
Dzoki sudah kembali ke rumah setelah mengantarkan Tasya pulang ke kost barunya.
Malam sudah sangat larut. Perlahan Dzoki membuka pintu depan dan menutup kembali sambil berjingkat masuk menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Baru juga beberapa langkah. Lampu ruangan itu menyala terang hingga membuat Dzoki terkejut.
"Dari mana saja kamu, Dzoki? Gak masuk kuliah, malah main sampai larut malam. Kapan kamu berubah? Bunda pikir, dengan kamu menikahi Cyeril dan kamu sadar kamh sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, kamu bisa memeperbaiki diri agar lebih baik, lebih dewasa, dan lebih tanggu jawab. Inget, kewajiban kamu saat ini, bukan hanya berbakti pada Ayah dan Bunda saja, tapi kewajiban kamu mulai bisa menafkahi istri kamu walaupun sedikit karena Bunda tahu, kamu masih kuliah," ucap Bunda Nur tegas.
Dzoki berhenti tepat di depan anak tangga yang akan di naikinya.
"Maafkan Dzoki Bun," ucap Dzoki lirih dan berpura -pura menyesal.
Dzoki ingin melanjutkan naik ke atas. Tanpa memperdulikan lagi ucapan Bunda Nur. Pikirannya masih ruwet tentang kejadian tadi. Ada ketakutan soal Tasya yang bisa saja hamil seperti Cyeril karena perbuatan bejatnya.
"Berhenti!! Bunda belum selesai bicara. Bunda ingatkan sekali lagi!! Kalau kami seperti ini terus, kamu dan Cyeril lebih baik angkat kaki dari sini dan cari kontrakan atau terserah kalian mau tinggal di mana," tegas Bunda Nur yang masih murka.
__ADS_1
"Kok gitu sih, Bunda? Dzoki mau tinggal di mana?" tanya Dzoki keras.
Dzoki langsung turun dari beberapa anak tangga yang sempat ia naiki dan berjalan menghampiri Bunda Nur.
Bunda Nur nampak santai dan tidak peduli hingga Ayah Riski ikut keluar dari kamar dan iku menasehati Dzoki.
"Ayah tanya? Kamu seharian ini kemana saja? Kuliah gak masuk? Malah pergi dengan Tasya? Lalu mau jadi apa?" tanya Ayah Dzoki kepada Dzoki yang sudah berdiri tegak di depan kedua oeang tuanya.
Secara tidak lamgsung ia di sidang kecil -kecilan oleh kedua orang tuanya.
"Jawab!! Kamu kemana?" tanya Bunda Nur gemas.
"Tasya juga?" tanya Bunda Nur pelan.
"Iya Bun," jawab Dzoki pelan dan menyesal.
__ADS_1
Bunda Nur dan Ayah Riski saling berpandangan dan menatap lekat ke arah Dzoki.
"Tadi Egi kesini dengan rombongannya. Kata mereka malam ini ada acara dan kamu harus ikut. Kalau kamu ada di base camp, mereka gak susah payah memcari keberadaan kamu dan Tasya," ucap Bunda Nur.
"Ekhemm itu pas kita keluar mungkin. Tasya minta di anter beli makan malam," jawab Dzoki penuh dengan alasan.
BRAK!!
"Ayah pinta kamu jujur!! Ini foto apa!!" tanya Ayah Riski pada Dzoki sambil melempar amplop cokelat ke tubuh Dzoki.
Amplop cokelat itu terbuka sehingga beebrapa foto kepergiannya dengan Tasya jelas sekali ada di bukti bergambar tersebut.
Dzoki menatap satu per satu gambar dirinya bersama Tasya saat memasuki restaurant hingga akan masuk hotel.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Tasya? Kamu sudah melakukan hal yang sama? Sepeeti pada Cyeril? Kamu gak takut dosa? Hah!! Siapa yang ngajarin jadi begitu?" tanya Bunda Nur maki murka dengan kedua mata melotot lebar.
__ADS_1
"Maafin Dzoki Bunda ... Bukan seperti itu ceritanya. Inj lasri ada yang mau menjebak Dzoki," ucap Dzoki lirih.
"Kamu tahu kan? Hobbymu itu malah membawa petaka untuk kamu sendiri!! Seharusnya sejak kejadian Cyeril kamu hamili!! Kamu bisa belajar untuk merubah diri!! Ayah tahu, kamu belum.biaa tetjma pernikahan ini karena kamu tak pernah mencintai Cyeril," ucap Ayah Riski dengan tegas menuduh.