
Cyeril menoleh ke arah Dzoki dan mengangguk kecil.
"Sudah lebih baik Kak. Terima kasih sudah perhatian sama Cyeril," ucap Cyeril pelan.
Dzoki hanya mengangguk kecil dan keluar lagi dari ruangan itu.
Rasanya kok aneh sekali saat melihat Cyeril. Baru juga keluar dari ruang IGD. Cyeril langsung di pindahkan ke ruang rawat inap kelas VIP.
Ranjang beroda itu sudah di doromg oleh dua perawat yang mengantarkan Cyeril ke kamar VIP.
"Dzoki ... kamu gimana sih? Cyerul itu istri kamu!! Bukan malah Bunda yang harus mengurusnya," ucap Bunda Nur tegas.
Dzoki hanya bisa menaruk napas panjang. Hidupnya jadi rumit begini. Belum lagi ia merasa terkekang saat ini. Tidak bisa pulang malam, main sama genk -nya dan tidak bisa terlalu sering ikut balapan liar.
"Ya Bun." jawab Dzoki pasrah.
Dzoki berjalan cepat mengikuti arah ranjang beroda itu sambil menatap Cyeril. Kasihan juga lihat gadis itu.
Sesampai di ruangan rawat inap kelas VIP. Bunda Nur langsung membantu Cyeril. Dzoki hanya diam menatap apa yang di lakukan Bundanya kepada Cyeril.
"Kenapa Bun," tanya Dzoki pelan. Ia sama sekali tak punya pengalaman apapun kecuali pengalaman balapan liar.
__ADS_1
"Biar Cyeril nyaman. Tempat tidur ini bisa di atur bagian punggungnya. Biar gak terlalu tegak atau jangan terlalu rebahan juga bikin sakit kepala," ucap Bunda Nur.
Dzoki mengangguk. Nakas di samping Cyeril masih kosong. Cyeril hanya diam saja dan tidak berani meminta apapun.
Sejak pagi perutnya kosong belum terisi makanan hingga suara perut Cyeril berontak dan mengeluarkan suara andalannya.
Kruyukkk ... kruyuk ...
Cyeril hanya menatap malu ke arah Bunda Nur. Bunda Nur juga menatap Cyeril lqlu tertawa.
"Kamu lapar Cyeril?" tanya Bunda.
"Iya Bun," jawab Cyeril malu.
"Iya Bun," kawab Dzoki pelan.
Dzoki sedang mencoba beradaptasi menerima Cyeril dalam kehidupannya. Setidaknya ia bisa menghargai Cyeril yang sedang mengandung walaupun belum busa mencintai Cyeril selayaknya sebagai istri sesuangguhnya. Semuanya butuh waktu dan proses.
Dzoki berjalan di sepanjang koridor sambil melamun dalam pikirannya.
"Ehh ... Itu Egi dan Tasya. Mau kemana mereka?" batin Dzoki di dalam hati.
__ADS_1
Dzoki berniat mengikuti Egi dan Tasya. Akhir -akhir ini, Egi memang tampak sangat aneh sekali.
Keduanya tak tahi bila Dzoki mengikuti dari belakang dan mereka terhenti pada satu ruangan. Lalu menunggu di sana. Tertulis Poli kandungan dan Obgyn.
"Ini ruang periksa kandungan. Ada apa?" bisiknya dalam hati Dzoki.
Sayup -sayup, Dzoki mendengar suara keduanya sedang berbincang. Nampaknya Tasya sedang marah pada Egi.
"Kamu itu jadi laki -laki mau enaknya saja!! Aku itu hamil, masih saja harus menjalankan misi gila kamu, Gi," ucap Tasya sewot.
"Ya ... Kamu mau aku nikahin gak? Kalau gak mau ya sudah gak apa -apa," ucap Egi santai tertawa.
"Tapi ini anak kamu, Egi!!" teriak Tasya keras.
"Ya terus? Kamu mau apa? Kalau kamu gak nurut sama aku!! Untuk apa juga aku tanggung jawab sama kamu!! Toh, kamu juga suah tidur sama Kahfi, Dzoki!!" sentil Egi.
"Gila kamu ya!! Dzoki gak ada nyentuh gue!! Dia gue kasih obat tidur!!" ucap Tasya kesal. Itu juga suruhan Egi.
"Ya sudah nikah lah sama Dzoki. Bilang kamu hamil. Habisi uangnya, lalu cerai. Kita nikah," jawab Egi dengan entengnya.
Deg!!
__ADS_1
"Brengsek!!" umpat Dzoki kesal.
Jadi selama ini, mereka hanya ingin menghabiskan uang Dzoki aja. Apa sebenarnya misi mereka?