
Entah sudah hari ke berapa Dzoki tidak ada di rumah untuk KKN. Kegiatan Cyeril hanya membersihkan kamar pribadinya, bermain dengan si putih dan si hitam lalu membuat kue untuk pesanan atau di jual oleh Bunda Nur di komunitasnya.
Bunda Nur juga beberapa kali mengajak Cyeril ikut arisan atau sekedar nongkrong di mall untuk minum kopi sambil menawarkan kue kering buatan Cyeril.
Pesanan bulan ini cukup banyak dan Cyetil selalu berinovasi dan berkreasi sendiri dengan pembuatan kue kering rasa baru dan bentuk yang lebih unik agar konsumen semakin tertarik dan suka, pada akhirnya ia membeli.
Pagi ini, rasanya malas sekali untuk bangun tidur. Cyeril masih ingin rebahan di tempat tidur. Pinggangnya beberapa hari ini terasa sakit. Usia kandungannya sudah menginjak enam bulan, berarti tiga bulan lagi bayi itu akan lahir.
Bunda Nur tak pernah memaksa Cyeril. Menantu kesayangannya itu selalu di bebaskan melakukan apa saja di rumah besar dan mewah itu. Paling kalau tidak turun sampai siang, asisten rumah tangga akan di utus Bunda Nur mengirimkan sarapan dan susu hamil untuk Cyeril, sekaligus mencari tahu kondisi Cyeril. Takutnya memang terjadi sesuatu.
Tadi malam, Cyeril kelelahan berkomunikasi melalui sambungan telepon dan video bersama Dzoki. Dari Dzoki selesai makan malam jam delapan malam sampai jam dua pagi. Dzoki masih setia menunjukkan wajah lelahnya di depan kamera. Cyeril sendiri meletakkan ponsel di sandarkan pada guling dan berbicara tanpa menggunakan earphone.
Waktu selama itu mereka gunakan untuk melepas rindu dan bercanda mesra ala pasangan suami istri pada umumnya. Mereka berdua bercerita tentang satu hari yang mereka alami.
Pagi ini Cyeril sulit untuk bangun. Pinggang dan punggungnya masih terasa pegal. Belum lagi perutnya sejak pagi tersu bergerak -gerak memutar dan beberapa tendangan kuat terasa dari dalam ke arah luar kulit tebal perut Cyeril.
Tok ... tok ... tok ...
"Ril ... Cyeril ....: panggil Bunda Nur lembut dari arah luar kamar sambil mengetuk pintu kamar tidur Cyeril.
"Ya Bun ... Masuk saja," jawab Cyeril lembut.
Ceklek ...
"Wah ... Masih tidur? Kamu sakit? Atau kenapa? Kok lemes gitu?" tanya Bunda Nur yang membukakan hordeng jendela agar simar matahari masuk ke dalam.
"Cape Bun. Gak apa -apa kan kalau Cyeril bangun siang. Semalaman Kak Dzoki video call samapi pagi. Jadi sekarang masih ngantuk. Ini kebangun karena tendangan keras si utun. Minta sarapan kali ya," ucap Cyeril sambil terkekeh.
Bunda Nur mendekati Cyeril dan duduk di tepi ranjang dan mengusap perut besar Cyeril. Perut itu bulat seperti semangka. Di usapnya perlahan dengan gerakan memutar.
"Kalau lelah ya tiduran saja. Kamu nikmati saja masa hamil kamu ini. Lagi pula gak ada Dzoki. Kamu bebas mau ngapain aja. Asal tidak pergi sendirian, Bunda gak akan ijinkan. Terus kalau ada pesanan kue ya, mau gak mau kamu harus buat. Itu kan tanggung jawab kamu. Keinginan kamu," " titah Bubda Nur menasehati.
__ADS_1
"Iya Bunda. Pasti. Makasih Bunda," jawab Cyeril pelan.
***
Hari sudah semakin siang. Cyeril baru saja selesai mandi dan turun ke bawah. Rymah itu memang sepi. Rumah besar tanpa celotehan anak kecil. Makanya Bunda Nur senag dan sayang pada calon cucunya.
Langkah Cyeril pelan menuju dapur. Ia akan membuat susu dan roti lalu duduk di taman samping sambil melihat kelucuan si putih dan si hitam. Biasanya asisten rumah tangganya sudah memberi kedua peliharaan Cueril makanan pagi -pagi sekali.
"Sudah bangun? Lagi buat susu?" tanya Bunda Nur pelan.
"Iya Bun. Pengen minum susu saja sama makan roti sambil lihat si putih," jawab Cyeril sopan.
"Iya sudah. Bunda mau belanja. Kamu mau ikut?" tanya Bunda Nur pada Cyeril.
"Kapan Bun? Sekarang?" tanya Cyeril pelan.
"Siangan aja lah. Bunda juga masih malas pergi," ucap Bunda Nur menjelaskan.
Prank ...
"Ril ... Awas ...." teriak Bunda Nur malah histeris sendiri.
Bunda Nur menarik Cyeril ke ruang tengah dan menyuruh asisten rumah tangganya membersihkan dan membuatkan susu hamil yang baru untuk Cyeril dan setangkup roti isi selai cokelat kesukaan Cyeril.
Cyeril masih takjub dengan kejadua baru saja. Seperti ada tang aneh. Firasat apa ini.
"Bun ... Ada apa ya? Kok perasaan Cyeril gak enak," ungkap Cyeril yang tiba -tiba merasa kacau sekali. Dadanya terus bergemuruh dan jantungnya berdegup keras.
Bahu dan punggung Cyeril di usap pelan agar Cyeril tenang.
"Gak apa -apa. Kamu tadi lagi gak fokus saja," ucap Bunda Nur mencoba membuat Cyeril agar melupakan sejenak apa yang terjadi baru saja.
__ADS_1
"Cyeril fokus kan Bun. Bahkan Bunda ajak bicara Cyeril, Cyeril bisa jawab dengan baik. Itu hanya mengaduk saja, tidak kencang pula. Kenapa bisa pecah? Gelas iru tebal dindingnya. Dan sudah biasa di pakai untuk membuat susu Cyeril dan aman saja," ucap Cyeril masih terus meracau tak jelas. Rasanya Cyeril masih bermimpi dengan apa yang baru saja di alaminya.
Tal lama asisten rumah tangga itu masuk ke runag tengah debgan membawa satu gelas baru berisi susu hamil Cyeril dan piring berisi satu tangkup toti yang sudah di potong kecil -kecil.
Cyeril melihat susu dan roti seperti sudah tak minat lagi untuk menikmatinya. Pikirannya malah tertuju pada Dzoki saat ini. Ada apa dengan lelaki kesayangannya itu?
***
Tubuh Mira mengejang hebat. Suhu tubuhnya panas. Semua teman KKN -nya panik. Mira di bawa ke Puskesmas terdekat.
Sudah tiga minggu mereka melaksanakan KKN. Semuanya baik -baik saja. Baru kali ini ada yang sakit dan terlihat aneh.
"Bagaimana doktet dengan teman saya?" tanya Dzoki pada dokter itu. Dzoki tak sendiri ada Lily dan Sari yanv juga membantu. Waaluoun mereka tak suka dengan Mira biar bagaimana pun juga Mira adalah teman satu kelompoknya.
Dziki sendiri sudah menjauh dari Mira. Untuk urusan dengan Mira, Dzoki selalu menyuruh Made atau Ketut.
"Mira hamil," ucapan dokter itu membuat ketiganya menganga.
"Hamil? Tapi tubuhnya mengejang bukan mual -mual," ucap Dzoki pelan. Ia membandingkan saat Cyeril yang juga positif hamil. Kenapa beda perlakuannya.
"Efek samping ibu hamil beda -beda. Secara umum memnag mual dan muntah. Kalau Mira seperti ini, tandanya ia sudah mengetahui kalau hamil dan ia menolak dengan sengaja tidak makan dan minum minuman yang sebenarnya membahayakan bagi ibu hamil. Makanya tubuhnya mengejang dan panas," ucap dokter jaga itu menjelaskan.
"Berapa bulan dok?" tanya Sari ikut penasaran.
"Baru empat minggu," jawab dokter itu.
"Tolong rahasiakan soal ini. Kalau ketahuan tutor ada yang hamil, kami kena sanksi," pinta Dzoki pada dokter itu memohon.
Dzoki dan delalan orang temannya langsung mengadakan rapat. Ia meminta jujur pada temannya, siapa yang sudah menghamili Mira. Lebih baik jujur dari lada satu kelompok kita kena sanksi semua dan nilai kita berujung tidak keluar.
Semua diam, tidak ada yang menjawab dan tidak ada yang mengakui.
__ADS_1
Brak!!
"Siapa? Kalian ngaku aja. Saya tidak akan marah," tegas Dzoki mulai marah.