dzoki sudah mengetahui rahasia besar itu.
"Tasya!! Ngapain loe di sini sendirian? Kesambet loe nanti!!" teriak Egi dan beberapa anghota genk motornya.
Semenjak Dzoki tidak ikut berkumpul dengan anghota genk motor King Speed, Egi lah yang mengambil alih semuanya.
__ADS_1
Egi juga mulai meracuni otak anggota genk motoe yang masih setia dan mendukung Dzoki. Sejatinya, Dzoki adalah lelaki baik dan peduli. Selain hebat menjadi joki dan selalu memenangkan pertandingan baik yang memang sudah di rencanakan atau mendadak.
Semua hadiah selalu di bagi rata untuk berpesta bukan untuk memperkaya dirinya sendiri. Berbeda dengan Egi yang mulai terlihat protektif, posesif dan arogan. Gayanya saja selangit tapi kualitasnya enol besar.
Egi dan teman genknya menghampiri Tasya yang duduk di ruang tunggu di ujung koridor dekat ruang laboratorium.
Tasya hanya menatap sepuntas ke arah Egi. Lihat saja, kehamilan Tasya sama sekali tak di pedulikan. Boro -boro mengusap perut Tasya yang mulai buncit, membelikan susu saja tidak pernah.
"Hei ... loe kenapa cantik? Hemm? Ohhh ... sudah lama gak dapat jatah dari aku? Nanti siang, gue ke kost loe, gue buat loe bakal lelah berkali -kali," ucap Egi tertawa terbahak -bahak dengan senang.
Tasya tetap diam dan menunduk. Ia menghapus sisa air matanya yang tadi menetes dengan punggung tangannya secara asal.
__ADS_1
"Hei ... Kenapa loe, Sya? Mewek!! Yaelah ... kayak bocah aja, pakek mewek. Tinggal bilang sama babang Egi. Babang Egi, Tasya kepengen nih. Egi pasti datang untuk memberikan kepuasan dan kenikmatan seperti yang sudah -sudah," cicit Egi dengan bangga pada dirinya sendiri.
Tasya berdiri dan memajukan tubuhnya hingga menyentuh tubuh Egi.
"Bisa gak? Kalau bertanggung jawab sendiri tanpa harus menjadikan orang lain sebagai tumbal!! Kayak lempar batu sembunyi tangan, tahu gak sih?" teriak Tasya kesal.
Tasya langsung berbalik dan pergi dari hadapan Egi, membuat Egi makin bertanya -tanya kesambet apa Tasya sampai berani melakukan itu.
"Loe kenapa sih? Aneh tahu gak?!!" tetiak Egi keras namun sama sekali tak di gubris oleh Tasya.
Tasya langsung pulang ke kost. Ia tidak jadi mengikuti kelas kuliah. Ia malu setengah mati dengan posisinya saat ini. Sudah banyak orang yang tahu soal dirinya.
__ADS_1
"Arghhh .... Brengsek!! Loe harus bayar semua ini mahal, Ril!!" teriak Tasya keras di dalam kamar kostnya.