
Dzoki menghampiri Pak Supir. Wajahnya terlihat panik dan keringat bercucuran di sekitar dahi dan lehernya. Hawa panas dan terik tang menyorot membuat seluruh tubuh terasa gerah dan lengket.
"Ada apa Pak? Kok panik gitu?" tanya Dzoki pelan.
"Ekhemm ... Itu tuan ... Non Cyeril ... Non Cyeril ada di warung ..." ucap Pak Supir dengan suara takut dan panik.
Melihat wajah Pak Supir yang ketakutan, Dzoki pun ikut panik.
"Cyeril? Kenapa Cyeril?" tanya Dzoki dengan suara keras.
"Non Cyeril pingsan. Ada di warung," ucap Pak Supir itu terbata dan gugup.
Rasanya seperti sedang ingin mengungkapkan sesuatu. Mendengar sesuatu terjadi dari bibir Pak Supir tentang Cyeril, istri kecilnya, Dzoki pun langsung berlati ke arah luar lapangan luas itu menuju warung yang berada tak jauh dari lapangan itu.
Sesampai di sana. Dzoki tak menemukan Cyeril. Pak Supir pun terpana dan tak bisa menemukan istri dari majikannya.
"Mana Pak? Cyeril gak ada!!" ucap Dzoki panik.
"Tadi ada den. Sebentar ..." titah Pak Supir ke arah dalam warung untuk bertanya pada Ibu warung yang ia titipi Cyeril untuk menjaga dan menunggunya sebentar.
Pak Supir semakin takut dan semakin gugup. Rasanya ia sudah kesulitan untuk bernapas. Pak Supir langsung memanggil Ibu warung dan menanyakannya di depan Dzoki agar jelas.
"Maaf ... Tadi nona yang tak sadarkan diri di sini. Kemana? Bukankah saya minta tolong untuk di bantu di jaga sebentar karena saya sedang memanggil suaminya," ucap Pak Supir terbata dan ketakutan.
Pak Supir takut kalau Dzoki akan marah besar jika tak bisa menemukan Cyeril.
Ibu warung keluar dari dalam warung dan menatap ke arah Supir lalu ke arah Dzoki secara bergantian.
"Lho ... Tadi di bawa suaminya," ucap Ibu warung itu dengan suara lantang dan wajahnya polos tanpa dosa.
__ADS_1
"Saya suaminya!! Saya Dzoki, suami Cyeril," teriak Dzoki keras memperkenalkan diri.
"Benar. Ini suami dari nona tadi. Kan Ibu tahu, nona tadi bersama saya. Lalu saya panggil tuan muda saya dulu dan sekarang saya sudah memanggil dan membawa tuan muda saya untuk membawa istrinya ke dokter," ucap Pak Supir itu menjelaskan.
"Tapi, nona itu sudah di bawa oleh tiga lelaki yang mengaku suami dan saudaranya. Makanya saya persilahkan. Kalau saya tetap menahan terus saya di anggap ingin memiliki nona muda tadi. Terus saya di teriakin dan terus saya di penjara. Memang ada yang mau bantu saya!!" ucap Ibu warung itu dengan suara galak.
Ibu warung itu nampak kebingungan dan ikut panik. Ia juga tidak mau di salahkan soal ini. Tadi ada tiga orang yang mengaku suaminya dengan mobil berwarna hitam.
Dzoki geram dan marah. Ia memang tidak bisa menyalahkan ibu warung atau pak supirnya dalam hal ini.
Tarikan napas Dzoki sangat dalam sekali. Ia berusaha tenang dan berusaha tidak gugup.
Ia kemudian berlari ke arah panitia KKN. Ia meminta ijin untuk mencari istrinya yang baru saja hilang.
Saat itu agak sulit juga memberikan ijin untuk Dzoki. Pasalnya ada informasi satu anggotanya kabur dan mengadu pada panitia KKN.
"Kami tidak bisa memberikan ijin. Kamu dan kelompok kamu kena pelanggaran. Melalaikan dan mengabaikan satu anggta kamu," ucap Panitia KKn itu tegas.
"Ada ijin atau tidak. Saya sudah meminta ijin dan saya akan pergi. Saya gak peduli harus mengulang mata kuliah KKN ini. Saya lebih peduli keselamatan istri dan bayi saya!! Paham!!" teriak Dzoki lantang sambil meninju meja dengan keras.
Dzoki langsung pergi dari sana dengan penuh emosi dan kesal.
Dzoki langsung meminta kunci mobil pada Pak Supir dan langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
Sejak tadi, Dzoki di dalam mobil itu terus berpikir. Ia bingung harus mencari Cyetil kemana. Pikirannya tertuju pada keselamatan istri dan anaknya.
Siapa yang tega menculik Cyeril dan buah hatinya!!
Egi!! Atau Tasya!!
__ADS_1
Siapa pelakunya!!
Dzoki terus membatin dan terus mencari keberadaan Cyeril. Kepalanya lirik ke kanan dan lirik ke kiri. Siapa tahu ia menemukan sesuatu hal yang mengarah pada bukti. Ini jelas penculikan.
Akhirnya, Dzoki memutuskan untuk mendatangi kantor polisi dan melaporkan kehilangan istrinya di desa sumber.
Satu jam kemudian ...
Dzoki menerima salinan pelaporannya terkait melaporkan Cyeril yang tiba -tiba hilang. Menurut saksi mata, ada tiga orang lelaki yang dengan paksa membawa Cyeril dan mengatas namakan Dzoki, suaminya. Lalu membawa denagn mobil berwarna hitam yang sama sekali tak di ketahui nomor platnya.
Seusai melaporkan laporan kehikangan dan penculikan. Dzoki duduk diam di depan ruang tunggu kantor polisi. Hari ini rasanya penat dan melelahkan sekali. Dzoki ingin bertetiak dengan keras. Ia tidak berani memberitahukan soal ini pada Bunda Nur. Ia takut Bundanya cemas dan malah stres mendengar Cyeril hilang.
"Hei anak muda. Kamu yang baru saja laporan tentang hilangnya istri kamu?" tanya seorang polisi pada Dzoki.
Dzoki menoleh ke arah Polisi itu dan tersenyum kecut. Ia malas berdebat dengan polisi dan mengangguk kecil.
"Benar Pak. Apa sudah ada kabar?" tanya Dzoki basa -basi.
"Pengalaman saya sih, biasanya yang melakukan itu adalah orang terdekat atau musuh tersembunyi. Berpura -pura baik di depan dan ternyata ingin menjatuhkan secara perlahan. Kamu sadar? Kamu ingat? Mungkin ada orang yang kami sakiti? Menyakiti tidak perlu harus kasar dan melakukan kontak fisik. Terkadang sifat iri bisa membuat kita di benci oleh orang," ucap Polisi tua itu menasehati.
Dzoki terdiam. Nasihat ini adalah hal penting yang sangat perlu ia dengar. Awalnya Dzoki memang amu cuek. Tapi ternyata berbagi itu lebih membuatnya lehga dan pikirannya juga tenang dan bersih dalam berpikir.
"Apa selalu seperti itu grafiknya?" tanya Dzoki pelan.
"Ya ... Alurnya selalu sama. Kebencian, iri, dendam turun temurun dan merasa tersaingi. Hanya itu kesombongan seorang musuh yang tak mau berdamai dengan teman sendiri. Hatinya panas di penuhi bara api dari setan tak bertanggung jawab dan ingin terus membuat hatinya di penuhi rasa benci dan benci," ucap Polisi itu mulai menceritakan pengalamannya yang tersembunyi.
Dzoki terdiam lagi menatap lurus ke arah depan. Pikirannya selalu tertuju pada Egi dan Tasya. Hanya mereka berdua yang masih menyimpan dendam pada Dzoki.
"Bagaimana? Sudah ada? Satu nama orang yang kamu yakini, dialah pelakunya," tegas polisi itu. Polisi itu bangkit berdiir dan masuk ke dalam ruangannya kembali.
__ADS_1
'Bisa jadi Egi. Tapi aku gak boleh gegabah melakukan hal ini. Aku harus lebih berhati -hati,' batin Dzoki di dalam hatinya.