
Cyeril berjalan menuju kantin kampus dan mengantri pada salah satu toko di sana. Ia membeli minuman cola pesanan Dzoki dan susu kotak untuk dirinya sendiri aerta beberapa cemilan snack ringan.
Anton duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanan kopi seduh.
Ia menatap ke arah Cyeril yang terlihat agak gemukan dari belakang.
Cyeril sudah selesai membeli kebutuhannya. Ia berjalan menuju meja Anton sambil menyeruput susu kotaknya yang dingin. Rasanya segar sekali saat susu itu mengaliri tenggorokannya dan masuk ke dalam perutnya. Rasanya janinnya langsung ikut menikmati susu yang ia minum.
Tanpa sadar Cyeril mengusap pelan perutnya yang masih rata dengan lembut. Spontanitas ibu hamil yang bahagia dengan kehamilannya adalah mengusap pelan perutnya dengan gerakan memutar.
Anton pun tak lepas memandangi aktivitas tak biasa itu.
"Kamu masih lama? Aku duluan ya? Ini minuman titipan Kak Dzoki. Gak apa -apa kan aku tinggal," ucap Cyeril tak enak.
"Gak apa -apa. Santai aja. Ekhemm ... aku mau tanya sesuatu?" tanya Anton pelan penuh keraguan.
"Apa?" tanya Cyeril pelan. Tatapannya lembut dan tak terbersit di wajah Cyeril yang kesal atau marah.
"Jangan marah ya? Janji?" ucap Anton pelan metakinkan agar pertanyaannya nanti bisa di terima baik oleh Cyeril.
"Iya. Aku gak akan marah. Apa itu?" tanya Cyeril lembut dengan rasa penasaran.
Suasana di kantin itu begitu ramai sekali. Banyak anak mahasiswi dan mahasiswa yanga makan di sana setelah satu sesi mereka jalani tanpa sarapan pagi. Sekarang seperti sedang kalap memesan banyak makanan dan minuman sambil bercerita atau belajar untuk kuis dadakan dari dosen pengampu.
"Kamu sudah menikah, Ril," tanya Anton lirih dan menatap cincin yang melingkar di jari jemari Cyeril.
Tatapan Cyeril lekat pada dua bola mata penuh rasa kecewa itu. Jawabannya sudah pasti Cyeril akan mengangguk. Simbol cincin itu jelas memberitahukan statusnya pada banyak orang yang paham saja.
Anton masih berharap, kalau saja jawaban itu tidak. Dan cincin ini hanya pemanis semata atau pemberian ibunya yang sudah meninggal sebagai kenang -kenangan.
Cyeril menganggukkan kepalanya pelan, "Sudah Nton."
Jawaban itu membuat Anton tercekat. Ia tak menyangka temannya itu menyembunyikan kebahagiaannya tanpa berbagi padanya hingga sampai saat ini hatinya terus menunggu Cyeril sampai siap menerimanya.
Suara lembut Cyeril yang biasanya membuat dada Anton bergemuruh dan bergetar tapi kali ini suara itu bagai jarum kecil yang menusuk dada Anton. Tak hanya jarum saja, duri -duri tipis itu ikut menyiksa hatinya.
"Sakit!!" hanya kata itu yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini.
__ADS_1
Cyeril mengibaskan tangannya ke arah Anton yang masih terkejut dan termenung sampai hanyut dalam lamunan. Ia tak pernah menyangka akan jadi seperti ini.
"Nton!! Anton? Kamu gak apa -apa? Kenapa wajah kamu pucat begitu?" tanya Cyeril lembut.
Cyeril tak merasakan apapun. Dari awal lertemuan dan pertemanan mereka. Cyeril sudah mewanti -wanti agar Anton tak terjebak pada perasaannya sendiri.
"Ekhemm ... Aku gak apa -apa kok," jawab Anton pelan.
Anton langsung berdiri dan membatalkan pesanannya lalu pergi begitu saja meninggalkan Cyeril yang sejak tadi menunggunya.
Bisa di rasakan bukan? Rasa kecewanya Anton pada Cyeril. Saat Anton sudah menunggu, menjaga Cyeril dan mencintai gadis itu sampai siap menerimanya. Malah kini kabar menikah membuat hati Anton semakin kacau.
"Anton?" teriak Cyeril keras sambil ikut berjalan menuruni tangga kantin kampus mengejar Anton.
Baru saja tubuhnya berbalik dan ...
Bruk ...
Tubuh Cyeril menubruk tubuh kekar dan tegap di depannya. Aroma parfumnya ia kenal betul karena tak asing lagi.
Bungkusan plastik yang di bawa Cyeril terlepas dari genggamannya dan terlempar jauh dari tempat mereka berdiri.
Banyak orang memandang keduanya. Siapa yang tak kenal dengan Dzoki? Mahasiswa seemster enam, ganteng, gagah, tinggi, selalu bersih dan wangi, ketua genk motor dan keren.
Semua mata kaum hawa tak berkedip saat menatap Dzoki yang ada di tengah -tengah kantin itu.
"Lama? Ngapain aja!" ucap Dzoki ketus dengan suara lirih tepat di depan wajah Cyeril.
"Antri Kak," jawab Cyeril sekenanya dan membela diri.
"Apa? Antri? Setengah jam lebih loe ijin ke kantin dan bilang antri? Malahan gue lihat loe dari ujung situ dari tadi. Gak lagi antri? Malah asyik ngobrol sama cowok lain? Gitu? Hem? Masih mau berkilah? Bela diri? Atau masih punya alasan lain?" tanya Dzoki sinis.
Cyeril menggelengkan kepalanya pelan.
"Emang antri. Tadi aku ngabisin susu dulu. Ini kotak kosong susunya belum aku buang," jawab Cyeril jujur.
"Mana pesanan gue," tanya Dzoki kasar.
__ADS_1
Cyeril langsung mencari bungkusan plastik yang terlempar dan memungutnya. Ia memberikan satu kaleng cola pesanan Dzoki.
"Ini kak," jawab Cyeril pelan
Baru menerima kaleng minuman bersoda ringan itu, Tasya datang menghampiri Dzoki. Keduanya sudah akur kembali. Usut punya usut, Tasya merayu Dzoki kembali dan mengajaknya mid night waktu itu.
"Sayang ...." panggil. Tasya pelan sambil memeluk tubuh Dzoki dari belakang hingga tangan Tasya melingkar ke arah perut depan Dzoki.
Kepala Tasya menyembul dari sela -sela bawah ketiak Dzoki yang sedang membuka kaleng berisi cola itu. Ia meneguk pelan hingga setengah kaleng itu habis.
"Hei ... Dari mana saja cantik," ucap Dzoki lemubut menatap Tasya.
Tasya langsung berdiri manja di smaping Dzoki lalu mengecup pipi sang kekasih.
Kekasih? Ya, anggap saja begitu. Dzoki memang menyukai Tasya. Banyak orang yang mengira kedekatan mereka memang karena mereka sudah memiliki hubungan. Mereka memang jadi pasangan yang serasi. Dzoki yang tampan dan gagah, Tasya yang cantik dan seksi. Cocok sekali.
Tasya menatap Cyeril yang ada di depannya.
"Kok ada manusia planet? Sejak kapan dia mgintilin kamu, Ki?" ucap Tasya pelan ke arah Dzoki.
"Bkarkan saja sayang. Dia kan kerja sama aku," ucap Dzoki pelan.
"Oh iya. Asistennya Dzoki ya?" ucap Tasya sinis.
Tasya mengambil minuman kaleng dari Dzoki dan langsung menumpahkan minuman itu tepat di atas kepala Cyeril. Rasa dingin, bau soda membuat Cyeril mulai mual. Cyeril tidak amrah, ia bahkan sama sekali gak cemburu pada Tasya dan Dzoki yang saling bermanja manja.
"Eitss ... Jangan Sya. Kasihan," bela Dzoki spontan.
Tasya menatap Dzoki dengan tatapan aneh.
"Sejak kapan? Punya rasa kasihan? Apalagi sama upik abu ini? Kita gak sederajat," ucap Tasya nyinyir.
"Hemm ... Bukan belain. Bukan kasihan. Tapi tetap saja, gak enak ini di lihat satu kampus," ucap Dzoki memgingatkan.
Tak lama Anton datang dan menggandeng tangan Cyeril cepat. Anton mau membawa Cyeril dan membersihkan tubunnya dari minuman bersoda yang tentunya membuatnya lengket.
"Heii mau di bawa kemana, Cyeril?" tanya Dzoki panik.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Biarin saja di bawa Anton. Mereka berdua itu cocok, sama -sama cupu. Tapi ... kamu kayak panik gitu? Sebenarnya kamu sama aku, gimana sih?" tanya Tasya ketus ke arah Dzoki.