
Cyeril sudah tak bisa bergerak. Tubuhnya berada dalam dekapan Egi yang ganas. Egi sudah berpikir untuk bisa mendapatkan tubuh Cyeril entah kapan waktunya nanti.
Egi menarik Cyeril dan memangku gadia mungil itu yang sudah kehabisan tenaga untuk berontak.
Kini giliran Tasya uanh berjalan mendekati Cyeril dan bersiap meminumkan air berwarna merah dari botol yang memang sudah di persiapkan untuk Cyeril.
"Tolong bantu gue!! Buka mulut Cyeril!!" teriak Tasya kasar kepada dua sahabatnya dengan gemas karena sangat lamban dan tidak bisa peka terhadap situasi.
Usia kehamilan Cyeril sudah hampir menginjak empat bulan beberapa hari lagi. Begitu juga dengan Tasya yang hanya terpaut satu bulan saja usia kandungannya dengan Cyeril.
Kedua mata Cyeril melotot menatap botol minum yang sudah di buka oleh Tasya dan siap di minumkan kepada Cyeril.
Cyeril terus menatap air dari botol itu dan berharap tumpah atau apalah agar tak terminum oleh Cyeril. Kalau pun sempat terminum, ia berusaha untuk tidak menelannya dan akan di semburkan. Cyeril harus kuat dan bisa menjaga buah hatinya.
Skip ...
Dzoki masih berada di dalam ruang lab. Komputer. Ia masih fokus mengerjakan ujian prakteknya yang tinggal beberapa soal lagi. Namun, tiba -tiba pikirannya terus tertuju pada Cyeril. Dzoki merasa ada yang tidak beres dengan Cyeril.
"Argh ... Kenapa sih ini?" tanya Dzoki lirih.
Dzoki terus mengerjakan semua soal itu dengan cepat dan terburu -buru. Dzoki ingin segera keluar dan menjemput istri kecilnya itu di ruang kelas tempat istrinya berada.
Tak lama, sepuluh menit kemudian Dzoki sudah selesai mengerjakan ujian itu lalu ia ijin untuk keluar lebih dulu dan langsung berlari ke arah lantai dua.
Suasana di koridor lantai dua nampak sepi sekali. Tidak ada satu pun orang yang berada di sana. Tapi ... terdengar suara rintihan dari ujung ruangan kelas.
Dzoki hanya membatin di dalam hatinya. 'Bukankah itu kelas Cyeril. Lalu siapa yang berteriak,' lirih Dzoki sambil berlari cepat menuju ruangan kelas itu.
Ceklek ...
Dzoki masuk ke dalam dan Cyeril terus merintih tak melihat kedatangan Dzoki.
__ADS_1
"Cyeril," panggil Dzoki lirih menatap Cyeril dan memeluk istrinya.
"Kak Dzoki ... Tolong Cyeril?" titah Cyeril menahan rasa sakitnya.
Dzoki menatap Cyeril yang memegang perutnya dan sedang menangis. Tas nya sudah terlempar di ujung dinding dengan isi di dalam tasnya yang sudah berhamburan ke lantai. Dzoki juga melihat ada dua botol minuman di sana yang sudah tumpah isinya memenuhi lantai.
Dzoki hanya bingung. Dengan cepat ia membereskan tas Cyeril dan mengangkat istrinya keluar dari ruang kelas dan membawanya ke rumah sakit terdekat menggunakan mobilnya.
Cyeril terus merintih sepanjang jalan seperti gadis yang tak sadarkan diri terus meracau.
"Kamu kenapa Ril. Kenapa bisa begini?" ucap Dzoki merasa tak terima. Ia akan membalas perlakuan orang yang telah membuat Cyeril menderita.
Lima belas menit berlalu. Dzoki sudah sampai di rumah sakit lalu membawa Cyeril langsung ke UGD. Bunda Nur juga sudah datang setelah di beri kabar oleh Dzoki.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Dzoki? Kenapa Cyeril bisa begitu?" tanya Bunda Nur bingung sambil betjalan mondar mandir di depan ruang UGD.
"Dzoki gak tahu Bunda. Dzoki lagi ujian komputer di basement. Cyeril ada kelas di lantai dua," ucap Dzoki lirih.
Dzoki merasa bersalah sekali jika benar sesuatu terjadi pada Cyeril. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Ia telah teledor menjaga Cyeril dan anak yang di kandung oleh Cyeril. Kejadian waktu itu sudah membuat Cyeril juga hampir saja kehilangan bayi yang di kandungnya. Dan jangan sampai ini terulang lagi.
Ceklek ...
"Keluarga pasien Cyeril?" Seorang perawat keluar dati ruang UGD dan berteriak keras untuk memanggil keluarga pasien.
Bunda Nur dan Dzoki langsung menghampiri perawat itu dan di persilahkan masuk untuk menemui dokter dan menjenguk Cyeril.
Dzoki langsung berlari menghampiri Cyeril.
"Ril kamu kenapa?" tanya Dzoki lirih memegang tangan Cyeril dan menciumi punggung tangan Cyeril berkali -kali dengan penuh kasih sayang.
Dzoki tak tega setiap kalo melihat Cyeril terkulai lemas di atas brankar rumah sakit dan di tangannya sudah tertusuk jarum infusan yang menandakan Cyeril sedang tidak baik -baik saja.
__ADS_1
"Cyeril gak apa -apa Kak," ucap Cyeril lirih.
"Kalau gak apa -apa. Kenapa kamu bisa begini? Lalu di botol itu minuman apa?" tanya Dzoki masih dengan panik.
Cyeril hanya tersenyum menatap Dzoki yang kebingungan.
"Menantu saya kenapa dokter? Ada masalah dengan kandungannya?" tanya Bunda Nur juga penasaran.
"Cyeril baik -baik saja. Dia bisa menjaga dirinya dengan baik sehingga bayinya pun selamat," ucap dokter itu tersenyim menatap Cyeril.
Dzoki langsung menatap lekat ke arah dokter itu dan Cyeril secara bergantian. Tatapannya tajam dan penuh emosi. Dzoki paljng tidak suka orang -orang yang dia sayang terganggu dan di ganggu kehidupannya.
"Apa maksudnya ini? Jelaskan pada Kakak sekarang juga Ril!! Kamu kenapa!!" teriak Dzoki marah.
Bunda Nur langsung mengusap lembut punggung Dzoki agar emosinya terjaga. Semua bisa di bicarakan dengan baik tanpa harus bicara keras dan membentak.
"Tenang Ki. Bukan marah -marah penyelesaiannya. Kita dengar dulu penjelasan dokter dan Cyeril. Kamu jangan langsung emosi," ucap Bunda Nur menasehati.
Dzoki menarik napas dalam dan di hembuskan perlahan. Ia mulai mengontrol napasnya yang memburu karena murka.
"Jadi gini. Menurut pengakuan Cyeril, ia akan di cekoki oleh minuman berwarna merah. Itu adaalah minuman biasa yang di campur dengan serbuk obat penggugur janin. Memnag sempat terminum dan sudah di keluarkan dengan cara di muntahkan," ucap dokter itu menjelaskan.
Dzoki langsung marah dan mengepalkan tangannya dengan erat. Ia harus menemukan orang yang telah berusaha merusak hubungannya dengan Cyeril dan berusaha menghilangkan nyawa bayinya.
Cyeril memegang tangan Dzoki, suaminya lembut dan di cium dengan mesra.
"Cyeril gak apa -apa. Jangan cari orang itu dan jangan cari tahu. Dia sudah dapat balasan yang setimpal," ucap Cyeril menjelaskan.
"Gak bisa Ril. Kakak gak bisa tinggal diam kalau soal ini. Mungkin kalau soal lain, Kakak akan diam. Ini soal kamu dan anak kita. Kalau tidak di mulai, Kakak juga gak akan membalas," ucap Dzoki penuh emosi.
"Sudahlah Ki. Cyeril sudah meminta kamu untuk menyudahi. Jangan kamu cari masalah baru. Pikirkan saja kondisi Cyeril dan bayi kamu," ucap Bynda Nur juga menasehati.
__ADS_1
Dzoki terdiam. Ia tak menjawab. Lebih baik diam dan tetap pada tekadnya untuk mencari orang tersebut.
"Ya sudah. Cyeril bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Cyeril harus tetus di pantau kondisinya agar tetap stabil," titah dokter itu menjelaskan.