KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
73


__ADS_3

Ceklek ...


Cyeril menoleh ke arah pintu masuk dan mennatap Dzoki dengan sneyum lebar dan nampak tampan sekali.


"Kak Dzoki?" cicit Cyeril dengan suara lirih.


Dzoki langsung berjalan cepat menghampiri Cyeril yang tersenyum senang sekaligus lega. Ia bahagia, akhirnya suaminya mau masuk ke dalam ruangan dingin ini untuk menyupportnya.


"Hai sayang ... Kakak datang, maaf kalau kakak sempat meninggalkan kamu. Kakak takut melihat ruang operasi," ucap Dzoki yang langsung menggenggam tangan Cyeril dengan erat. Dzoki menunduk dan mencium pipi dan kening Cyeril agar istrinya semakin merasa tenang dengan perlakuan manisnya yang pastinya sangat membantu untuk mengurangi rasa gugup dan cemasnya.


Bunda Nur menepuk punggung Dzoki pelan dan tidak percuma menasehatinya tadi di depan untuk memikirkan kembali keberaniannya.


"Bunda keluar dulu ya? Mau beli peralatan dan perlengkapan bayi, kita belum punya. Nanti kalau bayinya lahir kan pasti di minta perelngkapan dan peralatan untuk bayinya," ucap Bunda Nur pelan.


"Iya Bunda, Makasih sudah selalu ada dan bantu Dzoki," ucap Dzoki menatap Bunda Nur.


"Itu bagian tugas dari orang tua, untuk selalu membantu anaknya, menjaga, mearawat dan mengayomi. Gak perlu sungkan, kalau butuh sesuatu, selagi Bunda bisa, pasti Bunda akan bantu dengan ikhlas dan sepenuh hati. Bunda melihat kalian itu bangga sekaligus kagum. Klaian bisa melewati semua prahara rumah tangga kalian dnegan baik. Mulai sekarang kalian hanya perlu hati -hati dan selalu waspada. Komunikasi setiap pasanagn itu sangatlah penting agar terhindar dari salah paham," ucap Bunda Nur plean.


"Bunda, Cyeril mau peluk Bunda dulu, sebelum Cyeril masuk ke adalam untuk operasi," cicit Cyeril denagn suara lembut.


Wajah Cyeril begitu sendu dan sedih, ia sudah tidak takut dan tidak tegang seperti tadi. Cyeril bahagia, ia selalu di kelilingi orang baik dan orang yang sellau sayang pada dirinya seperti Dzoki, suaminya dan Bunda Nur, mertuanya.

__ADS_1


Bunda Nur melepas semyum manis dan memeluk menantu kesayangannya itu yang sudah di anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Pelukan erat dengan penuh kasih sayang daris eorang Ibu kepada putrinya. Cyeril sendiri mearasa nyaman danaman jika dekat dnegan Bunda Nur. Itu alasan kuat, mengapa Cyeril lebih memilih menetap di rumah mertuanya di bandingkan rumah yang telah di sewa oelh Dzoki. Bukan berarti bersama mertua mereka tidak mandiri, tapi Cyeril merasa ada ketulusan yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


"Bunda beli batang -barang untuk babynya ya. Inget, kamu harus kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini, ada bayi yang butuh kamu susui," ucap Bunda Nur menguatkan hati Cyeril.


"Tepatnya ada dua bayi yang harus di susui oleh kamu, sayang," ucap Dzoki mengulum senyum.


"Dua bayi? Bukannya hanya ada satu bayi? KAn Cyeril gak mengandung anak kembar," ucap Cyeril pelan.


"Memang gak. Tapi kan ada bayi mungil dan bayi besar,. Bayi mungilnya yang akan di lahirkan, dan ini bayi besarnya," ucap Dzoki menunjuk ke araha wajahnya sendiri saaat bicara bayi besar dan sontak membuat kedua wanita berdbeda usia itu tertawa.


"Dasar kamu ini, Dzoki. Kirain ada hal yang kalian sembunyikan dari Bunda, ternyata bayi kecil Bunda yang sudah dewasaa mulai berani bicara mesum," ucap Bunda NUr sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Bunda Nur sudah berpamitan dan kelaur dari ruangan dingin itu untuk menunggu ruang operasi yang sedang di persiapkan. Bunda Nur pergi mneuju mini market yang ada di lingkungan rumah sakait. Di sana juga menyediakan perlengkapan dan peralatan bayi yang sangat lengkap. Mulai dari popok, baju bayi, guria, bedong, selimut, topi, kaos kaki dan kaos tangan bayi, pampers, minyak telon, bedak bayi, tisu basah dan lain sebagainya.


"Kamu harus kuat demi anak kita. Kamu pasti bisa, ada Kakak yang selalu menunggu kamu, Cyeril, menunggu senyuman manis kamu, menunggu pelukan penuh kasih sayang kamu," ucap Dzoki terus memacu semangat dan arsa percaya diri Cyeril.


"Kak Dzoki sayang sama Cyeril?" tanya Cyeril gugup. Detak jantungnya terus berdegup keras jika di tatap oleh Dzoki dengan tajam.


"Pertanyaan macam apa itu, Ril? Kakak sama sekali gak ngerti sama pertanyaan kamu. Aneh tahu gak sih," ucap Dzoki nampak kesal.


"Maaf Kak Dzoki. Cyeril hanya takut, jika suatu hari, Kakak pergi meninggalkan Cyeril," ucap Cyeril ragu.

__ADS_1


"Gak ada yang akan pergi dan gak ada yang akan meninggalkan kamu dan anak kita. Kak Dzoki janji akan terus bersama kamu, menemani kmau, menjaga kamu dan anak kita selamanya. Kakak mau cepa lulus dan bekerja keras untuk kalian semua, agar kalian bahagia, dan tidak pernah kekurangan. Kak Dzoki ingin kalian bangga sama perjuangan dan pengorbanan kakak sebagai suami dan Ayah," ucap Dzoki terus membuat Cyeril tenang. Kedua tangan mereka saling tertaut erat, Cyeril yang sudah mulai tenang mulai gugp dan cemas. Perutnya tiba -tiba terasa mulas. Wajahnya mulai meringis menahan sakit.


"Kak ... Sakit, Kak," ucap Cyeril dengan suara lirih.


"Kamu kenapa Ril. Cyeril, kamu kenapa Cyeril!! Cyeril!!" teriak Dzoki histeris dan frustasi.


Dzoki panik dan cemas lalu berteriak keras memanggil suster yang ada di sana. Semua ikut panik karena hal ini.


***


Bayi Cyeril sudah berhasil di keluarkan dan kini berada di ruang perawatan khusus di dalam inkubator. Beberapa selang tertempel di tubuh bayi mungil itu karena belum cukup umur.


Bunda Nur yang sellau setia menjaga bayi itu dan setiap hari menjenguk cucunya yang masih merah itu.


Dzoki frustasi, wajahnya kuyu karena setiap malam begadang menunggu Cyeril yang tak kunjung siuman.


Dzoki duduk di kursi besi di depan ruang ICU, berkali -kali ia meremas rambutnya dengan kasar. Air matanay selalu turun saat Dzoki menatap ke arah kaca besar melihat tubuh istrinya yang lemah tak berdaya dengan segala macam selang yang menempel di sana.


"Bagaimana keadaan Cyeril? Ada perubahan?" tanya Ayah Risski yang datang merangkul putranya dan menepuk bahunya pelan.


Dzoki mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Ayahnya sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Belum ada Yah. Gimana ya?" jawab dzoki lirih. Hatinya kacau, pikirannya juga semakin membuatnya stres.


Sudah dua hari, ia menunggu istrinya yang tak kunjung sadar. Perjuangan dan pengorbanan Dzoki benar -benar sedang di uji.


__ADS_2