KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
53


__ADS_3

Pagi itu, Cyeril dan Dzoki sudah berjalan -jalan mengitari komplek menuju lapangan di belakang blok. Di sana lapangannya mirip seperti taman bermain untuk anak -anak selain fungsinya memang sebagai lapangan untuk berolah raga ringan seperti lari pagi, jalan sehat, bersepeda atau olah raga lainnya yang tidak menyita tempat luas seperti skipping, senam, atau bulu tangkis dan main bola.


Perut Cyeril yang sudah terlihat buncit juga menjadi sorotan para terangga Dzoki.


"Pagi Nak Dzoki? Sedang jalan -jalan sama Mbak Cyeril. Duh ... berapa bulan itu? Lancar dan sehat terus buat ibunya," ucap seorang tetangga.


"Iya Bu. Terima kasih atas semua doanya," ucap Dzoki dan Cyeril bersamaan.


Tidak hanya satu atau dua orang saja yang saling tegur sapa dan mendoakan kelancaran untuk Cyeril. Bahkan semua orang yang di temui di jalan yang mengenal Dzoki dan Cyeril sebagai anak dan menantu Ayah Riski dan Bunda Nur.


Dzoki dan Cyeril memang pasangan muda yang terlihat mesra dan romantis. Keduanya terlihat alim dan tidak neko -neko. Dzoki yang memiliki tubuh atletis, gagah dan tegap berjalan dengan tangan yang di ayunkan sambil berolah raga menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Sedangkan Cyeril hanya berjalan snatai sambil mengatur napas panjang seperti saran Bu Bidan agar terbiasa napas panjang untuk persiapan kalau melahirkan secara normal.


"Udara pagi ini benar -benar seger banget," celetuk Cyeril sambil menarik dalam napas dari udara pagi yang terasa dingin dan sejuk itu agar masuk ke dalam rongga paru lalu di hembuskan perlahan.


"Enak banget. Kakak waktu kecil paling seneng main sepeda sampai sini terus duduk di sana tuh, di batu besar yang di bentuk berbagai macam hewan. Sambil makan bubur ayam kang Bahar. Masih awet beliau tuh tempatnya juga rame," ucap Dzoki pelan menunjuk ke arah tempat dagang bubur langganan Dzoki.


"Wah ... senang ya kalau masih kecil. Busa melakukan apapun bebas tanpa ada yang melarang," ucap Cyeril pelan.


Ia mengingat dirinya dulu saat kecil dan masih tinggal di kampung bersama Ibunya. Boro -boro untuk bermain di pagi hari walau sekedar jalan sehat menggerakkan tubuh atau olah raga, yang ada tugas rutinitas runah sudah menunggu. Mulai dari nyapu, ngepel, buang sampah, cuci piring, cuci baju, jemur pakaian karena ibu harus bekerja di pasar sebagai buruh toko sembako.


Tangan Dzoki langsung menyilang dan menggandeng mesra istrinya.


"Lagi mikirin apa? Ada Kakak sekarang. Jangan pernah merasa kesepian dan sedih," ucap Dzoki seolah tahu apa yang sedang dalam pikiran Cyeril saat ini.


Cyeril tersenyum manis ke arah Dzoki.

__ADS_1


"Cyeril sangat beruntung punya suami sebaik Kakak. Selalu ramah, lembut sama Cyeril," ucap Cyeril memuji. Dzoki memang susah mengalami banyak perubahan sejak perkenalan pertama Cyeril dulu.


"Kamu harus yakin sayang. Kalau Kakak memang selalu ada buat kamu. Percaya itu. Walaupun bentar lagi di tinggal sementara buat KKN," ucap Dzoki pelan.


Cyeril hanya memgangguk pasrah dan paham. Keduanya memang masih kuliah dan paham akan kesibukan masing -masing sebagai mahasiswa. Apalagi Dzoki yang awal semester ini sibuk mengurus KKN. Setiap hari mengikuti koching dan kumpul dengan satu team kelompok KKN -nya. Belum lagi siang hari ia harus bimbingan dengan dosen pembimbingnya. Dzoki mengambil KKN dan skripsi. Paling tidak selama mengurusi KKN di lagi hari, malamnya Dzoki bisa membuat skripsi. Targetnya sebelum berangkat KKN setidaknya skripsinya sudah ACC bab satu dan mulai pengerjaan bab dua.


Berbeda dengan Cyeril yang sengaja mengambil cuti semester ini. Ia mau fokus dengan kesehatan dan kandungannya. Karena beberapa bulan lagi, Cyetil akan melahirkan. Selain itu Cyeril bisa mengurus toko kecilnya yang kontrak bersama di kafe Kahfi.


"Makan yuk. Bubur ayamnya beda. Bumbunya kayak sop ayam gitu jadi seger," ucap Dzoki menjelaskan.


"Iya mau. Cyeril lapar," cicit Cyeril mulai manja.


Menginjak usia kehamilan lima bulan. Cyeril sudah tidak pernah lagi mual dan nafsu makannya mulai besar. Hampir tiap jam, Dzoki melihat istrinya sedang mengunyah dan mulutnya penuh makanan. Meja di kamarnya selalu penuh dengan toples kecil berisi kue kering buatan Cyeril. Belum lagi buah -buahan, cemilan keripik dan biskuit keju yang sudah menjadi favorit Cyeril semasa hamil.


Dzoki masih menggandeng istri kecilnya dan membawanya ke salah satu tikar anyam plastik yang masih kosong.


Cyetil mengangguk setuju. Ia pun duduk di atas tikar dengan kaki bersila sambil melihat pemandangan yang masih hijau di sekitar lapangan. Sejuk sekali dan membuat Cyeril betah.


"Sayang ... Ini sate telur puyuh sama hati ayam dan gorengan bakwan. Maknyos banget," tawar Dzoki yang datang membawa dua piring berisi penuh makanan. Tak hanya Cyeril yang doyan makan dan tak lilih makanan. Dzoki pu juga mengalami hal yang sama. Ia juga memiliki nafsu makan yang sangat besar sekali. Setiap makan pasti nambah.


"Wahh ... sate twlir puyuhnya enak ini, Kak," ucap Cyeril berbinar saat melihat makanan kesukaannya ada di depannya saat ini.


Satu tusuk sate telur ...


Tusukan kedua ...

__ADS_1


Tusukan ketiga ...


"Buat nanti lagi. Buburnya belum datang. Nanti kamu sudah kekeyangan makan telur," titah Dzoki.


Tak berapa lama dua mangkuk bubur ayam dan dua gelas teh panas sudah di antarkan oleh kang Bahar ke tempat Dzoki.


Dengan lahap, Cyerly dan Dzoki menikmati bubur hangatnya.


"Hemmm enak banget," puji Cyeril.


"Enak kan," ucap Dzoki pelan.


Semua makanan pendampingbpun mulai habis satu per satu di cemil untuk menemani menikamti buburvayam hangat itu.


"Kalau Cyeril tahu ada bubur enak begini. Tiap pagi pasti minta kesini," ucap Cyeril santai.


"Hemmm ... Kalau gak ada Kakak. Jangan kesini sendirian. Minta di antar Bunda atau asisten rumah tangga di rumah," titah Dzoki pada istrinya.


"Kan deket Kak Dzoki gak jauh dari rumah," cicit Cyeril manja dan berusaha merayu Dzoki.


"Gak boleh!! Kakak gak mau seauatu terjadi sama kamu dan anak kita. Lebih bauk kami di rumah bisa di pantau sama Bunda dan Ayah," tegas Dzoki pada Cyeril.


Cyeril hanya mengangguk pasrah mengiyakan semua aturan Dzoki. Bukan galak atau posesif tapi ini cara Dzoki menjaga istrinya dari marabahaya dan malapetaka jika Dzoki sedang tidakmada di sisi Cyeril.


Tangan Dzoki mengulur dan mengusap pelan dengan jempolnya. Ada sisa bumbu yang masih menempel di bawah bibir Cyeril.

__ADS_1


"Kalau makan pelan -pelan. Gak ada yang negjar -ngejar juga dari pada celemotan di mana -mana kayak anak kecil saja," ucap Dzoki tersenyum gemas pada Cyeril.


"Ekhemm ... Makqsih Kak," jawba Cyeril malu.


__ADS_2