
Rutinitas pagi, mual yang di rasakan Cyeril makin memperparah keadaanya. Ini selalu terjadi di pagi hari saja.
Beberapa kali Cyeril harus bolak balik ke kamar mandi dan memuntahkan sebagian isi perutnya hingga cairan kuning pahit keluar dari mulutnya.
Tubuh Cyeril begitu lemas dan lemah. Kepalanya pun mulai berdenyut pening. Cyeril berpegangan pada wastafel agar tidak terjatuh. Cyeril terus berdoa agar dirinya kuat dan selalu sehat.
"Aku harus bisa. Aku harus kuat," batin Cyeril di dalam hatinya.
Tapi tubuh itu begitu lemah untuk tetap tegak berdiri.
Bruk ...
Cyeril terjatuh di lantai kamar mandi tanpa di ketahui siapa pun juga termasuk Dzoki yang berada dalam satu kamar bersama Cyeril.
Bunda Nur mengetuk kamar Dzoki dan Cyeril dengan keras. Tidak biasanya Cyeril belum bangun jam segini. Takutnya memang Cyeril kesiangan atau jangan -jangan sakit akibat mual yang di keluahkan sejak kemarin.
Maklum kan hamil muda selalu menguras energi. Memang tidak semua ibu hamil akan merasakan hal yang sama. Tapi? Setidaknya setiap kehamilan di trisemester pertama ada resiko besar dan rentan pada resiko hingga keguguran.
Bunda Nur selalu menasihati Cyeril untuk tetap memperhatikan kesehatannya dan janin yang sedang di kandungnya.
__ADS_1
"Cyeril!! Dzoki!! Bangun!! Kalian nanti kesiangan," ucap Bunda Nur terus mengetuk pintu kamar Dzoki dengan sanagt keras karena tidak ada pergerakan dari dalam.
"Ayah!! Dobrak saja kamar mereka. Sejak tadi mereka tak menjawab panggilan Bunda. Takutnya sesuatu terjadi pada mereka," ucap Bunda Nur denagn suara lantang.
Ayah Riski langsung naik ke lantai dua dengan tukang kebon yang bekerja di rumahnya puluhan tahun.
Dug ... dug ... dug ... Brak ...
Pintu kamar itu terbuka lebar dan Bunda Nur langsung masuk kamar Dzoki. Di tempat tidur hanya ada Dzoki yang masih meringkuk pulas. Tapi, Cyetil tidak ada di sana.
"Cyeril!!" teriak Bunda Nur dengan suara yang sangat keras dan lantang.
Bunda Nur langsung berlari ke arah kamar mandi dan benar sekali tebakan Ayah Riski. Cyeril berada di dalam kamar mandi dan sudah tergolek lemah di lantai. Tubuh Cyeril sudah mendingin karena suhu tubuhnya tertutup dengan dinginnya lantai kamar mandi. Wajah Cyeril mulai memucat.
Bunda Nur berteriak histeris hingga Dzoki yang tertidur pulas pun terbangun dan terkejut melihat kamarnya ramai dengan suara orang.
Ayah Riski langsung membopong Cyeril bersama tukan kebon yang membantu mendobrak pintu kamar Dzoki.
"Ini bawa kemana Bun?" tanya Ayah Riski cepat.
__ADS_1
"Ke mobil sekarang. Kita ke rumah sakit," jawab Bunda Nur panik.
Dzoki mengucek kedua matanya. Nyawanya belum terkumpul penuh. Ia hanya mendengar suara Bunda Nur berteriak histeris dan melihat Atmyah Riski membawa Cyeril.
"Hah!! Cyeril!! Ada apa dengan gadia itu?" batin Dzoki dalam hati.
Dzoki bergegas memakai pakaian lengkap dan lari ke lantai bawah mengikuti Ayah Riski yang berjalan menuju ke arah halaman rumah.
"Bunda!! Kenapa dengan Cyeril," tanya Dzoki keras saat melihat Bunda Nur keluar dari kamar pribadinya membawa tas tenteng dan kunci mobil miliknya.
Bunda Nur sengaja tak mau menjawab pertanyaan Dzoki. Anaknya itu telah menelantarkan istrinya. Sampai -sampai Dzoki tak mendengar Cyeril terpeleset dan jatuh di lantai kamar mandi. Suami macam apa itu!!
Bunda Nur sudah kecewa pada Dzoki.
"Bunda ... ada apa sebenarnya?" tanya Dzoki bingung masih mengikuti Bunda Nur yang berjalan cepat.
Bunda Nur menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Dzoki.
"Jika sesuatu terjadi pada cucu Bunda!! Maka kamu adalah orang pertama yang Bunda salahkan!! Paham!!" tegas Bunda dengan kedua mata melotot tajam ke arah Dzoki.
__ADS_1