
Siang itu, Cyeril sudah menunggu kedatangan Dzoki, suaminya dan Mira. Ia sengaja menyiapkan makan siang di meja makan dengan porsi besar.
"Masak banyak? Mau ada acara?" tanya Bunda Nur yang melihat semua makanan enak sudah tersaji rapi di meja makan.
Cyeril masih membuat sup buah di dalam wadah kaca yang besar.
"Bunda ... Ayo makan duluan. Cicipin enak apa enggak. Ini lho, teman satu kelompok Kak Dzoki mau main kesini. Tadi malem minta di masakin yang enak buat jamuan makan siang sama cemilan gitu larena mau buat program kerja KKN," ucap Cyeril tenanf sekali. Padahal hatinya sedang tidak baik -baik saja. Ia tahu, Mira teman satu kelompok Dzoki itu pasti ada rasa pada Dzoki. Feeling seorang istri itu tidak pernah meleset kalau pun memang meleset paling hanya sepersekian saja dan sama sekali tidak mengurangi apa yang sesungguhnya terjadi.
"Ohh ... Jadi pada mau main kesini? Memang teman satu kelompok Dzoki ada berapa?" tanya Bunda Nur pada Cyeril.
"Ekhemmm ... Sepuluh orang Bun. Tapi, kurang tahu juga yang mau datang berapa orang. Takutnya ada yang berhalangan hadir," ucap Cyeril pelan dan melanjutkan membuat sup buah segar yang manis sekali dan di letakkan di meja yang berbeda.
"Bunda mau cicipin sup buahnya aja dulu. Kayaknya seger," ucap Bunda Nur.
"Iya Bun. Biar Cyeril ambilkan," jawab Cyeril penuh senyum.
Cyeril mengambil mangkuk untuk di isi sup buah yang akan di berikan kepada Bunda Nur, ibu mertuanya.
Skip ...
Acara koching siang itu sudah selesai. Satu kelompok Dzoki memang di undang makan siang bersama oleh Dzoki di runahnya. Dzoki hanya tidak ingin Cyeril dan kedua orang tuanya salah paham. Selain itu Dzoki juga ingin Mira tahu kalau mereka berdua hanya sebatas teman KKN dan satu kepengurusan saja, tidak lebih.
"Kita jadi ke rumah kamu kan, Ki?" tanya Mira pelan sambil membereskan semua berkas -berkas untuk pembuatan laporan kerja.
"Jadi. Semuanya juga mau ke rumah kan? Kita bersantai di rumah saja. Kebetulan istriku sudah memasak untuk makan siang kita," ucap Dzoki penuh semangat.
Setidaknya kesembilan teman barunya itu bisa mengenal Dzoki baik di luar kampus dan di area kampus. Dzoki tidak ingin di katakan sebagai lelaki yang tidak baik. Selama ini ia bilang kalau sudah menikah dan hari ini ia akan tunjukkan Cyeril yang sedang mengandung adalah istri SAHnya.
__ADS_1
Mira langsung terdiam. Ia hanya ingin berdua saja dengan Dzoki bukan bersama dengan teman lainnya.
Skip ...
Dzoki dan beberapa temannya sudah sampai di rumah besar dan mewah Dzoki.
"Ayo masuk semua. Anggap saja di runah sendiri," titah Dzoki dengan suara lantang.
Pintu depan rumah sudah terbuka lebar. Acara open house untuk menyambut teman -teman Dzoki pun sudah di persiapkan dengan baik oleh Cyeril sendiri.
Kebetulan Bunda Nur ada acara arisan di kantor Ayah dari satu jam yang lalu setelah mencicipin sup buah manis dan segar buatan Cyeril.
"Cyeril ... Sayang ... Ini teman -temanku sudah datang," panggil Dzoki penuh semangat.
Dzoki sama sekali tidak malu ingin memperkenalkan Cyeril. Karena istrinya itu adalah istri yang hebat.
"Iya Kak ...." jawab Cyeril dengan suara keras dari lantai atas.
Semua orang berdecak kagum melihat Cyeril yang terus tersenyum menyapa semua teman -teman Dzoki yang menatapnya tanpa berkedip. Apalagi senua teman -teman kaum adamnya.
"Heh ... Bini gue itu!! Jangan ngeliatin giti dari pada gue bogem nanti loe pada," ucap Dzoki berpura -pura marah. Dzokinmalah senang jika Cyeril di kagumi banyak orang, itu tandanya Cyeril memiliki pesona lain.
"Cantik banget. Nemu dimana bidadari kayak gitu. Masih ada gak sih yang begini," tanya Rio pelan.
"Gak ada. Cuma satu doang. Cuma dia doang dan udah jadi milik gue. Awas ada yang deketin. Makanya gue gak pernah kenalin ke siapa pun biar gak ada yang lihat senyum manisnya," ucap Dzoki merasa menjadi lelaki yang paling beruntung.
Mira hanya menatap Cyeril dengan perasaan iri. Ia tidak tahu kalau semua ucapan Dzoki itu benar dan Cyeril, istrinya adalah wanita cantik yang membuat Mira cemburu.
__ADS_1
Cyeril menghampiri suaminya dan emncium punggung tangan suaminya sebagai tanda hormat seeprti biasa. Lalu memeluk lelaki itu wajar membuat semua orang mati kutu melihat betapa bucinnya sang ketua kelompoknya.
Dzoki pun memeluk istrinya dengan mesra dan mencium kening Cyeril dan mengusap pelan perut buncit itu dan mengecup lembut. Itu hal biasa yang sudah sering di lakukan oleh Dzoki setiap hari.
Tapi ... Bagi teman -temannya ini adalah pemandangan baru yang membuat hati mereka semakin iri dengan pasangan ini. Dzoki terlihat garang di luar tapi lembut sekali di depan istrinya.
"Ekhemm ... Yuk kita makan dulu. Mumpung masih hangat. Makanan sudah ada di meja makan. Kalian bisa makan do gazebo atau di ruang tengah. Silahkan," ucap Cyeril pelan. Ia melepaskan pelukan di tubuh Dzoki dan mengajak beberapa teman wanita Dzoki ke belakang terlebih dahulu.
"Kita belum kenalan. Namaku Cyeril, seharusnya aku juga KKN semester ini. Tapi karena usia landunganku sudah menginjak enam bulan. Rasanya sulit untuk bergerak bebas nantinya. Malahan menyusahkan orang," ucap Cyeril lembut dan memberikan satu per satu piring kepada kelima kawan Dzoki.
Cyeril hanya ingin memastikan, perempuan yang bernama Mira adalah perempuan yanh berdiri paling belakang.
"Aku Ratna,"
"Aku Mawar,"
"Aku Sari,"
"Aku Lily,"
"Kamu Mira?" tebak Cyeril dengan senyum lebar.
"Iya dia Mira, sayang. Sekertaris yang aku ceritakan tadi malam," ucap Dzoki pelan sambil memeluk Cyeril dari arah belakang dan menaruh dagunua di bahu Cyeril.
"Ohhh ... Teman wanita yang minta di temani makan malam dan pulang ke kost?" tanya Cyeril dengan suara pelan namun terdengar menyindir hingga keemlat teman wanita lainnya menatap Mira dengan wajah tak suka.
Begitu juga keempat teman laki -laki satu anggotanya pun menatap Mira dengan tatapan aneh. Mereka secara tidak langsung menganggap Mira sebagai perusak hubungan antara Dzoki dan Cyeril.
__ADS_1
"Jangan merusak suasana makan siang, sayang. Ayok semuanya di makan. Ini Cyeril yang masak. Dia adalah istri terbaik untuk aku. Aku beruntung memiliki dia," ucap Dzoki terus memuji dan mencium pipi Cyeril secara spontan.
Mira hanya mengepalkan tangannya erat. Rasanya kesal sekali melihat kebucinan dua anak manusia yang berhasil membuatnya cemburu.