KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
16


__ADS_3

Perjalanan dari rumah Dzoki menuju kampus tidak lah memakan waktu yang lama. Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit saja.


"Mau turun di mana? Ayah antar sampai di dalam atau di sini saja?" tawar Ayah pelan kepada Cyeril.


"Di sini saja, Yah," jawab Cyeril pelan.


Mobil Ayah Riski berhenti tepat di pinggir trotoar menuju kampusnya. Dengan sopan Cyeril mencium punggung tangan ayah mertuanya itu dan membuka pintu mobil lalu keluar.


Ayah Riski langsung melajukan kembali mobilnya menuju kantor sambil memberikan klakson kepada Cyeril.


Ada tiga pasang mata menatap ke arah Cyeril sambil berbisik dari kejauhan. Tatapn mereka tajam sambil menatao plat mobil yang mengantar Cyeril tadi.


Cyeril berjalan menuju halaman kampus dan memasuki lobby kampus menuju bagian pengajaran. Ia mau menanyakan statusnya yang sudah tak masuk satu bulan, masih bisa melanjutkan kuliah atau harus cuti. Lalu? Bagaimana dengan beasiswanya?


"Cyeril!!" panggil Anton yanh baru masuk dari pintu masuk sayap kiri. Sepertinya ia baru saja sarapandari kantin kampus.


Cyeril menoleh ke arah Anton dan melambaikan tangan kanannya saat tahu yang memanggilnya adalah Anton.


Anton bergegas berlari kecil menghampiri Cyeril dan saling bertegur sapa.


"Kemana aja, Ril? Satu bulan kamu gak masuk kuliah? Itu tandanya sudah empat kali pertemuan kelas kamu absen," ucap Anton menjelaskan.


Cyerul hanya tersenyum kecut.


"Ibu ku sakit keras kemudian koma dan akhirnya meninggal. Jadi gak mungkin aku ninggalin Ibu sendirian di kampung. Bagus, aku di sana menemani Ibu," ucap Cyeril lirih.


"Innailahi. Maaf Ril, aku gak tahu soal ibumu," ucap Anton pelan.


"Gak apa -apa Anton," jawab Cyeril pelan.


Cyeril berhenti di dengan ruangan pengajaran dan membaca semua pengumuman untuk satu minggu ini. Tapi sepertinya tidak ada yang penting.


"Kamu mau kemana?" tanya Anton pelan saat melihat Cyeril berhenti di depan pintu ruang pengajaran.

__ADS_1


Cyeril menatap Anton lalu tertawa.


"Ya mau masuk lah," ucal Cyeril santai. Tangannya sudah bersiap mendorong pintu ruang pengajaran itu.


"Mau ngapain?" tanya Anton bingung.


"Banyak. Masalah ijin aku yang satu bulan lalu masalah beasiswa," ucap Cyeril pelan.


Dengan cepat, Cyeril mendorong pintu pengajaran tanpa memperdulikan Anton yang masih bingung.


Cyeril langsung to the point mendatangi seorang laki -laki yang amat ia kenal selama ini. Ia yakin beliau bisa membantunya dengan baik.


"Pagi Pak ... Langsung saja ya. Kemarin Cyeril kan libur satu bulan karena Ibu sakit keras terus koma dan akhirnya meninggal. Kebetylan saya dab hanya tinggal berdua, jadi saat ibu meninggal semua harys saya urus sendiri. Masalah perkuliahan bagaimana Pak? Apa saya tetap bisa melanjutkan atau lebih baik tidak. Kan waktu ijin saya melebih waktu yang di tebtukan yaitu senanyak dua kali absen saja. Lalu, hal lain mengenai beasiswa? Kalau tidak lanjut, semester depan saya masib dapat beasiswa atau smeuanya gugur?" ucap Cyeril pelan memohon pefunjuknya.


"Kamu Cyeril? Coba sebentar saya tanyakan. Karena alasan kamu, ibu meninggal. Boleh saya minta surat kematian Ibu kamu?" tanya lelaki itu pelan.


"Bisa pak. Sebentar saya ambillan di tas," jawab Cyeril pelan.


Setelah menunggu satu jam akhirnya keputusan dari pihak fakultas keluar. Apapun hasil keputusannya, Cyeril harus tetap bisa menerima lapang dada.


"Cyeril," panggil Pak Ahmad pelan sambil memberikan sebuah amplop.


"Ya Pak," jawab Cyeril pelan sambil menghampiri meja kerja yang panjang di ryang pengajaran.


Ya, ruangan ini adalah pusat keluh kesah setiap mahasiswa atau mahasiswi yang membutuh bantuan atau ada hal -hal lain yang harus di kerjakan secara urgent.


"Ini hasil keputusan fakultas. Bapak juga gak tahu apa isinya. Soalnya keputusan langsung dari Pak Dekan yang menurunkan. Bapak harap ini adalah hasil yang baik untuk kamu," ucap Pak Ahmad pelan sambil memebrikan sebuah amplop putih panjang berlogo universitasnya.


Cyeril langsung membuka dan membacanya. Senyumnya terbit hingga membuatnya bahagia dan ingin berteriak. Semester ini ia masih tetap bisa melanjutkan kuliahnya dan beasiswanya tidak akan pernah gugur hingga Cyeril lukus kuliah dengan persyaratan nilai yang sudah di tentukan. Jika dalam semester ini, Cyeril tidak mencapai target nilai IP dan IPKnya maka semester depan ia tidak bisa mengklaim beasiswanya.


"Alhamdulillah ... Bisa lanjut Pak. Ini kesempatan Cyeril. Terima kasih Pak atas bantuannya," ucap Cyeril pelan.


"Sama -sama Cyeril. Ini ada sedikit uang bela sungkawa dari fakultas juga. Semoga bermanfaat ya," ucap Pak Ahmad memberika satu amplop cokelat yang lumayan tebal kepada Cyeril.

__ADS_1


Memang akan selalu di beri kemudahan setelah kwsulitan yang di alami. Akan ada pelangi setelah badai besar. Mungkin rejekinya kali ini akan di pakai untuk membuka usaha entah apa nanti usahanya. Belum terpikirkan sama sekali oleh Cyeril. Paling tidak usaha itu yang bisa ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.


Cyeril berpamitan kepada Pak Ahmad dan memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas nya. Selama berjalan pelan di koridor menuju perpustakaan fakultas.


"Aku jualan apa ya? Untuk menambah uang jajan aku? Kalau uang ini langsung di pakai mungkin langsung habis. Kalau di jadikan modal maka akan teris berputar. Rasanya ingin tinggal di kos saja," ucap Cyeril pelan.


Jadwal kuliahnya pagi ini jam sepuluh pagi. Cyeril sengaja datang pagi -pagi untuk mengurus ini semua.


Sebelum ke perpustakaan, Cyeril menuju tempat setoran uang yang ada di kampus. Ia menyetorlan semua uang yang ada di amplop itu dan ternyata jumlahnya sangat lumayan sekali.


Setelah selesai menyetorkan uang ke rekeningnya. Cyeril berjalan menuju perpustakaan. Waktunya masih satu jam lagi sebelum masuk ke dalam kelas.


Cyeril mencari ilmu baru ia berjalan ke bagian majalah soal kewanitaan. Tadinya Cyeril ingin mencari hal yang berbau tentang kehamilan. Tidak banyak yang Cyeril tahu. Makanya Cyeril harus belajar banyak soal itu.


Ia mengambil beberapa majalah tentang kehamilan dan soal makanan. Cyeril jadi berpikir kalau ia ingin berjualan kue atau makanan ringan di kampus.


"Malu gak ya? Tapi? Aku harus mandiri. Kak Dzoki masih kuliah, dia juga masih meminta uang Bunda dan Ayah. Masa iya, aku ikut merepotkan mereka," ucapnya pelan dalam hati.


Setidaknya hari ini ia punya pengalaman baru.


"Hai ... baca apa?" tanya Anton tang sejak tadi mengikuti Cyeril.


"Baca apa aja. Buat menambah ilmu dan pengalaman," ucap Cyeril pelan.


"Wah bacaannya kayak udah siap jadi ibu dan istri yang baik. Boleh nih ikut antri," goda Anton.


Cyeril menatap Anton dan tertawa kecut.


"Cari perempuan lah. Jangan aku," jawab Cyeril pelan.


Anton menatap lekat Cyeril. Ia tak pernah mengerti. Kenapa Cyeril sulit sekali di dekati. Pandangannya berpaling dan kini ia menatap ke arah jari manis Cyeril. Bulatan pipih dan kemilau yang mengganggu pandangannya itu dari sana.


"Ril ... Kamu ...." ucapan Anton belum selesai. Dzoki sudah datang ke perpustakaan dan memnaggil Cyeril untuk segera ikut padanya.

__ADS_1


__ADS_2