
"Dzoki!! Bunda tanya sama kamu. Benar kamu lakukan itu? Bunda gak pernah mengajarkan kamu melakukan hal itum Dzoki. Kamu sama saja sudah menghancurkan masa depan gadis itu. Siapa nama gadis itu?" tanya Bunda Nur tegas dan suaranya begitu lantang.
Bukan hanya kaget dan terkejut. Bunda Nur sama sekali seperti tersengat listrik atau terkena petir di siang bolong tanpa ada angin dan hujan.
"Namanya Cyeril Bun. Maafin Dzoki sudah bikin Bunda kecewa," ucap Dzoki lirih. Ia hanya bisa emnunduk dalam menatap kakinya yang menapaki lantai keramik yang begitu dingin.
"Cyeril? Nama yang bagus, pasti anaknya baik. Lebih baik dari Tasya. Bunda kurang suka sama Tasya, ada sesuatu hal yang ingin dia lakukan sama kamu, Dzoki. Tapi, Bunda pikir, kalian sudah ada hubungan, makanya Bunda gak ikut cmpur. Lagi pula, Kamu juga kayaknya berapi -api jika bersamaa dengan Tasya,' ucap Bunda Nur pelan.
"Dzoki memang lebih suka sama Tasya. Cyeril itu hanya ...." ucapan Dzoki di tahan sejenak.
Dzoki perlahan mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir dan sampai bisa terjadinya hal itu kepada Cyeril.
Bunda Nur menyimak dengan baik tanpa ada menyanggah. Barulah setelah Dzoki selesai bercerita. Bunda Nur mulai memberikan sanggahan.
"kasihan Cyeril. Pasti dia anak baik sekali. Kok, Bunda malah srek dnegan Cyeril, bisa kamu bawa kesini gadis itu. Bunda ingin kenalan?" pinta Bunda Nur pelan.
"Bisa. Tapi ... Dzoki belum suka sama Cyeril," jujur Dzoki pada Bunda Nur.
"Tubuhnya sudah kamu nikmati, Dzoki. Secara tidak langsung, kamu saar saat melakukan hubungan intim itu dengan Cyeril, sampai kamu tahu, dia masih perawan dan kamu lihat darah keperawanannya. Cinta itu soal bersama, bukan karena pandangan pertama. Terkadang panangan pertama itu menipu, setelah kamu mengenal dan mengetahui sikap dan sifat aslinya," ucap Bunda Nur menjelaskan.
"Arghhh Bunda malah bikin Dzoki dilema," ucap Dzoki kesal dan menggerutu.
"Bunda gak bikin kamu dilema. Bunda hanya ingin, kamu menjadi laki -laki yang bertanggung jawab, seperti ayah kamu. Kalau kamu berani berbuat, kamu juga harus berani menanggung resikonya yaitu menanggung hasil perbuatan kamu," ucap Bunda Nur mengingtakan.
Bunda Nur yakin, Dzoki bia mengambil keputusan dengan baik tanpa harus di paksa.
__ADS_1
"Terus? Dzoki harus nikahi Cyeril? Kan Dzoki belum tahu, Cyeril hamil atau tidak?" bela Dzoki pada dirinya sendiri.
"Hamil atau tidak itu urusan nanti. Itu anak gadis orang sudah kamu rusak masa depannya. Kamu harus nikahi dia, suka atau tidak suka," ucap Bunda Nur pean. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Sebenarnya Bunda Nur ingin Dzoki menjadi orang besar dan sukses dulu, bukan malah menikah di usia muda. Tapi, kalau kejadian begini, bukankah mau tidak mau memang harus di ambil sikap bijak dengan penuh tanggung jawab.
Dzoki menatap Bunda Nur dengan tatapan tak suka. Dirinya masih ingin bermain -main bukan malah menikah dan hidupnya terkekang dengan kata ikatan perkawinan. Kurang seru masa mudnya nanti.
"Nanti Dzoki bawa Cyeril kesini," ucap Dzoki pelan tanpa bisa membantah keinginan Bunda Nur.
Dzoki mengalah. Ia memang salah dan ia sudah mengakui semuanya. Sungguh sikap terpuji sekali.
Skip ...
Lima jam perjalanan di atas bis membuat Cyeril sedikit mual, karena sudah lama ia tak pulang ke kampungnya. Waktunya sellau habis untuk kuliah dan bekerja untuk mencari uang. Semau uang itu ia kirimkan untuk Ibunya yang sedang sakit, selain untuk berobat juga untuk biaya kehidupan sehari -hari.
Tepat di sore hari, Cyeril sudah sampai di rumah sakit, dimana Ibu Cyeril berada dan sedang di rawat dalam keadaan koma.
"Gimana keadaan Ibu Cyeril, dokter?" tanya Cyeril dengan suara yang terasa panik.
Dokter Fatih hanya menatap Ibu Cyeril dari arah luar ruangan melalui kaca besar yang menghubungkan antara bagian luar dan dalam.
"Kamu lihat saja sendiri, Ril. Kami di sini sudah berusaha semaksimal mungkin , bukan? Tapi, kondisi Ibumu semakin lemah. Tubuhnya harus di topang oleh banyak selang hanya untuk memastikan degub jantungnya masih berdetak. Tanpa alat bantu itu semua, mungkin semuanya sudah tak bisa di selamatkan," ucap dokter Fatih lirih menjelaskan kepadda Cyeril yang sudah terisak sejak tadi.
"Kamu yang sabar ya? Tapi, jika memang ada keajaiban, ibumu pasdti sembuh," ucap doketr Fatih memperjelas kondisi Ibu Cyeril yang sebenarnya.
Cyeril tak punya pilihan lain, selain menjual aset satu -satunya milik Ibu, yaitu rumah yang saat ini di tinggali oleh Ibu. Rumah itu terpksa di jual untuk biaya rumah sakit yang cukup menguras dompet. Semua alat bantu dan obat yang masuk ke dalam tubuh Ibu bukan obat biasa, semua obat itu sangatlah mahal.
__ADS_1
Kebetulan sekali, dokter Fatih mau membantunya dengan membeli rumah milik Ibu Cyeril dan Cyeril langsung membayar semua biaya itu. Maklum saja, ia tak lagi memiliki keluarga yang bisa di mintai tolong. Semua keluarga besarnya baik dari keluarga Bapak dan Ibu sama sekali tidak mau mengakui mereka sebagai saudara karena mereka hidup miskin.
"Kamu sudah makan, Cyeril?" tanya dokter Fatih yang sedang melewati ruang ICU. Dokter Fatih hanya menatap Cyeril yang sejak tadi diam menatap kaca besar di depannya.
Cyeril menatap ke arah dokter Fatih yang berdiri di depannya dan mengajaknya bicara.
"Ahh ... Apa dok?" tanya Cyeril kembali yang sama sekali tidak fokus tadi.
"Kamu sudah makan?" tanya dokter fatih denagn suara pelan mengulang pertanyaannya tadi.
Cyeril menggelengkan kepalanya pasrah. Perutnya memang perih sejak tadi belum tersentuh makanan sedikit pun.
"Belum," jawab Cyeril singkat.
"Kita makan yuk? Aku yang traktir," ajak dokter Fatih dengan suara pelan.
Cyeril menggelengkan kepalanya lagi.
"Gak dok. Cyeril mau menunggu Ibu di sini, Cyeril tidak mau menyesal meninggalkan Ibu hanya sedetik waktu pun," ucap Cyeril dnegan mata yang masih basah.
Dirinya merasa tak kuat lagi seperti ini. Tubuhnya juga lemas dan butuh asupan makanan.
"Lihat, tubuhmu sudah lemas dan wajahmu muali pucat. Kamu gak kasihan dengan kondisi tubuh kamu sendiri? Malahan nanti kamu ikut sakit dan tidak bisa menunggu Ibu," ucap dokter Fatih pelan mencoba merayu kembali Cyeril agar mau makan bersamanya dan melupakan sejenak permasalahan tentang penyakit Ibunya yang memang sudah kronis.
"Cyeril baik -baik saja kok. Dokter Fatih tidak perlu cemas soal kesehatan Cyeril," ucap Cyeril tgas.
__ADS_1
Dokter Fatih hanya bisa menarik napas dalam dan pergi meninggalkan Cyeril sendiri. Mungkin lebih baik, Cyeril di belikan makanan dan di makan di ruang tunggu agar ia tak merasa menyesal meninggalkan Ibunya yang sedang koma.