
Malam ini Dzoki dan Cyeril bermalam di rimah sakit. Dzoki sebagai pengunjung untuk menemani Cyeril, istrinya sebagai pasien.
Cyeril sudah lebih baik kondisinya mungkin memang tadi siang ia shock dan cukup trauma dengan apa yang di lakukan Egi terhadap dirinya.
Dzoki sudah pulas di sofa ruangan VIP ruang rawat inap yang ditempati oleh Cyeril.
Setelah menyuapi Cyeril makan malam tadi, Dzoki pamit untuk istirahat sebentar. Tapi kenyataannya sudah tiga jam lelaki itu sangat nyenyak dan sama sekali tak bergerak tubuhnya.
Cyeril sudah mencerirakan semua yang terjadi siang tadi pada Dzoki atas desakan suaminya itu. Tapi, Cyeril meminta agar Dzoki memaafkan Egi dan Tasya sebagai otak kejadian buruk ini.
Cyeril hanya berpesan agar tetap berhati -hatk pada Tasya dan Egi. Bisa jadi, suatu hari nanti mereka akan merencanakan kejahatan yang lebih besar dan lebih dahsyat dari saat ini.
Soal Anton? Ya, Cyeril juga sudah ilfil dengan lelaki yang sudah lama menjadi teman itu. Kemarin siang Cyeril jelas dnegan mata kepala sendiri, Anton melongo ke arah kelas menatap Cyeril yang sedang berusaha meminta tolong dan berontak saat berada dalam dekapan Egi. Tapi, Anton hanya menatap Cyeril dan sama sekali tak peduli.
Jelas masih hangat dalam ingatannya saat Egi mencari kesempatan untuk mencium lehernya dan Tasya marah bukan kepalang.
Entah perbuatan gila apa yang ingin Egi lakukan di depan wanita yang tengah mengandung benihnya itu.
Seketika Taysa marah dan melempar air berwarna merah itu ke aeah Egi dan Cyeril. Saat air iti terlempar keluar Cyeril sempat terkena air tersebut di wajah dan bibirnya dan sedikit merembes masuk ke dalam mulutnya.
Obat yang tercampur dala miniman iru begitu keras karena saat beberapa tetes iru masum ke mulut Cyeril dan tertelan tanla sengaja. Obat penggugur itu langsung bereaksi keras. Perut Cyeril langsung terasa keram dan sakit. Untung saja dosis itu kecil jadj hanya sampai pada rasa sakit saja dan tidam lebih dari itu.
Egi langsung langsung menarik Tasya dan melepaskan Cyeril dengan kasar hingga Cyeril terjatuh terduduk di lantai.
Lalu Tasya mendalarkan tamparan keras dari Egi hingga kedua kakinya tak seimbang dan terpeleset di lantai akibat air yang tumpah tadi.
Tepat saat itu, Tasya memegang perutnya dan merintuh kesakitan. Semua langsung panik, Rosa dan Maya langsung membantu Tasya. Sedangkan Egi hanya menatap Tasya takjub dan bingung. Sampai akhirnya ia tersadar saat Tasya berteriak keras dan menangis meraung.
Egi langsung mengangkat Tasya dan membawa ke klinik terdekat. Rosa dan Maya juga ikut mengantar dan tak ada satu pun yang peduli pada Cyeril. Sampai Dzoki pun datang tepar waktu.
Cyeril tersenyum mengingatnya. Lelaki iru ternyata memang sangat mencibtainya sekarang. Buktinya ia khawatir dan yang pasti ia bisa merasakan apa yang sedang di rasakan pasangannya. Atau peka dengan yang sedang di alami pasangannya.
"Hemm ... Senyum -senyum sendiri. Ada apa ini? Kok, Kakak malah cemburu," ucap Dzoki yang tiba -yiba sudah berada di samping Cyeril dan kini duduk di tepi ranjang.
"Kak Dzoki," ucap Cyeril malu saat ia terlihat tersenyum dengan lamunannya.
__ADS_1
Tangan Cyeril langsung menggapai wajah mulus da tampan Dzoki san satu tangan lainnya mengusap pelan perutnya yang mulai membesar.
"Mau di usapin perutnya? Sakit kah?" tanya Dzoki pelan.
Cyeril menggelengkan kepalanya pelan. Perutnya memang tidak sakit tapi kalau di usap itu rasanya nyaman sekali.
"Perutnya gak sakit kok. Nyaman aja kalau di usap begini. Mau di usapin sama Papahnya. Anaknya lagi manja sama Papahnya," ucap Cyeril terkekeh.
"Ini yang manja anaknya atau Mamahnya sih," ucap Dzoki menggoda.
Perlahan ia membuka atasan Cyeril dan menampilkan perut Cyeril yang mulai membuncit di usap lembut lalu di kecup di beberapa bagian dengan penuh kasih sayang.
Cyeril memegang kepala Dzoki dan meremas rambut lelaki itu. Ia menahan geli dan nikmat di sekitar perut. Rasanya Cyeril benar -benar di cintai dan menjadi wanita yang paling berbahagia.
Dzoki mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Cyeril yang sedang tersenyum melihat kedekatan anak dan papah ya.
Memang anak mereka masih dalam proses pembentukan. Tapi kasih sayang dan rasa cinta itu harus tetap di berikan walaupun anak iru masih di salam perut Mamahnya.
"Kak ..." panggil Cyeril lembut.
"Cyeril boleh bicara sesuatu?" tanya Cyeril lembut sekali.
Ia memang masih gugup bila harus bicara dan berhadapan dengan Dzoki. Kadang Cyeril merasa tidak percaya karena sikap Dzoki yang tiba -tiba saja berubah dalam waktu singkat. Aneh bin ajaib. Tapi memang itu kenyataannya.
"Bicaralah? Atau kamu sedang ingin sesuatu? Bilang saja gak apa -apa," ucap Dzoki menitah Cyeril untuk bilang apapun itu.
"Cyeril cuma mau bilang. Kalau Cyeril bahagia banget sekarang. Ada Kak Dzoki, ada bayi kita yang selalu sehat," ucap Cyeril lembut sambil mengusap rambut Dzoki.
Dzoki tersenyum lebar. Ia menutup kembali pakaian Cyeril untuk menutupi perut istrinya dan menutup kembali dengan selimut tipis.
Dzoki beringsut naik ke atas ranjang rumah sakit dan kini ikut berbaring menyamping menatap Cyeril.
"Sini Kak Dzoki peluk boleh meluk kan?" tanya Cyeril lembut.
"Boleh," jawab Cyeril lembut.
__ADS_1
Cyeril mengangguk kecil dan mendekatkan tubuhnya agar di peluk oleh Dzoki.
Satu tangan Dzoki menyangga kepala Cyeril agar iastrinya berada dalam dekapannya. Satu tangannya lagi mengusap lembut pipi Cyeril.
Di kecup kening Cyeril dan kedua pipi yang mulai gembil karena hormon ibu hamil yang semakin terlihat besar di beberapa bagian tubuh Cyeril membuat gemas Dzoki.
"Kamu masih ragu sama Kakak?" tanya Dzoki lekat pada kedua mata Cyeril.
"Enggak. Sama sekali gak ragu. Dari awal pun, Cyeril gak pernah ragu," ucap Cyeril lembut.
"Lalu? Kenapa kamu terlihat masih ragu? Apa kamu merasa takut?" tanya Dzoki kemudian.
"Takut? Takut apa?" tanya Cyeril pelan.
"Takut untuk apa saja," tanya Dzoki kemudian.
"Gak. Cyeril gak pernah takut. Dari awal menikah dengan Kak Dzoki pun Cyeril tak punya pikiran jelek. Cyeril hanya berjanji lada dir Cyeril untuk tetap mencintai suami Cyeril," ucap Cyeril lembut dan tersenyum.
"Kakak suka lihat kamu tersenyum seperti ini. Kakak akan selalu menjaga senyum kamu agar terus bisa Kakak lihat setiap hari," ucap Dzoki mulai merayu.
Wajah keduanya begitu dekat. Dari tatapannya, mereka saling memuji dan mendamba satu sama lain. Tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali di balas rasa cinta dan kasih sayangnya bukan hanya bentuk penghargaan saja tapi juga ketulusan yang terungkap secara ikhlas.
Deru napas mereka berhembus pelan da terasa hangat hingga tangan Dzoki berpindah memegang pinggang Cyeril dan mengeratkan dekapannya lalu mencium bibir mungil Cyeril dengan lembut.
Lama -lama berciuman bibjr dengan Cyeril menjadu candu dan menjadi suatu keharusan serta wajib di lakukan setiap hari.
Kedua mata Cyeril muali terpejam dan muali hanyut dalam ciuman itu hingga decitan suara dari kedua bibir iru terdengar dan mereka masih tetap melanjutkan ciuman mesra itu.
"Kakak sayang kamu, Ril," ucap Dzoki di sela -sela ciumannya
Dzoki pun melanjutkan ciumannya kembali. Mungkin kalau bukan di rumah sakit ia sudah langsung menjenguk anaknya yang berada di perut Cyeril tanpa aba -aba.
Ucapan yang membuat Cyeril tersenyum dan bahagia di dalam hatinya.
Dekapan Dzoki makin erat dan makin dalan memeluk Cyeril sebagai bentuk rasa sayang san takut kehilangan gaida tang telah menjadi istrinya itu.
__ADS_1