KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
8


__ADS_3

Cyeril duduk di atas kasur kamar kostnya. Ia tak pernah membayangkan halnini terjadi kepada dirinya.


Kehormatan yang selalu ia jaga, akhirnya terbobol juga oleh ketua genk motir yang sempat ia benci karena sikap arogannya.


"Arghhh ... Kenapa bisa sih?" teriak Cyeril tak percaya dengan kejadian semalam.


"Bisa -bisanya malah gue yang nawarin diri untuk di sentuh, berasa wanita gak bener," ucap Cyeril merutuki kebodohannya sendiri.


Tapi semua itu tak bisa di ulang kembali kan. Semua yang sudah terjadi ya, sudah terjadi. Untuk apa di sesali, toh keduanya sudah sepakat dan saling menikmati saat itu.


Pandangannya kini metapa ke arah luar jendela kamar kostnya. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal kampus. Cyeril bisa seharian istirahat di dalam kamar kostnya. Karena Cyeril sudah tidak bekerja lagi di kafe kopi milik Kahfi.


Tak lama, ponselnya berbunyi sangat keras. Ia melihat nama Ibunya tertera di alyar ponselnya dengan cepat Cyeril mengangkat ponselnya.


"Ibu? Ada apa?" tanya Cyeril dengan suara lantang.


"Cyeril? Ini dokter Fatih, Ibu sedang koma. Bisa kamu pulang?" ucap dokter Fatih dengan cepat menitah Cyeril.


Dokter Fatih adalah dokter yang menangani Ibu Cyeril sejak awal Ibu Cyeril di nyatakan sakit keras.


"Apa? Ibu sedang koma? Kenapa Cyeril baru di beritahu sekarang?" suara Cyeril terdengar panik dan sedikit membentak.


Degup jantung Cyeril mulai tak karuan. Ia tak bisa lagi menahan sesak di dadanya dan air mata itu luruh begitu saja dari kedua matanya yang begitu indah.


Sambungan telepon itu langsung di matikan sepihak oleh Cyeril. Tubuhnya yang masi lemas dan lelah dan sakit di bagian area ************ juga harus di abaikan sementara.


Dengan cepat Cyeril membereskan beberapa baju dan membawa tas yabg berisi ponsel dan dompet. Merasa tidak ada yang tertinggal, ia pun langsung pergi dari kamar kostnya menuju rumah di kampungnya.


Pikirannya sudah tak menentu. Terus menerus memikirkan Ibunya yang sedang koma. Ia sendiri tak memikirkan apapun selain kondisi ibunya. Belum lagi uang di ATM- nya sepertinya masih kurang untuk membayar biaya pengobatan itu.


Cyeril susah berada di dalam bis menuju kampung Ibunya. Perjalanan memakan waktu sekitar lima atau enam jam. Kemungkinan besar, Cyeril akan langsung menuju rumah sakit tempat di mana ibunya di rawat.

__ADS_1


Air matanya sudah banyak turun dan ia hanya bisa mengusap kasar dengan punggung tangannya atau dengan tisue yang di genggam di telapak tangannya sejak tadi.


Cyeril tidak bisa berpikir jernih. Ia adalah anak yatim, dan hanya memiliki ibu sebagai teman hidupnya selama ini. Lalu, jika jiwanya tak selamat? Maka ia akan bersama dengan siapa setelah ini?


Lagi -lagi ponselnya berdering dengan keras. Dzoki meneleponnya. Kepala Cyeril rasanya berpitar hebat dan merasakan pusing yang tak kunjung hilang.


"Ya ... Ki? Gimana?" jawab Cyeril lirih. Desah napasnya terdengar berat dan masih sesekali isakan tangisnya timbul membuat Dzoki bertanya.


"Loe kenapa? Masih di kost? Gue ada perlu sama loe," ucap Dzoki ketus. Sikapnya masih dingin dan sedikit arogan.


"Sorry ... Ibu Cyeril sedang koma. Cyeril tidak bisa melaksanakan tugas," ucap Cyeril pelan.


Dzoki mendengarkan ucapan Cyeril dengan seksama dan memastikan kebenaran dan juga keberadaan Cyeril saat ini.


"Loe gak lagi menghindar dari gue kan? Karena soal semalam?" tanya Dzoki ada perasaan bersalah pada Cyeril.


Biar bagaimana pun juga, se -nakal -nakalnya Dzoki sebagai anak. Ia tetap pynya hati dab merasa bersalah jika menyangkut urusan perempuan. Karena Dzoki adalah laki -laki yang sayang sekali dengan Bunda Nur, ibu kandungnya.


Dzoki terdiam. Kedua matanya memandang ke arah Bunda Nur yang sedang sibuk dibdapur membuat kue jahe sendirian.


"Gue takut loe hamil, Ril. Kalau itu terjadi, gue bakal tanggung jawab. Loe gak usah khawatir. Tapi inget satu hal ...." ucap Dzoki sedikit mengingatkan dengan ancaman.


"Tapi apa?" tanya Cyeril penasaran.


"Loe hanya boleh berhubungan sama gue. Kalau gue tahu, loe jalan sama laki -laki lain. Gue gak segan -segan ninggalin loe, walaupun loe bilang loe lagi hamil anak gue. Satu hal lagi, gue tanggung jawab karena gue sadar ngelakuin itu semua sama loe dan bukan berarti gue tanggung jawab nikahin loe karena gue cinta sama loe. Paham kan loe, maksud gue?" ucap Dzoki lantang.


"Iya aku tahu. Aku paham maksud kamu, Ki," ucap Cyeril pelan.


Cyeril langsung menutup ponselnya sepihak. Ia sedang malas berbasa basi. Pikirannya hanya pada Ibunya saja.


Dzoki menatap layar ponselnya yang sudah di matikan oleh Cyeril sepihak. Dzoki tak menyangka teleponnya di tutup begitu saja oleh Cyerul karena selama ini tak ada yang berani berbuat hal itu kepada Dzoki.

__ADS_1


"Dzoki? Melamun saja?" panggil Bunda Nur dari arah dapur sambil mengocok adonan kue menatap ke arah Dzoki yangvtermenung menatap ponselnya duduk di anak tangga.


Dzoki terkejut dan mematikan layar ponselnya lalu menatap ke arah Bunda Nur.


"Ya Bun," jawab Dzoki agak gugup.


Bunda Nur hanya tertawa pelan menatap anak lelakinya yang terlihat kaget.


Dzoki bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur menghampiri Bunda Nur.


"Kok malah ketawa sih, Bun," ucap Dzoki menatap lekat Bunda Nur yang masih terkekeh.


"Lucu lihat muka kamu kayak tadi. Kayak habis putus cinta, lagi galau gitu. Putus sama Tasya?" tanya Bunda Nur pelan sambil mengaduk adonan tepung itu hingga sangat lembut sekali.


"Bun ...." panggil Dzoki pelan. Ia menarik salah satu kursi di meja makan sambil menatap lekat ke arah Bunda Nur.


"Apa? Pasti mau curhat soal Tasya?" tuduh Bunda Nur lqngsung.


Dzoki menggelengkan kepalanya cepat.


"Bukan Bun. Ekhemm ... Tapi menurut Bunda, Tasya bagaimana?" tanya Dzoki pelan bertanya soal perempuan. Selama ini Bunda Nur tahu, wanita yang mendekati Dzoki sangatlah banyak, tapi tak satu pun ada yang di pacarinya.


Bjnda Nur mematikan mixwrnya dan meletakkan alat pengocok itu dan menatap lekat kenarah Dzoki.


"Kamu suka sama Tasya? Bunda kira sudah pacaran. Habis sudah sering kesini, terus bahasa tubuh kalian kayak dekat banget," ucap Bunda Nur mengungkapkan dwngan jujur apa yang beliau lihat selama ini.


"Dzoki memang suka sama Tasya ... Tapi ... ada hal lain yang sedikit mengganggu hati Dzoki," ucap Dzoki dengan jujur.


"Kalau mau cerita. Bunda siap mendengarkan," ucap Bunda Nur pelan. Bunda Nur tahu persis sifat Dzoki. Di balik sikap berani dan arogannya, ia memiliki hati yang super lembut dan tidak tegaan kepada perempuan.


"Ekhemmm ... Dzoki, sudah meniduri gadis lain yang juga teman satu kampus," ucap Dzoki jujur kepada Bunda Nur hingga sang Bunda pun mendelik tercengang tak percaya kepada ucapan Dzoki.

__ADS_1


Dzoki tak kuasa menatap kedua mata tajam Bunda Nur.


__ADS_2