
Pintu kafe itu di dorong oleh Cyeril dan semuanya masih sama, baik bentuknya, cara penataannya, dan semua teman -temannya dulu.
Cyeril masuk ke dalam kafe itu lalu mendatangi kasir langsung memesan minuman kopi dan cemilannya.
"Pesan es kopi susu dan kentang goreng," ucap Cyeril pelan kepada kasir pemesan.
"Tiga puluh ribu rupiah," ucap kasir itu pelan sambil menerima uang yang di sodorkan oleh Cyeril di meja kasir.
"Ini uangnya," ucap Cyeril.
"Cyeril?" ucap kasir itu pelan antara kaget dan tak percaya Cyeril kembali mampir ke kafe ini setelah kejadian malam itu.
"Prita, apa kabar?" Cyeril menyapa teman kerjanya dulu dengan sopan.
"Baik. Kamu apa kabar?" tanya Prita sambil mengeprint struk pesanan Cyeril.
"Baik juga," jawba Cyeril singkat
"Kamu hamil? Sudah menikah?" tanya Prita saat memberikan struk itu dan melihat ke arah Cyeril yang perutnya terlihat sedikit membuncit.
Cyeril tertawa dan menerima struk itu sambil menunjukkan cincin pernikahannya.
"Aku udah nikah. Lagi hamil tiga bulan," ucap Cyeril bangga.
"Wah selamat ya Cyeril. Aku ikut senang. Kenapa gak ada yang di undang? Kita kan juga mau berbagi kebahagiaan," ucap Prita pelan merasa sedih.
Mereka adalah teman seperjuangan saat mencari pekerjaan dan akhiranya di terima di kafe itu bersamaan.
"Nanti kalau acara empat bulanan, kalian aku undang ya," ucap Cyeril pelan
"Siap aku tunggu. Awas jangan lupa," titah Prita mengingatkan.
"Iya. Gak bakal lupa. Ekhemm ... Pak Kahfi ada?" tanya Cyeril pelan.
"Ada. Di atas. Mau naik aja?" tanya Prita langsung.
__ADS_1
"Gak ah. Jadi fitnah nanti. Lagi pula sudah pesen makanan. Mending di bawah sini. Bisa tolong panggilin Pak Kahfi ya? Aku ada perlu," titah Cyeril kepada Prita.
"Bisa. Aku panggilin sekarang. Kamu tunggu aja sekalian tunggu pesanan kamu," ucap Prita pelan.
Cyeril mengangguk kecil dan berbalik badan untuk mencari tempat duduk sambil menunggu pesanan makanan dan minumannya serta menunggu Pak Kahfi datang menemuinya.
Ternyata pesanan es kopi susu dan kentang goreng datang lebih awal. Pak Kahfi belum juga turun menemuinya padahal Prita sudah kembali ke belakang meja kasir.
Ponsel Cyeril berbunyi dengan nyaring. Dzoki meneleponnya. Tumben sekali lelaki itu menelepon. Padahal biasanya lelaki itu tidak akan mengabari Cyeril dengan menelepon. Paling juga hanya mengirim chat singkat kepada Cyeril bahwa dirinya sudah sampai di kantor. Tapi hari ini berbeda sekali. Dzoki menelepon Cyeril.
"Hallo Kak?"
"Ril. Kakak sudah sampai. Kamu sudah ketemu Kahfi? Sudah selesai obrolannya? Kalau sudah selesai pulang sekarang atau mau di jemput Bunda?" tanya Dzoki dengan cepat.
"Ekhemm ... Pulang sendiri aja. Gak usah di jemput sama Bunda. Gak enak. Lagi pula, Cyeril belum ketemu sama Pak Kahfi," ucap Cyeril jujur.
"Memangnya dia kemana? Jangan lama -lama kamu di sana. Bikin Kakak gak tenang saja. Walaupun itu urusan pekerjaan," ucap Dzoki menasehati.
"Ya ampun Kak. Ini baru setengah jam. Cyeril juga gak macam -macam," jawab Cyeril mencari pembelaan tapi memang benar sesuai kenyataan.
Cyeril melongo mendengar ucapan Dzoki, suaminya baru saja. Cyeril merasa saat ini ia benar -benar sedang di cintai oleh Dzoki. Bolehkah Cyeril tersenyum senang dan bangga.
Keduanya sama -sama diam tak bicara. Cyeril yang terdiam karena ucapan Dzoki baru saja membuat hatinya begitu berbunga -bunga.
Sedangkan Dzoki terdiam karena ia sadar telah kelepasan bicara mengakui bahwa dirinya sedang cemburu pada Cyeril yang bertemu dengan Kahfi.
"Kak ... Kak Dzoki," panggil Cyeril lirih.
"Ya," jawab Dzoki sedikit gugup.
"Ekhemm ... udah dulu ya. Pak Kahfi datang. Gak enak kalau masih teleponan," ucap Cyeril pelan. Ia bingung harus bicara apa makanya beralasan seperti itu. Padahal Kahfi belum datang dan bahkan belum menampakkan batang hidungnya.
"Ya sudah biarkan saja. Kamu bilang kamu sudah menikah dan sedang hamil," titah Dzoki mengingatkan Cyeril agar jujur pada Kahfi.
"Iya Kak. Cyeril pasti bilang. Sekalian mau undang Pak Kahfi dan teman -teman kerja Cyeril dulu untuk datang ke rumah. Cyeril mau adain acara empat bulanan dan mengundang teman -teman biar pada tahu kalau Cyeril sudah menikah. Kak Dzoki keberatan?" tanya Cyeril pelan.
__ADS_1
"Gak keberatan sama sekali. Itu bagus. Kamu cari waktu yang tepaf buat bikin acara itu. Kakak mau hubungan kita di publikasikan dan tidak di tutupi lagi," titah Dzoki tegas.
"Iya Kak. Cyeril pasri cari waktu yang tepat secepatnya. Udah dulu ya Kak. Nanti Cyeril telepon lagi," ucap Cyeril cepat.
Pak Kahfi sudah terlihat dari kejauhan dan menatap ke arah Cyeril lekat. Cyeril menutup teleponnya dan berpura -pura tidak melihat Kahfi lalu menikmati makanan dan minuman yang ada di depannya.
"Hai Cyeril. Apa kabar?" sapa Kahfi dengan senyum lebar.
Kahfi senang bisa melihat Cyeril kembali. Kahfi kira, Cyeril mendatangi dirinya karena ingin bekerja lagi seperti dulu. Tapi ... Kahfi melihat cincin emas yang di pakai oleh Cyeril di jari manis tangan kanannya. Tatapannya berubah saat menatap Cyeril seolah meminta jawaban dati rasa ingin tahunya itu.
"Pak Kahfi? Kabar Cyeril baik. Bapak gimana kabarnya?" tanya Cyeril basa basi.
"Baik Ril," ucap Kahfi pelan.
Keduanya terdiam saling menatap satu sama lain. Kahfi mau bertanya juga agak ragu soal cincin yang tengah di pakai Cyeril. Cyeril pun juga bingung mau memulai dari mana bicara soal usaha yang akan di ajukan untuk bekerja sama dengan Kahfi.
"Pak ... Cyeril boleh titip produk gak?" tanya Cyeril pelan.
"Produk apa?" tanya Kahfi pelan.
"Kue Pak. Cyeril sekarang buka usaha kue di rumah. Rencananya mau ikut jualan di sini pake etalase gitu. Biar nanti ada yanag kerja. Kita bisa kolaborasi. Biar omset naik," ucap Cyeril menumpahka idenya pada Kahfi.
"Wah hebat sekali kamu, Ril. Gak nyangka sudah punya usaha saja baru beberapa bulan minta resign. Boleh saja, silahkan di pakai, di pojok sana. Kamu bisa pasang etalase dan di belakang bisa buat masaknya atau gak perlu?" tanya Kahfi pelan.
"Ekhemm ... Kalau kue kering memang sudah ready dari rumah dan tinggal distribusi saja. Rencananya memang mau ada kue basah yang di buat dadakan biar hangat," ucap Cyeril mantap.
"Boleh juga idenya. Bisa masuk itu. Saya setuju sama ide kamu, silahkan mau di laksanakan kapan," titah Kahfi.
"Nanti biar Kak Dzoki yang urus untuk urusan itu," ucap Cyeril pelan.
"Dzoki? Kak Dzoki? Dia teman kuliah kamu kan? Lelaki yang paling suka membully kamu? Pacarnya Tasya?" ucap Kahfi pelan.
"Pacarnya Bapak juga kan?" ucap Cyeril tertawa.
"Seneng banget kamu ketawanya. Saya sama Tasya sudah gak berhubungan lagi. Buat apa berhubungan dengan perempaun yang juga berhubungan dengan orang lain. Saya bertahan tapi sudah tidak bisa menahan. Lagi pula saya menckntai orang lain," ucap Kahfi menjelaskan sambil menatap Cyeril lekat dan tajam.
__ADS_1
Deg ....