
Perjalanan menuju desa Sumber itu lumayan memakan waktu yang cukup lama dan panjang sehingga perjalanan pun akan terasa melelahkan dan membosankan.
Tapi tidak bagi Cyeril dan Bunda Nur yang sepanjang jalan saling bercerita dan bertukar pengalaman dalam hal apapun. Mulai dari persiapam ulang tahun Dzoki besok hingga makanan kesukaan Bunda Nur sampai liburan yang di inginkan dan kisah percintaan Bunda Nur dan Ayah Riski dulu.
Kedua wanita berbeda usia itu memang terlihat akrab dan sangar dekat sekali. Mereka tertawa sampai ngikik dan bercanda hingga mengeluarkan air mata. Benar -benar membuat Cyeril bahagia dan merasa Bunda Nur seperti ibu kandungnya sendiri.
Skip ...
Selesai acara brifing, semua anak KKN masuk ke dalam bisnya masing -masing sesuai kelompoknya. Dzoki duduk di bagian belakang bersama empat teman laki -lakinya yang lain sambil bermain gitar. Sedangkan lima anak perempuan lainnya duduk di bagian tengah sambil bernyanyi dan berbkcara sendiri.
Dzoki duduk di barisan belakang sambil memainkan ponselnya. Ia sedang berkomunikasi dengan Bundanya sial acara besok. Tapi, Dzoki tidak tahu kalau dua wanita kesayangannya itu juga sudah hampir sampai di lokasi tempat Dzoki KKN.
Mira ikut duduk di barisan belakang di sebelah Dzoki. Sedari tadi Mira menatap kotak bekal yang di bawa oleh Dzoki. Ia yakin kotak makanan itu adalah makananyang di buat dan di siapkan oleh Cyeril, istrinya.
"Ki ... Aku lapar nih. Tadi pagi gak sempat sarapan," ucap Mira manja dan berpura -pura memegang perutnya yang lerih.
__ADS_1
Awalnya Dzoki tak mereson karena ia sedang sibuk berkomunikasi dengan Bunda Nur. Saat Mira mengaduh kesakitan, Dzoki pun melirik ke arah Mira yang memegang perutnya demgan kedua tangannya. Tidak hanya itu saja, bukan cuma Dzoki yang menoleh ke arah Mira tapi juga seluruh teman satu bisnya mulai tak suka cara Mira mendekati Dzoki yang sudah memiliki istri.
"Tuh ada bekal. Makan aja, biar lambungnya gak kambuh," ucap Dzoki pelan. Setidaknya Dzoki bertanggung jawab terhadap anggotanya.
Dzoki menunjuk ke arah tas gendongnya dan di dalam sana ada kotak bekal yang Dzoki maksud.
Mira menurut dan membuka tas Dzoki lalu mengambil kotak bekal yang di maksud.
Perlahan Mira membuka kotak bekal itu yang berisi nasi goreng dan segala lauk pauknya.
"Ekhemm ini pedas ya?" tanya Mira pelan.
Dzoki kembali menatap Mira yang mengendus makanan bekalnya dan hanya mengambil satu nugget ayam goreng dan di cemil begitu saja tanpa mencicipi nasi goreng buatan Cyeril.
"Loe gak Mir? Sini gue makan aja. Gue lapar. Gak apa -apa kan Dzoki?" tanya teman lelaki satu anggotanya itu.
__ADS_1
"Boleh. Coba saja. Awas ketagihan," ucap Dzoki tertawa.
Benar saja, setelah menikmati bekal Dzoki, teman satu anggotanya itu yang bernama Anes mendadak memegangi perutnya dan merasakan sakit perut yang luar biasa melilit perutnya.
"Loe kenapa Nes?" tanya Dzoki bingung.
Wajah Anes mendadak pucat dan nanyak peluh di sekitar wajahnya.
Mira hanya menatap Anes dan diam. Dia sengaja tak ikut campur agar Cyeril yang di salahkan.
"Tiba -tiba sakit Ki kayak di remas -remas perutnya. Padahal gak pedas ya," ucap Anes mengaduh.
"Jangan -jangan ada racunnya," ucap Mira tiba -tiba menuduh.
"Hah? Racun? Loe gila Mir!! Nuduh bini gue ngasih racun!! Itu makanan buat gue, pesenan gue!! Di rumah juga gue makan iru dan gue baik -baik saja!! Kalau bini gue pengen ge tersiksa gak dengan cara gini juga kali!! Bini gue pasti punya akal sehat dan punya cara yang lebih berkualitas!! Main tuduh aja loe!! Gila loe lama -lama!! Ternyata bener kata bini gue, loe itu punya sejuta cara untuk mewujudkan apa yang loe inginkan!! Iya kan?" ucap Dzoki murka dengan suara membentak.
__ADS_1
Dzoki paling tidak suka bila istrinya di hina dina seperti ini. Menghina Cyeril, istrinya sama saja menghina Dzoki secara langsung.