
Dzoki marah besarpada Mira, sampai ia pindah duduk ke bagia dwpan dekat supir.
Perjalanan yang mengasyikan tadi berubah menjadi sunyi, sepi dan hening. Suara gitar itu berhenti di mainkan dan tak ada satu pun yang bicara.
Teman lelaki yang sakit perut itu langsung di beri obat pereda nyeri sebagai penawar pencuci perut tadi. Minimal mengurangi rasa mulasnya.
Cukup lama perjalanan menuju desa Sumber sekitar satu jam lebih. Akhirnya mereka sampai di salah satu rumah kepala desa yang akan mereka tinggali
Dzoki dan kesembilan temannya sudah turun dari bis dan mulai merapikan barang mereka. Hari ini belum ada acara apapun. Nanti malam baru akan di mulai acara pertemuan sebagai perkenalan bahwa mereka datang untuk mengabdi melalui kegiatan dan program kerjà KKN.
Rumah besar kepala desa dengan pemyekat terpisah dan lintu masuk berbeda sisi. Rumah ini di sebut rumah kedua, karena ukurannya lenih kecil dan memang tadinya di gunakan sebagai rumah singgah para tamu atau wisatawan lokal yang ingin mengunjungi beberapa tempat keramat dan temlat wisata di dekat desa itu.
Dua hari yang lalu, Kepala Desa Sumber sudah menyambut baik kedatangan para anggota KKN. Mereka sudah membaca laporan acara kegiatan yang akan di alkukan selama satu bulan ke depan.
Hampir setiap hari mereka memiliki kegiatan baik untuk anak- anak, remaja tanggung dan dewasa. Semua itu sudah menjadi paket lengkap.
Satu kamar untuk lelaki dan satu kamar untuk perempuan.
Dzoki tidak banyak bicara karena memnag belum waktunya bicara. Kalau sekarang lebih pada urusan masing -masing. Tapi ... sebagai ketua kelompok, mau tidak mau Dzokibakan selalu bersinggungan dengan Mira, sang sekertaris.
Di dalam kamar perempuan, kelima gadis itu sedang merapikan semua pakaian mereka ke dalam lemari sambil bercerita untuk mengisi kebosanan dan waktu luang
__ADS_1
"Mira ... Loe suka sama Dzoki? Gue lihat lie kasih bubuk di naso goreng tadi," ungkap Lily dengan suara lantang. Ia tidak suka dengan cara kotor Mira yang malah membuat salah langkah. Memang tidak salah mencintai lelaki beristri, yang salah itu jika Mira menginginkan dan berusaha menyingkirkan Cyeril sebagai istri SAH Dzoki. Kalau saja Mira bisa memendam rasa agar tetap baik dan bisa berhubungan lurus dengan Dzoki mungkin ketegangan seperti tadi tidak perlu terjadi.
Mira menoleh dan menatap Lily dengan lekat.
"Kenapa emang? Ada yang salah? Loe gak usah ikut campur sama urusan gue!!" teriak Mira keras sambil melempar tas besarnya ke lantai. Mira belum selesai merapikan pakaian di lemari pakaiannya. Tapi ia sudah malas di tanya ini itu oleh teman se -kelompoknya yang kepo. Benar -benar sok suci mereka.
Mira keluar dari rumah kedua itu dan berjalan di teras rumah itu memandang pemandangan yang begitu indah di luar sana. Pikirannya terus mencari cara untuk bisa mendekati Dzoki. Ini waktu yang tepat dan pas untuk mencari perjatian Dzoki. Satu bulan tanpa ada Cyeril, istrinya. Itu tandanya Mira bebas melakukan apa saja. Ia akan ambil kesempatan karena kedekatannya Mira dan Dzoki dalam kelompok itu. Walaupun Dzoki menolak dan masih mengelak. Mana ada lelaki yang berani menilak Mira? Sekali menolak, maka Dzoki akan membayar dengan tekuk lutut di depan Mira.
"Benar kata kamu, Ki. Gue harus jadi perempuan berkualitas. Merebutmu pun dengan cara yang berkelas," ucap Mira lada dirinya sendiri.
Sore sudah berganti malam. Mereka menyiapkan tempat di ruang tamu dengan memggelar karpet serta tiker sederhana untuk acara penyambutan serta pengenalan masing -masing anggota KKN yang berjumlah sepuluh orang kepada warga agak lebih mengenal.
Namanya juga hiduo di desa, harus ada basa basi dan obrolan singkat untuk mengetahui kebetadaan orang baru yang akan tinggal cukup lama di desa itu.
Acara temu kenal itu berjalan dengan lancar dan baik. Dzoki memaparkan beberapa kegiatan umum yang akan di lakukan. Mereka juga membuka lebar rumah kedua itu sebagai wadah inspirasi yang akan di sharingkan dan di berikan solusi. Hal ini hanya berkaitan dengan tema dan proker yang mereka buat dan tidak melenceng dari apa yang mereka kerjakan selama berada di desa sumber itu.
Skip ...
Cyeril sedang beristirahat di sebuah kamar paviliun sendiri. Bunda Nur berada di kamar yang lain sambil berkomunikasi dengan teman -temannya untuk persiapan acara ulang tahun Dzoki esok malam.
Waktu memang begitu terasa cepat sekali. Mempersiapkan acara di tempat lain itu tidak mudah.
__ADS_1
Keesokkan harinya, kesepuluh anggora KKN harus mendatangi sebuah sekolah. Anggota Putri mendatangi TK atau Paud dan para anghota lelaki mendatangi SD Negeri. Mereka akan membantu mengajar dan memberikan ilmu lain yang bermanfaat. Sekaligus ingin memberikan bimbingan lain di luar jam sekolah dan di luar pelajaran.
Saat sarapan pagi. Dzoki sudah duduk dengan adi di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Ratna, Sari dan Lily sudah siap juga di meja makan. Lainnya masih ada yang mandi atau sedang memakai pakaian dan mempersiapkan apa yang akan di bawa pagi ini ke sekolah.
Dzoki masih berada di ruang makan. Semua anggota sudah selesai makan. Mira masuk dari arah dapur dan membuatkan Dzoki kopi hitam. Ia tahu lelaki itu suka sekali kopi hitam sesuai ucapan Cyeril sianh itu.
"Kopinya Ki. Walaupun gak se -enak buatan bini loe. Cobain ya. Terus ... Gue mau minta maaf soal kemarin. Gue salah sudah fitnah bini loe. Gue mau kita tetap berteman baik. Lagi pula selama KKN ini kalau kita gak kompak gam akan jalan dong," ucap Mira pelan.
Dzoki mengangkat kepalamya menatap Mira. Kopi hitam itu memancarkan wangi yang luat biasa membuat hidung terus ingin menciumnya. Belum lagi lidahnya ikut bergoyang.
Dzoki teguh dan tidak akan meminum minuman apapun buatan orang lain.
"Udah gue maafin?" jawab Dzoki pelan.
"Widih ... Kopi hitam nih. Buat gue ya?" tanya Ketut pada Dzoki yang mengangguk pelan.
"Ambil saja. Gue lagi gak ngopi. Buatan Mira tuh," goda Dzoki pada Ketut. Keduanya memang jomblo.
Mira melotot ke arah Dzoki. Susah payah ia bikin kopi dengan raciak pas. Malah di berikan begitu saja pada orang lain.
"Kenapa di kasihkan orang. Itu sama saja tidak menghargai pemberian orang lain," ucap Mira kesal.
__ADS_1
"Kamu kemarin menghargai istri saya gak? Nasi goreng buatan istri saya yang kamu campurkan pencahar dan melukai orang lain? Lalu memfitnah Cyeril? Itu arti menghargai seseorang? Ngaca dulu batu bisa bicara!!" tega Dzoki kesal.