KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
15


__ADS_3

Bunda Nur sudah keluar dari kamar Dzoki dan kini sudah menjadi kamar mereka berdua.


Dzoki langsung mengunci rapat kamar itu lalu berjalan mendekati Cyeril yang masih duduk bersandar pada sandaran bantal yang di tumpuk tinggi.


"Kenapa sih? Hidup gue jadi begini. Kalau bukan karena obat perangsang itu, gue juga gak akan bertanggung jawab atas perbuatan gue. Gue kasihan lihat loe, dan gue juga gak mau berdosa karena udah ngebuang loe sama anak gue sendiri. Arghhh kenapa begini sih!!" teriak Dzoki merasa tidak terima.


Dzoki mengusap wajahnya dengan kasar. Sikap arogannya tentu keluar. Tapi terkadang kalau harus bersikap lembut, Dzoki bisa lebih lembut dari kapas dan gulali sampai Cyeril pun hanyut pada bujuk dan rayuannya.


Cyeril hanya bisa diam dan menunduk. Cyeril permintaan Dzoki kemarin tulus ternyata pada kenyataannya tidak begitu. Ia melakukan itu atas desakan Bunda Nur dan Ayah Riski.


"Aku harus gimana Mas?" ucap Cyeril pelan dan masih menunduk.


Dzoki menatap tajam ke arah Cyeril, rasanya ingin berterial keras.


"Apa? Mas? Jijik tahu gak sih dengernya!" ucap Dzoki ketus.


"Aku harus manggil kamu apa?" tanya Cyeril dengan suara pelan.


Makin kesini rasanya Cyeril makin tertekan batinnya. Lebih baik ia kemarin tinggal di kampung dan di nikahi oleh dokter yang selama ini mengurus Ibunya.


"Terserah loe mau manggil apa? Asal gak usah lebay manggilnya. Gue jijik sama suara loe yang sok manis. Satu lagi, gue masih mau bebas. Loe gak usah nuntut apapun sama gue. Nuntut gue rajin ke kampus, rajin ngerjain tugas, rajin ibadah, rajin pulang tepat waktu dan sebagainya. Sebisa mungkin loe itu tutupi aib gue. Ohh ya ... satu lagi. Gue gak mau berita ini tersebar. Pernikahan gue sama loe dan anak di kandungan loe adalah anak gue. Satu satunya orang yang tahu loe hamil adalah Egi. Selebihnya gak ada!! Gue bebas dan loe juga bebas. Paham!! Oh ya .... lepas cincin kawin itu," tegas Dzoki keras.


Cyeril langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia gak mau menutupi statusnya sudah menikah. Paling yang ia tutupi adalah denagn siapa ia akan menikah. Itu saja.


"Aku gak mau. Biar aku pakai cincin pernikahan ini. Aku gak mau Bjnda pertanyakan soal sederhana ini. Aku akan bilang aku sudah menikah karena mau tidak mau perutku akan terus membesar. Jadi aku butuh status sudah menikah, paling aku menutupi siapa sebenarnya suamiku dan siapa namanya. Puas?" ucap Cyeril lantang.


"Oke ... Terserah loe soal cincin itu. Bagus juga ide loe, oh iya gue lupa kalau loe kan emang mahasiswi teladan dan pinter. Inget ... loe masih punya kontrak sama gue selama di kampus nanti. Gak lupa kan sama kerjaan loe!!" ucap Dzoki lantang.

__ADS_1


"Iya aku inget. Tapi jangan berat berat ya. Aku kan lagi hamil. Masih sering mual dan muntah muntah juga," ucap Cyeril pelan.


"Lha ... Kenapa loe yang jadi ngemis lemah gitu? Mana Cyeril yang berani yang biasa gue kenal!! Segini doang nyali loe?" tanya Dzoki ketus.


"Aku gak mau durhaka Kak. Aku mau berumah tangga bener," ucap Cyeril.


"Arggh ... persetan. Gue masih muda!! Jangan atur gue," ucap Dzoki kasar.


Malam itu di tutup dengan perdebatan yang masih belum terselesaikan. Tapi karena Dzoki sudah lelah ia memilih tidur lebih dahulu tepat di samping Cyeril.


Dzoki tak masalah mereka satu kamar bahkan satu ranjang dengan Cyeril hanya saja ia tak mau lagi menyentuh Cyeril kecuali memang mereka ada di depan Bunda Nur dan Ayah Riski.


Cyeril pun ikut tertidur pulas dan terbangun tepat di pagi yang masih petang.


Pagi pagi sekali Cyeril sudah turun ke bawah dan mulai mengacak dapur bersih itu untuk membuat sarapan pagi.


Cyeril mulai membuat masakan yang sederhana. Tak memakan waktu lama. Setengah jam sudah cukup bagi Cyeril untuk membuat sarapan pagi dan sudah di siapkan di meja makan.


"Kak Dzoki? Bangun Kak, minum dulu kopinya," ucap Cyeril pelan.


Cyeril belum tahu apa kesukaan Dzoki dan setiap pagi apa saja yang di makan dan di minum oleh Dzoki.


Dzoki masih tertidur pulas. Ada juga ia makin menarik selimut tebalnya makin menuutupi bagian dadanya.


Kopi hitam buatan Cyeril sudah di letakkan di atas nakas dekat Dzoki tidur. Tidak hanya kopi, ada roti panggang juga yang hanya di oles butter.


"Kak Dzoki mau kuliah gak sih. Kita ada kuliah pagi lho," ucap Cyeril masih saja terus berusaha membangunkan Dzoki dengan memanggil manggil nama Dzoki berulang kali.

__ADS_1


"Hemm ... Nanti lah. Loe berisik banget sih. Kalau loe mau ngampus, ngampus aja sendiri. Gak usah bawa - bawa gue, apalagi ngajak gue," ucap Dzoki makin kesal.


Cyeril menoleh ke arah Dzoki yang masih memejamkan kedua matanya. Kedua matanya seperti ada lemnya hingga sulit sekali rasanya di buka.


"Ya udah. Aku bisa berangkat sendiri. Itu kopi dan rotinya sudah aku siapkan buat sarapan pagi Kak Dzoki, jangan lupa di makan ya," ucap Cyeril pelan.


Cyeril bergegas pergi dengan membawa tas yang biasa di pakai untuk kuliah. Lalu turun ke bawah lagi untuk sarapan bersama denhan Bunda Nur dan Ayah Riski.


"Pagi Ayah, bunda. Maaf kalau sarapannya kurang enak. Cyeril masih belajar," ucap Cyeril pelan.


"Ini kamu yang masak. Enak kok. Pantas kayak bukan rasa masakan biasanya. Dzoku pasti bangga punya istri seperti kamu. Sudah pintar, dapat beasiswa, pinta memasak, cantik lagi. Bagi Ayah, kamu perempuan sempurna sama seperti Bunda," ucap Ayah Riski memuji sambil tersenyim san mengedipkan satu matanya kepada Bunda Nur yang sedang nmenuangkan air putih untuk Ayah Riski, suaminya.


Cyeril hanya bisa menatap kedua mertuanya bahagia. Ia juga ikut tersenyum tersipu malu. Ingin rasanya menjadi seperti mereka. Rumah tangganya bersama Dzoki juga baik baik saja sampa ia dan Dzoki tua nanti.


Cyeril berusaha mencintai Dzoki. Biar bagaimana pun juga, ia telah mengandung benih Dzoki di rahimnya. Belum lagi perlakuan Ayah dan Bunda Dzoki yang begitu baik dan lerhatian pada Cyeril membuat Cyeril tak punya pilihan lain selain bertahan dan mencintai Dzoki, suaminya sepenub hati.


"Kamu mau kuliah?" tanya Bunda Nur pelan kepada Cyeril yang sedang memotong roti panggangnya.


"Iya Bun," ucap Cyeril pelan.


"Dzoki mana? Dia gak kuliah?" tanya Ayah Riski pelan kepada menanntunya.


"Belum bangun, Ayah. Sudah di bangunkan berulang kali malah marah marah," ucal Cyeril jujur.


Bunda Nur mencoba tersenyum dan menyemangati Cyeril.


"Biar nanti Bunda yang urus Dzoki. Kamu bareng Ayah saja pergi ke kampusnya. Gimana? Ayah bisa kan sekalian anter Cyeril ke kampus?" tanya Bunda Nur kepada Ayah Riski.

__ADS_1


"Iya Cyeril. Kamu bisa bareng Ayah nanti pulangnya naik taksi," ucap Ayah Riski pelan menyarankan.


"Iya ayah. Terima kasih," jawab Cyeril santai.


__ADS_2