
Cyeril sudah berada di halaman belakang. Ia masih terduduk di gundukan tanah merah yang basah milik Ibunya yang baru saja selesai di kubur. Bunga mawar sudah di taburkan di sepanjang kuburan itu. Tangan mungil Cyeril memgang batu nisa yang kokoh tegak lurus berdiri di sana menemani jasad Ibunya.
Dokter Fatih sejak tadi juga ikut mendampingi Cyeril. Ia takut kalau mental Cyeril yang baru saja mendaparkan masalah bertubi -tubi akan sddikit terganggu jiwanya.
"Inget kata bidan Ela, jangan terlalu stres, kadihan bayi dalam kandungan kamu. Lihat dirimu sudah terlihat lelah dan kuyu. Kamu harus banyak istirahat," ucap dokter Fatih menyarankan.
Saat itu, Cyeril berada di kursi tinggu seperti biasanya. Sejak malam memang Cyeril tidak makan. Paginya wah
Jah Cyeril nampak sangat pucat dan tubuhnya sangat lemas. Baru saja Cyeril berdiri dari duduknya dan brukkk .... Cyeril terjatuh di lantai tersungkur tanpa ada orang yang tahu karena tidak melewati koridor ruang ICU.
Tak lama, Cyeril sudah berada di salah satu ruang rawat. Semua tubuhnya sudah di cek dan Cyeril di nyatakan positif hamil. Mendengar berita itu, justru Cyeril semakin hancur dan bingung. Ia bingung bagaimana ia harus bicara pada Dzoki mengenai ini. Seangkan sudah satu bulan ini, keduanya sama sekali tidak pernah ada komunikasi satu sama lain.
Panggilan dan nasihat dokter Fatih hanya masuk ke kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Cyeril seolah mati rasa. Berdiri saja sudah malas. Mungkin kalai bisa ia akan duduk di sana berhari -hari sampai benra -benar bisa mengikhlaskan semuanya.
"Cyeril!!" teriak Dzoki dari kejauhan. Dzoki berlari kecil menghampiri Cyeril. Begitu juga dengan Bunda Nur yang menatao Cyeril dengan iba.
Cyeril sama sekali tak mendengar teriakan itu dan tetap memainkan tanah merah yang masih basah itu sambil berurai air mata.
Dokter Fatih menoleh ke arah Dzoki dan Bunda Nur. Dokter Fatih mengira mereka adalah saudara jauj Cyeril yang sedang ber -empati pada kejadian pahit yang menimpa Cyeril.
Dzoki sudah berada di lokasi yang sama. Kakinya masih melangkah pelan menuju tempat di mana Cyeril terduduk lemas di sana. Hanya tinggal beberapa langkah lagi saja. Dzoki meatao Dokter Fatih dan mengangguk kecil. Dzoki pikir, dokter Fatih adalah saudara Cyeril.
Dengan cepat, Dzoki ikut berjongkok dinsamping Cyerilndan mensejajarkan tunuh mereka.
"Gue ikut berduka cita," ucap Dzoki tiba -tiba kepada Cyeril dengan suara pelan yang terdengar tulus dan ikhlas.
Cueril menoleh ke arah Dzoki dan menatap lelaki yang kini ada di sampingnya. Rasanya masih percaya hingga Cyeril berulang kali mengucek kedua matanya agar apa yang di lihatnya bener adanya.
Bunda Nur juga sudah berdiri agak menjauh dari kedua anaknya itu.
"Anda saudara Ibunya Cyeril?" tanya dokter Fatih pelan kepada Bunda Nur.
"Oh ... Saya? Bukan. Saya ibu meryaj Cyeril," ucap Bunda Nur menegaskan.
__ADS_1
"Oh ... Anda ibu mertuanya Cyeril. Selamat, Cyeril sedang mengandung satu bulan," ucap dokter Fatuh dengan binar bahagia.
Bunda Nur langsung menarik sudut bibirnya berubah menjadi senyum bahagia. Ini kabar yang ia tunggu -tunggu.
Padahal dokter Fatih sudah siap menikahi Cyeril sesuai dengan amanah Ibu Cyeril sebelum meninggal dunia. Dokter Fatih berjanji akan menjaga Cyeril dan membiayai kuliah Cyeril hingga lulus dan menikahi gadis itu. Kemarin saat dapat kabar dari bidan Ela kalau Cyeril mengandung, dokter Fatih terkejut bukan main. Sejak itu juga Cyeril.jadi lebih diam dan sama sekali tidak mau bicara.
"Usia kandungannya sudah satu bulan? Sehat kan?" ucap Bunda Nur pelan.
"Sehat Bu," jawab dokter Fatih singkat tanpa berkomentar lainnya.
Bunda Nur dan dokter Fatih sedikit berbincang tentang Cyeril dan lenyakit Ibu Cyeril hingga bisa meninggal.
"Loe gak ada kabar?" ucap Dzoki yang iba menatap Cyeril yang berduka. Kedua mata Cyeril merah, basah dan bengkak.
Cyeril masih diam dan hanya memainkan tanah merah itu.
"Loe gak jawab pertanyaan gue?" tanya Dzoki pelan.
"Aku cape Ki," jawab Cyeril pelan.
Cyeril menatap Dzoki dengan tatapan bingung.
"Bunda? Ibu kamu?" tanya Cyeril pelan.
"Iya," jawab Dzoki pelan.
Cyeril menatap ke arah belakang untuk melihat ibu Dzoki. Tepat di waktu yang sama Bunda Nur juga menatao Cyeril sambil tersenyum. Cyeril pun ikut tersenyum dan mengangguk dengan sopan.
Tatapan Cyeril beralih ke arah Dzokinyang ternenung menatap tanah merah.
"Ngapain kesini? Nanti juga aku datang dan melanjutkan pekerjaaanku," ucap Cyeril pelan.
"Gue mau nikahin loe," ucap Dzoki pelan.
__ADS_1
Cyeril menatap ke arah Dzoki. Tatapannya tak percaya dan penuh tanya.
"Nikahin? Gak salah denger?" tanya Cyeril bingung.
"Bunda yang suruh kita menikah. Bunda takut kamu gamil karena kejadian malam itu," ucap Dzoki.
"Oh ... Kirain," ucap Cyeril pelan.
"Kenapa? Loe gak suka? Gue udah baik mau tanggung jawab," ucap Dzoki ketus.
"Mending gak usah tanggung jawab. Aku bisa urus bayi ini sendiri," ucap Cyeril lantang.
"Sombong banget sih loe. Gaya loe kayak banyak duit aja. Loe aja masih kerja sama gue," ucap Dzoki ketus.
"Terserah kamu mau bilang apa? Aku gak peduli, Ki. Aku terbiasa mandiri dan kerja keras," ucap Cyeril tegas.
Keduanya sama -sama diam. Cyeril sudah malas bicara dengan Dzoki yang terkesan mengajaknya berantem. Memangnya Dzoki tak bisa merasakan kesedihan seperti yang saat ini sedang di rasakan oleh Cyeril. Ia kehilangan sosok Ibu yang amat ia sayangi.
"Udah belum nangisnya. Kita balik ke kota sekarang," ucap Dzoki tegas.
"Aku masih mau di sini," ucap Cyeril pelan.
Mana bisa, Cyeril ikhlas dengan ini semua. Lebih baik ia cuti di semester ini dan mencati pekerjaan baru setelah kontrak bekerja denagn Dzoki selesai.
"Cyeril ... Dokter Fatih sudah banyak bicara. Kamu sedang hamil? Usia kandunganmu satu bulan. Bayi itu cucu Bunda. Kalian harus segera menikah," titah Bunda Nur yang datang tiba -tiba dan berdiri tepat di belakang Cyeril.
Cyeril menoleh ke arah Bunda Nur. Ucapan Bunda Nur seolah menenangkan hati Cyeril yang bingung sejak tadi.
"Yuk ... Kita pulang sekarang," titah Bunda Nur pelan.
"Cyeril masih mau di sini," jawab Cyeril pelan.
"Gak baik meratapi kesedihan terus menerus. Biarkan Ibu kamu itu tenang dan bahagia," ucap Bunda Nur menambahkan.
__ADS_1
Bunda Nur memeluk Cyeril dengan erat dan penuh kasih sayang. Pelukan hangat seperti seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri.
Cyeril hanya bisa menunduk. Ia benar -benar menangis kembali. Tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya. Setelah ini kehidupannya seperti apa, juga Cyeril belun tahu.