KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
7


__ADS_3

Dzoki sudah berada di salam kamar kesayangannya. Tadi pagi setelah dari base camp, Dzoki langsung mengantarkan Cyeril ke rumah kostnya dekat dengan kampus.


Dzoki mengantarkan Cyeril sampai dalam kamar kost. Ia juga ijin keluar dan datang kembali untuk membawakan makanan dan beberapa cemilan untuk Cyeril.


Kini, di dalam kamar yang sangat luas itu Dzoki duduk bersandar di sana dan mengacak rambutnya dengan sangat kasar. Ia tak percaya sudah berani dengan sadar membobol gawang Cyeril. Perempuan yang selama ini tak di kenalnya dan ia jadikan tumbal hanya karena ingun membuat Tasya cemburu dan menyesal sudah mengkhianatinya. Namun ....


"Arghh ... Kenapa gue bodoh banget sih!!" teriak Dzoki dengan sangat keras sekali. Ia duduk di tepi ranjang sambil memijat kepalanya. Ada rasa cemas dan was -was dalam hatinya. Ia takut jika Cyeril hamil dan mengadukan semua ini pada kedua orang tuanya atau di kampus. Bisa jatuh nama baik dan harga dirinya sebagai ketua genk motor yang sangat di segani dan di takuti itu.


Lalu, hubungannya dengan Tasya bagaimana? Mereka sudah lama dekat. Tasya yang begitu cantik dan feminim sudah berhasil mengisi seluruh relung hati Dzoki dengan benih cinta yang indah. Jujur, baru kali ini ia menyukai perempuan sampai berusaha keras mendapatkannya. Biasanya para wanita itu yang mengejarnya.


Tapi ... Semua bukti kebejatan Tasya sudah ada di tangan Dzoki. Beberapa anak buahnya memeberikan informasi penting jika Tasya lebih memilih Kahfi, seorang pengusaha kafe di dekat kampusnya. Tak hanya itu saja, Tasya memiliki masa lalu yang buruk juga. Ia sempat menjadi kupu -kupu malam hanya untuk mempercantik tubuh dan wajahnya demi mendapatkan lelaki kaya. Bukan tidak percaya, tapi Dzoki ingin tahu yang sebenarnya dengan caranya sendiri dengan begitu ia bisa membenci Tasya dan perlahan melupakan perempuan itu.


Tok ... tok ... tok ...


"Dzoki ... Kamu di dalam, Nak? Ada Tasya di depan," panggil Bunda Nur kepada Dzoki, anak kesayangannya.


Dzoki melepaskan tangan di kepalanya dan menatap ke arah pintu kamar. Apa benar yang ia dengar barusan. Baru saja, ia memikirkan Tasya dan ternyata Tasya datang ke rumahnya. Tapi, untuk apa? Bukankah tadi malam sudah jelas dengan sikap Tasya, perlakuan Tasya yang sama sekali tak merespon baik Dzoki dan malah memilih Kahfi. Itu bukti akurat sekali. Lalu, soal cincin merah delima itu, ternyata Tasya yang sengaja mengkambing hitamkan Cyeril.


Perasaan Dzoki saat ini benar -benar dilema. Antara benci dan cinta.


"Ya Bun. Nanti Dzoki turun," ucap Dzoki pelan.


Dzoki bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya yang sama sekali belum tersentuh air. Ia lalu mengganti kaosnya yang sudah bau asem karena sejak malam belum di ganti.


Dzoki turun ke bawah dan berjalan menuju ruang tamu. Tatapannya begitu lekat ke aeah Tasya yang asyik membaca koleksi majalah milik Bunda Nur sambil menyeruput teh manis hangat serta kue jahe yang sangat enak buatan Bunda Nur.


"Ada apa?" tanya Dzoki pelan dan duduk di salah satu sofa dengan santai.

__ADS_1


Tasya menatap Dzoki dan tersenyum. Ia langsung berdiri dan duduk di sebelah Dzoki lalu memeluk tubuh kekar ketua genk motor itu.


Dzoki memang ketua genk motor, tak hanya galak, garang, kejam dan di takuti saja. Sepak terjangnya sudah di akui para anggotanya. Perihal keberaniannya dan kemenangannya sebagai karatekus dengan ban hitam. Tapi jangan salah sekalinya bucin, dunia seolah membodohinya bagai kerbau yang sangat nurut dengan pemiliknya.


"Maafin Tasya," cicit Tasya manja sambil memeluk Dzoki.


Dzoki hanya diam. Biasanya ia sangat senang di peluk dan Tasya bermanja -manja dengannya seperti ini. Tapi kenapa kali ini terasa dingin, hampa dan biasa saja. Malahan ia merasa muak dan kesal pada gadis yang selama ini ia sukai.


"Soal apa? Memang kamu punya salah," ucapan Dzoki pun ketus. Lolos begitu saja dari bibirnya tanpa di rekayasa.


Tasya mengendurkan pelukannya dan duduk tegak menatap Dzoki tajam.


"Soal semalam dong," jawab Tasya agak kesal. Ia berharap Dzoki memaafkannya dan bersikap balik lagi sepeeti biasanya.


"Sudah di maafkan. Gak ada lagi? Cuma mau bilang itu aja?" ucap Dzoki merasa sudah malas melihat wajah sok manis Tasya. Hatinya tak bergetar seperti biasanya.


"Kamu kenapa sih Dzoki? Gak biasanya begini. Katanya cinta? Katanya sayang? Kok begini? Seharusnya aku yang marah. Kamu malah mengajak Cyeril ke tempat balapan," cicit Tasya dengan mimik wajah yang sengaja di buat sedih dan menyesal.


Ia sendiri tak sadar sudah berteriak menjelaskan dengan panjang lebar seperti rumus keliling bujur sangkar.


Tasya mengernyitkan kepalanya hingga kedua alis tebalnitu menyatu dengan tatapan tak percaya ke arah Dzoki.


"Apa kamu bilang Ki? Kamu mengagungkan pencuri itu?" teriak Tasya keras.


Suara lantang dan keras itu terdengar Bunda Nur yang tak sengaja lewat untuk menyiram tanaman hias kesukaannya di teras depan.


Wajah Bunda Nur menoleh ke arah Dzoki dan Tasya yang sedang sedikit berdebat.

__ADS_1


"Siapa yang pencuri?" tanya Bunda Nur menyela ucapan keduanya.


Dzoki menoleh ke arah Bunda Nur.


"Gak kok Bun," ucap Dzoki pelan sengaja menyudahi pembahasannya. Bisa lebih panjang lagi kalau urusannya sudah ada di tangan Bunda Nur.


"Ya sudah. Sya? Kue jahenya enak?" tanya Bunda Nur pelan.


"Enak banget Tante," jawab Tasya dengan sentim lebar.


"Gak pengen tahu resepnya? Bunda mau bikin kue jahe habis ini," ucap Bunda Nur sengaja mengajak Tasya ke dapur untuk membuat ku jahe bersama.


Tasya hanya tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Ekhemm ... Tasya gak bisa lama Tante. Mau ada acara kumpul sama teman -teman. Lain waktu saja ya Tante, pasti Tasya bantu," ucap Tasya pelan berusaha meyakinkan Bunda Nur.


Bunda Nur hanya mengangguk kecil dan keluar menujubteras depan untuk menyirami pot bunga yang berisi tanaman hias kesukaannya.


"Ya sudah sana pulang. Ngapain lama -lama di sini," ucap Dzoki makin ketus.


"Kok kamu gitu sih Dzo? Cyeril udah ngeracunin otak kamu? Sampai kamu bisa se -ketus ini sama aku? Gak biasanya begini lho, kamu itu?" ucap Tasya ikut kesal dengan sikap Dzoki.


"Gue cape. Mau istirahat. Satu hal lagi, gue masih cari tahu kebenaran tentang cincin merah delima gue. Cincin otu beneran di ambil Cyeril atau memang ada orang lain yang sengaja melakukan hal ini?" ucap Dzoki mengingatkan.


Seketika wajah Tasya memerah. Tentu ada kepanikan tersendiri. Ia hanya ingin membully Cyeril si kutu buku yang pintar dan di sukainoleh Kahfi. Tasya tak terima jika Cyeril yang lebih di cintai Kahfi nukan dirinya. Tapi ... langkah Tasya malah salah. Selama ini kedekatan Kahfu dengan dirinya hanyalah sebatas teman dan tak lebih. Kahfi hanya ingin bermain -main dengan Tasya saja. Banyak teman Kahfi yang pernah memesan Tasya sebagai teman tidur. Makanya Kahfi penasaran seperti apa Tasya itu.


"Panik? Kaget? Atau takut?" tanya Dzoki langsung menuduh.

__ADS_1


"Gak. Biasa saja," jawab Tasya ketus.


Ia bergegas mengambil tas nya lalu anbgkit berdiri dan segera berpamitan dengan Bunda Nur yang masih menyiram tanaman di teras depan tanpa berpamitan dengan Dzoki


__ADS_2