
Kini giliran Dzoki yang menatap Cyeril lekat. Gadis itu sama sekali terlihat santai dan tak kecewa memutuskan untuk tidak melanjutkan keinginannya bekerja sama dengan Kahfi, mantan bosnya dulu waktu Cyeril bekerja part time di sana.
"Sayang ...." panggil Dzoki dengan lembut. Tangan Dzoki menyentuh tangan kiri Cyeril dan di genggam erat. Istri kecilnya ini sama sekali tidak babyak menuntut. Semua ucapan dan nasihat serta saran Dzoki selalu di dengar dengan baik oleh Cyeril. Tak hanya di dengar saja, tapi juga Cyeril selalu menurut apapun keputusan Dzoki.
Cyeril mau belajar menjadi istri yang baik. Istri yang selalu bilang dan meminta ijin pada suaminya. Apapun hasilnya dan keputusan Dzoki itu adalah yang terbaik untuk dirinya.
Cyeril mengangkat wajahnya setelah menyuapkan satu suap seblak panas ke dalam mulutnya. Kemudian menatap Dzoki lekat.
"Ya Kak?" jawab Cyeri tenang.
"Kalau ingin bekerja sama dengan Kahfi gak apa- apa. Kakak hanya bisa mendukung dan memotivasi saja. Asal ...." ucapan Dzoki di pelankan.
"Asal apa?" tanya Cyeril.
__ADS_1
"Asal jangan membuat Kakak cemburu dan tidak percaya lagi sama kamu. Kakak sudah kasih kesempatan untuk kamu membuka lapangan pekerjaan sebesar -besarnya dan itu harus kamu pergunakan dengan baik. Kakak hanya berpesan jangan terlalu lelah dan jaga kandungan kamu. Kalau ada apa -apa bilang Kakak karena Kakak itu suami kamu atau bilang sama Bunda. Jangan bikin khawatir. Paham?" tegas Dzoki pada Cyeril, istri kecilnya.
Selesai makan siang. Dzoki dan Cyeril masuk ke dalam mobil. Dzoki akan mengantarkan Cyeril ke kafe Kahfi karena sekalian dalam jalur yang sama menuju kantor Ayah Dzoki.
Sesampai di depan kafe milik Khafi. Cyeril pun berpamitan dan mencium pinghung tangan Dzoki dengan sopan.
"Kamu hati -hati ya, Ril. Ingat telepon Kakak kalau ada sesuatu. Jangan diam saja," titah Dzoki pelan. Dzoki merasakan ada kejanggalan. Seperti akan ada sesuatu terjadi pada Cyeril. Tapi Dzoki langsung menghilangkan pikiran buruk itu dari otaknya.
"Pasti Kak. Kakak kalau sudah sampai kantor Ayah, kabarin Cyeril ya?" cicit Cyeril mulai manja.
Hah ... Bagaikan mimpi. Dzoki tak pernah melakukan ini sebelumnya. Bolehkah Cyeril tersenyum sepanjang hari karena berbagi rasa bahagia ini.
"Kenapa? Memang gak boleh suami nyium pipi istrinya?" tanya Dzoki yang melihat perubahan di wajah Cyeril.
__ADS_1
"Ekehmm boleh. Ini bukan mimpi kan? Soalnya ...."
"Kakak gak pernah lakukan ini? Mulai sekarang akan di biasakna di mana pun tempatnya Kakak gak malu. Sekali pun itu di kampus," ucap Dzoki meyakinkan Cyeril.
Cyeril mengangguk senang sekali. Ini perubahan yang sangat luar biasa sekali. Tak pernah menyangka hal ini juga terjadi pada dirinya. Sikap Dzoki yang mesra dan romantis. Selama beberapa bulan ini sama sekali tidak lernah di lakukan.
Apa ... Jangan -jangan nanti Dzoki, suaminya juga meminta jatah biologisnya? Ahhh sudah tentu akan di berikan dengan ikhlas oleh Cyeril. Cyeril tidak mau durhaka pada suami. Senisa mungkin semua keinginan Dzoki akan di turuti tanpa menggerutu.
"Cyeril turun ya, Kak,"
"Iya. Hati -hati,"
Cyeril pun turun dan berjalan menuju pintu masuk kafe milik Kahfi.
__ADS_1
Ahh ... sudah lama tidak menginjakkan kaki di sini. Seperti apa sekarang? Sudah berubah? Atau masih sama?