
Selama dua hari ini, pengacara Firman dan anggota teamnya menyebar di seluruh kampus. Mereka berpura -pura menjadi cleaning service atau menjadi mahasiswa yang ikut berkumpul kesana kemari dan ada yang bertugas sebagai penjaga kantin dan dosen tamu.
Semua profesi ada yang tugas mereka sanagt jelas yaitu mencari informasi seputar penganiayaan dan pembunuhan Mahesa.
Bagi pengacara handal seperti Firman. Tugas begini adalah tugas mudah dan tidak sulit. Dua haru sudah waktu yang amat cukup sekali dan semua bukti terkumpulkan.
Kini, gikiran pengacara Firman dan Ayah Riski sedang mencari cara untuk membjat laporan dengan melampirkan bukti -nukti yang sudah merek dapatkan. Tak hanya itu pelakunya pun sudah ada.
Seperti biasa, sore hari, Cyeril baru saja pulang di antar oleh supir pribadi Ayah Riski. Ayah Riski dan Bunda Nur selalu menasehati Cyeril untuk tidak mampir kemana -mana. Kalau butuh sesuatu biar asisten rumah tangga yang berbelanja.
Ceklek ...
"Cyeril ... Kamu sudah pulang Nak? Sini duduk di sini. Ini Ayah kenalkan, Pengacara Firman, masih muda tapi beliau ini sudah hebat dan tak ada satu kasus pun yang gagal," puji Ayah Riski penuh semangat.
Cyeril menurut pada Ayah Riski dan duduk di sofa berbeda dengan Ayah Riski. Dengan sopan Cyeril mencium punggung tangan Ayah Riski mertuanya dan bersalaman dengn pengacara Firman.
Firman menatap Cyeril. Ibu muda yang sedang hamil. Sedikit tidaknya, Firman terpesona. Namun, ia urungkan karena jelas Cyeril dan Dzoki adalah pasangan suami istri. Dan mereka adalah klien Firman. Tidak boleh ada main hati walaupun memang hatinya berdebar merasakan sesuatu yang berbeda.
Ayah Riski mulai menjelaskan kepada Cyeril. Perlahan tapi pasti. Semua pengumpulan bukti dan bisa menyatakan salah seseorang sesuai bukti yang telah ada.
Firman hanya mengangguk pelan dan mengiyakan apa yang di ucapkan Ayah Riski. Apa yang di jelaskan sesuai dengan apa yang Firman jelaskan tadi kepada Ayah Riski.
Nampak, Cyeril begitu serius memperhatikan penjelasan Ayah Riski sampai ada satu kalimat yang membuat Cyeril kaget bukan main.
"Kamu kenal yang namanya Anton, Ril? Katanya teman se -angkatan kamu dan sering satu kelas sama kamu?" tanya Ayah Riski lembut menatap anak menantunya yang terlihat kaget.
"Anton? Kenal ... Ada apa dengan Anton?" tanya Cyeril mulai penasaran. Kedua matanya mengerjap pelan antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ayah Riski.
"Dia pembunuhnya. Anton pembunuhnya," ucap Ayah Riski keras dan lantang.
Seketika kepala Cyeril berputar pusing dan pening. Kedua matanya tidak bisa menatap dengan jelas dan semuanya terasa berbayang dan samar -samar. Lalu terjatuh begitu saja di lantai dan tidak sadarkan diri.
Ayah Riski dan Pengacara Firman langsung terkejut dan ikut membantu menolong Cyeril.
"Ada apa ini?" tanya Bunda Nur panik melihat Cyeril yang sudah di angkat oleh Firman dan akan di pindahkan ke kamar milik Bunda Nur dan Ayah Riski. Kebetulan kamar Cyeril ada di atas jadi tidak mungkin gadis itu di angkat ke atas karena memang berat dan sulit.
Cyeril sudah di rebahkan di kasur dan sedang di panggilkan dokter kandungan yang biasa menanganinya. Cyeril masih tak sadarkan diri.
"Kenapa bisa begini sih? Tadi kenapa Cyerilnya, Ayah?" tanya Bunda Nur dengan suara cemas.
Bunda Nur duduk di tepi ranjang dan mengusap pelan kepala Cyeril sambil menunggu dokter kandungan itu datang.
"Ayah cuma nanya. Kenal Anton? Hanya itu saja. Tapi Cyeril terlihat kaget terus tak sadarkan diri," ucap Ayah Riski pelan.
Ayah Riski dan Firman saling berpandangan. Mereka berdua larut dalam pikiran mereka masing- masing. Ada apa sebenarnya dan malah membuat pertanyaan baru.
Skip ...
Dokter kandungan Cyetil sudah datang dan sudah memeriksa keadaan Cyeril yang ternyata masih stabil dan baik -baik saja. Cyeril hanya shock saja mendengar kabar yang tak biasa itu.
__ADS_1
Cyeril memang bercerita tentang kedekatan antara dirinya dengan Anton sebagai sahabat.
"Jadi kalian bersahabat?" tanya Firman pelan.
Ini infotmasi yang baik dan mendukung bukti yang ada. Bisa jadi Anton menyukai Cyeril dan benci pada Dzoki lalu membunuh Mahesa karena kebenciannya dan menfitnah Dzoki sebagai pembunuhnya.
Lalu? Bagaimana? Tapi apa alibi ini benar? Atau salah? Belum tahu kebenarannya.
"Cyeril cuma gam yakin dan kurang percaya soal pembunuhan itu. Anton baik, atau mungkin dia di suruh? Atau memang ada salangbya gitu?" tanya Cyeril maish tak percaya.
"Tapi bukti itu jelas Cyeril. Anton tidak akan mungkin bisa mengelak kalau bukti ini di jabarkan. CCTV, pisau untuk membunuh dan tempat kejadian," ucap Firman menjelaskan.
"Ya sudah. Cyeril tidak perduli. Cyeril hanya peduli pada Kak Dzoki dan semoga Kak Dzoki bisa di bebaskan," ucap Cyeril lirih.
Besok semua bukti akan di tunjukkan pada polisi dan akan melakukan laporan baru terkait pencemaran nama baik Dzoki yang salah tangkap.
Skip ...
Egi tertawa keras di ruang tamu lantai bawah bersama anggota genk motor King Speed. Ia sudah menjadikan diirnya sebagai ketua genk motor yang baru dan menggantikan posisi Dzoki yang sudah di anggap pengkhianat.
Meja ruang tamu itu penuh dengan botol minuman keras dan kulit kacang yang berserakan. Tak hanya itu, puntung rokok pun sudah tak karuan batangnya ada di mana -mana.
"Loe bisa lihat kan? Muka Anton waktu itu!! Dia ketakutan luar biasa!!" teriak Egi meracau.
"Loe gak takut dia buka mulut Gi?" tanya salah satu anggota genk motor King Speed senior.
"Loe mau nakutin gue!! Anton itu lebay!! Gue gak takut!!" teriak Egi keras dengan suara racau karena mabuk.
Lelaki itu diam. Ia malas sebenarnya tetap bertahan bergabung di genk motor King Speed semenjak Dzoki sudah tak lagi menjabat sebagai ketua dan keluar begitu saja dari genk motor King Speed.
Dari beberapa orang anggota genk motor lun sudah pada mabuk dan teler. Ada yang tertidur di sofa, di lantai dan di teras.
Lelaki senior yang bernama Yudi itu pun pergi begitu saja tanpa di ketahui oleh semua teman -temannya yang sudah pada mabuk dan tak sadarkan diri.
Yudi keluar dan pulang ke rumahnya. Yudi bingung saat berada di rumah. Ia tak mampu lagi menyimpan rahasia besar ini. Tapi ... ia juga tak mau kena imbasnya jika harus membongkar siapa pembunuh aslinya dan apa motifnya.
Yudi terlalu mengabdi pada Dzoki. Karena Yudi pernah berhutang budi pada Dzoki. Ia benar -benar bingung. Tidak mungkin menemui Dzoki yang berada di penjara. Hidupnya juga dalam pantauan Egi.
Sama seperti Anton saat ini hanya bisa mengurung diri di dalam kamar. Ia terlalu bodoh dan terlalu mudah masuk ke dalam perangkap Egi dan masuk dalam hasutan Egi karena ingin memiliki Cyeril.
Padahal sudah jelas Cyeril telah di miliki oleh Dzoki. Tapi, hasuran Egi membuat Anton merasa berada dalam angan -angan yang mudah di gapai dan malahan menghanyutkan dia dalam petaka.
Anton membawa segelas kopi panas dan berdiri di depan balkon kamarnya. Sejak kematian Mahesa. Ibunya mengajak Anton pindah ke rumah majikannya dengan alasan agar majikannya tidak kesepian.
Sesekali kopi itu di serutup dengan nikmatnya. Tapi sama sekali tak menghilangkan rasa galau dan gelisahnya.
Anton hanya takut, ibunya kecewa dengan apa yang telah ia lakukan. Majikan ibuya juga akan marah besar dan mengusir ibunya serta Anton dari rumah mewah itu.
Skip ...
__ADS_1
Tasya masih sesegukan menangis di dalam bathup kamar mandi khusus yang di peruntukkan untuknya. Pahanya sakit sekali. Rasanya sulit berdiri apalagi untuk berjalan menuju kamar tidurnya.
Hidup Tasya benar -benar seperyk.mayat hidup. Hidup segan dan mati tak mau. Kandungannya pun semakin terasa mulai hidup. Ada gerakan memutar di dalamnya. Ada tendangan kecil dari dalam. Seharusnya itu hal kecil yang membuat Tasya senang. Itu tandanya, kandungannya sehat dan tumbuh dengan baik.
Tasya hanya di jadikan boneka hidup yang berhasil menurut pada Egi. Seolah Egi memiliki remote control yang bisa membuat Tasya tunduk dan patuh pada dirinya.
Kedua matanya terus mengeluarkan air mata. Ia ingin bebas dan bisa keluar dari rumah mewah bagai sel tahanan ini. Otaknya mencari cara dan celah.
Tasya begitu memuja Egi awalnya, wajahnya sempurna bagai malaikat. Tapi ternyata hatinya bagaikan setan.
Skip ...
Dzoki duduk bersama dengan teman satu selnya. Kebetulan di dalam sel tahanan itu hanya ada lima orang dengan kasus yang sama. Memang biasanya akan di kelompokkan kasusnya. Kasus pembunuhan akan di jadikan satu dengan kasus penganiayaan, pemculikan dan pembunuhan. Kasus lain akan di satukan sesuai jenisnya seperti kasus korupsi, pencurian, penipuan dan penjambretan.
Dzoki membuka dua toples kue kering buatan Cyeril, istrinya. Sesuai dengan pesan dan amanat istrinya, ada sepuluh toples kue kerung yang di bawakan unyuk Dzoki dan teman -temannya sebagai kawan ngemil bersama.
"Wahh ... Dari bentuk toplesnya mewah sekali? Tentu rasanya sangat enak," ucap lelaki berkumis dengan tubuh hitam legam. Namanya Sastro, terkenal sebagai pembunuh bayaran. Selalu tetangkap setelah menyelesaikan misi pembunuhan bersama teamnya. Ia selalu memjadi tumbal dan mengakui kesalahannya agar hidup keluarganya tenang dan dapat di urus oleh keluarga yang menyuruhnya.
"Cobain bang? Ini istri Dzoki yang buat. Kebetulan dia punya toko kue kecil -kecilan sebagai usaha sampingan," ucap Dzoki menjelaskan.
Sastro dan ketiga kawannya mulai mencicipi kue itu dan memuji kue buatan Cyeril yang enak. Dua toples kue kering itu langsung habis di jarah ke -emlat teman satu sel Dzoki.
"Widih ... tiap hari boleh nih. Buat teman ngalamun. Loe enak Ki. Ada yang jenguk, bini loe bawain makan malam. Gue juga mau dong. Loe bilang, bungkusin kite juga malan malam, biar irit kagak beli. Kadang cekak juga kudu makan nasi cadong udah kayak kucing makan nasi pake teri," ucal Sastro dengan suara keras.
Lama -lama ke -empat senior Dzoki di sel tahanan itu bersikap baik dan tidak galak seperti awal kemarin.
"Iya bang. Nanti Dzoki suruh Cyeril bawakan untuk abang semua. Dia pasti senang dan tidak keberatan," ucap Dzoki patuh.
"Nah gitu. Anak bawang harus nurut. Jadi loe bunuh orang kenapa? Ada yang godain bini loe?" tanya Sastro penasaran. Ia meminta satu toples kue kering lagi untuk teman ngobrol sampao malam.
"Ekhemm ... Saya bukan pembunuh bang, ada juga saya saksi malah jadi tersangka," ucap Dzoki lirih. Sampai saat ini pun ia tidak tahu apa motif dari fitnah keji ini.
"Oh ya? Kenapa tidak berontak?" tanya Sastro menatap tajam ke arah Dzoki.
"Sudah. Tapi tidak ada yang percaya," jawab Dzoki sekenanya.
"Itu jelas ada yang gak suka sama loe alias benci sama loe!!" tegas Sastro.
Dzoki menunduk. Ia memang sempat mengarah berpikir hal yang sama. Dan memang alibi nya sama tepat dan persis seperti apa yang di katakan oleh Bang Satro.
"Loe santai aja. Tetep jalan terbuka bagi orang yang gak salah. Nanti ada aja jalannya, kebongkar rahasianya. Yang sudah -sudah gitu!!" teriak Sastro.
"Gue dulu. Mantan preman lalu jadi pembunuh bayaran. Biasanya gue terima jadi. Di kasih fotonya paling di intai lalu eksekusi gak perlu lama," ucap Sasyro kejam.
Dzoki menelan ludah dalam. Jujur ia takut sekali. Melihat darah Mahesa saat itu memgalir di kamar mandi saja sudah membuat Dzoki bergidik ngeri. Saat Cyeril di rjmumah sakit pun, ia tidak bisa melihat jarum di rusukkan ke tangan. Tentu itu akan menyakitkan sekali.
"Gak usah takut!! Gue kan pembunuh bayaran berdarah dingin, jadi kagak usah takut!! Loe santai aja," ucap Sastro tertawa dengan sangat keras sekali.
"Gak bang. Gak takut, cuma ngeri aja," ucap Dzoki jujur.
__ADS_1