
Dzoki pulang agak larut malam. Ia membawa lima pasang kelinci lengkap dengan kandang untuk hewan lucu menggemaskan itu.
Hampir tiga jam Dzoki dan Mira berada di pameran hewan lucu. Mira memang sengaja memperlama dan sibuk memilih dan mencari hal yang sebenarnya tidak penting. Seperti kalung nama untuk kelinci sebagai tanda agar tidak salah menyebut nama atau gelang kaki untuk kelinci agar saat berlari akan terdengar ramai bergemerincing bebunyian dari rantai dan logam yang saling bersinggungan satu sama lain.
Akhirnya setelah lelah dan memilih beberapa pasang kelinci. Mira juga mengusulkan agar Dzoki juga membeli lima pasang yang sementara di rawat di rumahnya. Saat KKN tiba, kelinci itu di bawa dan di pindahkan ke pemilik baru yang mau mengurus dan merawatnya di desa Sumber.
Tidak hanya itu saja. Mira mengeluh akit perut dan perih di bagian lambung karena terlambat makan. Ia meminta Dzoki untuk menemaninya makan malam. Mira hanya meminta sedikit waktu agar mereka bersama. Mungkin kalau bisa ia bisa mendapatkan hati Dzoki. Itu juga bisa kalau masih bisa berharap. Tapi rasanya sulit sekali. Dzoki selalu memuji Cyeril, istri mungilnya hingga Mira penasaran seperti apa istri Dzoki itu.
"Besok aku ke rumah kamu ya, Ki," pinta Mira saat mereka sedang makan bersama di sebuah warung tenda kaki lima. Keduanya duduk lesehan sambil menikmati malam dan makanan yang telah mereka pesan.
Dzoki menatap Mira saat mengunyah makanannya.
"Untuk apa? Aku tidak pernah membawa teman -temanku main ke rumah sejak menikah. Karena aku mulai tidak nyaman jika ada teman yang datang ke rumah
Aku merasa privasiku terganggu," ucap Dzoki menjelaskan.
"Aku hanya ingin melihat kelinci -kelinci kita," ucap Mira dengan mata berbinar.
"Kelinci kita?" tanya Dzoki mulai merasa aneh dengan maksud Mira yang terasa janggal makin kesini.
"Ya. Ini kan program kita berdua. Peternakan kelinci," ucap Mira berusaha meyakinkan Dzoki dan meralat ucapannya tadi agar tidak slaah paham dan tidak di ketahui maksud terselubungnya.
"Oh ... Ya program kita berdua. Ekhemmm tapi gak apa -apa. Datang saja ke rumah. Kebetulan ada Cyeril juga, nantinaku kenalkan istriku yang cantik padamu. Dia baik, lembut, ramah dan keibuan," ucap Dzoki kembali memuji Cyeril.
Mira mengangguk senang. Ia berhasil memasuki rumah Dzoki dan itu tandanya ia dengan mudahnya bisa mengetahui kelemahan hubungan Dzoki dan Cyeril. Hubungan percintaan berakhir dalam suatu ikatan yang SAH menjadi suami istri dalam usia muda, biasanya tidaknakan langgeng dan tidak bertahan lama.
"Kakak pulang ....." ucap Dzoki pelan saat memasuki kamar utama mereka.
Dzoki tersenyum lebar melihat istrinya sedang mencari kesibukan
Dzoki baru saja datang dan meletakkan kandang serta lima pasang kelinci di taman belakang. Dzoki meminta tolong pada tukang kebun rumah untuk membereskan kandang buatan itu dan persiapkan untuk temlat pembuangan kotoran kelinci dan temlat khusus untuk makanan kelinci. Agak merepotkan memang, tapi mau gimana lagi. Semuanya Dzoki lakukan demi mensukseskan program kerja KKN di desa Sumber bulan depan.
"Kak Dzoki?" jawab Cyeril lembut lalu bangkit berdiri sambil menyambut kedatangan suaminya.
Seperti biasa, Cyeril selalu tersenyum lebar dan mencium punggung tangan suaminya denagn sopan.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?" tanya Dzoki menatap laptopnya yang terbuka dan menyala.
"Ekhemm ... Cyeril pinjam laptopnya buat promosi kue -kue Cyeril. Maaf gak bilang dulu tadi mau pakai laptop Kak Dzoki. Tapi ... Cyeril gak buka -buka kok. Cuma buka e -commerce toko online aja," ucap Cyeril mencoba meyakinkan Dzoki dengan kejujurannya.
Dzoki memeluk Cyeril dan mengecup pucuk kepala istri kecilnya itu.
"Gak perlu inin juga. Kamu pakai saja, Sayang. Mau di buka - buka pun tak apa. Kak Dzoki sama sekali tak merahasiakan apapun dari kamu. Kalau pun ada sesuatu yang janggal, kamu boleh tanya sama Kakak. Tak hanya itu saja, kamu bisa atau komplain dan menghapusnya sesuak hatimu," titah Dzoki berpesan.
"Iya. Kak Dzoki mau kopi?" tanya Cyeril sambil menyimpan tas kuliah Dzoki di atas meja belajarnya.
"Kakak mau perlihatkan sesuatu yang lucu dan menggemaskan," ucap Dzoki berbisik membuat Cyeril penasaran dan menoleh lada suaminya.
"Apa itu? Lucu dan menggemaskan? Benda mati? Atau hidup?" tanya Cyeril semangat.
"Makhluk hidup," ucap Dzoki sambil menggandeng tangan Cyeril dan membawa istri kecilnya turun ke bawah menuju taman belakang.
"Apa? Ih penasaran. Kucing ya? Anggora?" tanya Cyeril pelan.
"Ada lah. Lihat saja," ucap Dzoki tertawa.
Keduanya sudah sampai di lantai di bawah dan berjalan menuju taman belakang.
"Awas hati -hati sayang. Jangan lari -lari, nanti perutmu jatuh," ucap Dzoki sedikt panik melihat perut Cyeril yang mukai membesar dan terlihat bulat utuh.
"Mana ada perut jatuh? Kalau Cyeril yang jatuh karena kesandung iya. Kalau perutnya aja lepas dari tubuh Cyeril kan gak mungkin," jawab Cyeril terkekeh.
Ia melepaskan genggaman erat tangan Dzoki dan berjalan pelan menuju kelinci yang sedang berlari -larian kesana kemari beradaptasi dengan tempat barunya.
"Kamu suka?" tanya Dzoki pelan
"Suka banget. Ini lucu. Ada berapa? Satu, dua, tiga, empat ... sepuluh. Hah sepuluh? Banyak sekali," ucap Cyeril takjub. Ia berpikir untuk apa suaminya membeli kelinci sebanyak itu.
"Itu tandanya Kakak ingin punya anak sebanyak itu dengan kamu," bisik Dzoki terkekeh.
Bugh ...
__ADS_1
Cyeril memukul lengan Dzoki keras.
"Suka gitu. Emang punya anak banyak gak capek?" ucap Cyeril kesal.
"Bikinnya kan emang enak," goda Dzoki tertawa.
"Hemm ... Buatnya memang enak. Ini hamilnya capek, sayang. Belum lagi urus bayi besar dan bayi kecil," ucap Cyeril smabil mengerucutkan bibirnya.
"Bayi besar dan bayi kecil?" tanya Dzoki pelan. Ia bingung dengan ucapan Cyeril barusan.
"Bayi kecilnya ini yang masih di perut. Bayi besarnya Kak Dzoki," tawa Cyeril renyah sekali.
Cyeril langsung berjongkok dan mengambil satu kelinci yang berukuran kecil. Bulunya bersih berwarna putih mulus tanpa ada noda sedikit pun.
Kelinci itu dalam gendongan Cyeril sekarang. Di usap bulu -bulunya yang lembut dengan pelan.
"Kasih nama," titah Dzoki pelan.
"Siapa namanya? Kira -kira yang lucu," tanya Cyeril pelan.
"White ...."
"Salju ...."
"Awan ...."
"Si Putih ...."
"Semuanya bagus. Pilihan kamu pun pasti bagus," ucap Dzoki ikut mengusap pelan bulu -bulu halus kelinci dalam gendongan Cyeril.
"Si Putih aja lah," jawab Cyeril memilih nama terbaik yang cocok untuk kelincinya.
"Hai putih ...." sapa Dzoki pelan.
"Diem aja. Takut dia sama Kak Dzoki," ucap Cyeril tertawa.
__ADS_1
"Mana ada takut. Memang Kak Dzoki setan apa di takuti?" tanya Dzoki pura -pura tak terima dengan ucapan Cyeril barusan.
Ia tak mau kalah juga mengambil satu kelinci berwarna abu -abu. Bqru juga di angakt dan mau di gendong. Kelinci itu langsing melompat dari gendongan Dzoki dan pemandangan itu membuat Cyeril tertawa keras.