
Hari ini adalah kepulangan Dzoki karena sudah satu bulan melaksanakan KKN di desa Sumber.
Dzoki dan beberapa temannya sudah mempersiapkan tameng untuk melawan Mira jika berbuat macam -macam. Tapi ternyata Dzoki dan teman -temannya salah. Sejak kejadian itu, ternyata Mira tidak ada pergerakan sama sekali. Tapi, bukan berarti tim Dzoki diam dan tidak mengantisipasi.
"Semua kumpul yang sudah selesai," ucap Dzoki menegaskan.
Beberapa orang sudah berkumpul tapi tidak dengan Mira. Entah kemana Mira pagi itu sudah tidak ada.
"Mira tidak ada di kamar," ucap Lily keras. Lily adalah orang terakhir yang keluar kamar sambil membawa tas dan barang -barang yang masih tertinggal.
Dzoki dan keempat teman lelakinya yang sedang santai di depan posko sambil minum kopi pun menoleh kaget ke arah Lily yang berteriak dengan suara keras.
"Masa iya gak ada?" tanya Dzoki bingung.
"Gak ada. Barang -barangnya pun juga gak ada. Gimana dong? Dia melakukan sesuatu di luar dugaan kita. Pintar sekali dia, dasar belut," ucap Lily dengan kesal.
Dzoki duduk di depan posko ia menunggu Cyeril datang dengan supir yang akan membawa semua barang teman -temannya di bagasi mobil.
"Tenang Ki. Kita semua kan bakalan kompak mengatasi masalah ini," ucap Made menyemangati dan menepuk bahu Dzoki pelan.
Semua teman -teman Dzoki akan selalu memberikan yang terbaik. Mereka sudah kompak di akhir minggu menjelang kepulangan mereka karena tugas program kerja mereka sudah selesai.
"Gue gak habis pikir aja sama Mira. Maunya apa sih?" ucap Dzoki lirih.
Masalah ini juga sudah Dzoki sampaikan pada Cyeril. Cyeril juga paham dan bjsa menerima. Bukan menerima pasrah tapi ikut membantu mencari solusi terbaik.
"Pagi semua ...." sapa Cyeril sambil berteriak keras dari halaman rumah sederhana dengan dua tentengan besar di tangannya.
Cyeril sengaja membawa dua mobil. Satu mobil ia setir sendiri dan satu mobil dengan supir yang menyetir untuk membawakan semua barang teman -teman Dzoki.
Dzoki mengangakt wajahnya. Senyimnya terbit. Wajah cantik Cyeril membuatnya tenang dan bahagia.
Dzoki pun berdiri dan memghampiri istri kecilnya.
__ADS_1
"Hai sayang? Bawa apa?" tanya Dzoki sambil mencium pipi Cyeril lembut.
"Bubur ayam sayang. Yuk kita makan bareng -bareng. Mumpung masih pagi dan masih panas. Pasti enak," ucap Cyeril bahagia.
Semua teman -teman Dzoki bersorak senang. Maklum anak kampus paling suka makan enak tapi gratisan.
Mereka paling senang jika Cyeril datang menyambangi rumah sederhana itu untuk menjenguk Dzoki. Tentu tidak dengan tangan kosong. Cyeril pasti membawa makanan banyak dan mentraktir apapun yang lewat atau warung yang ada di dekat sana.
Cyeril sudah mengeluarkan beberapa kotak steroform dan masing -masing orang mulai memgambil satu kktak dan menikmati bubur ayam di jari terakhir sambil memandangi pemandangan indah dari rumah sederhana itu.
"Lho kok ini sisa? Siapa yang belum makan?" tanya Cyeril menatap satu kotak steroform yang masih ada di meja.
"Mira yang gak ada. Dia kabur," ucap Dzoki tenang. Dzoki terlihat santai, begitu juga dengan semua temannya yang terlihat tak peduli dengan tidak adanya Mira.
"Memang Mira kemana?" tanya Cyeril penasaran.
"Kakak gak tahu. Tahu -tahu sudah gak ada tadi pagi. Sudahlah. Lagi gak mau bahas itu. Kakak mau sarapan dengan tenang," ucap Dzoki tak peduli.
Bagi Dzoki yang nanti ya biar nanti di bahasnya. Sekarang yang terpenting isi amunisi untuk menambah energi agar bisa berpikir lebih jernih lagi.
***
"Kamu bawa mobil sendiri? Bunda tahu gak? Kok kamu nekat sih? Kakak kan gak pernah ijinin kamu," tegas Dzoki pada Cyeril.
"Lho bukannya Kakak nanti bareng Cyeril?" tanya Cyeril pelan. Cyeril berpikir kalau sudah pulang berarti bebas dan bisa pulang bersama.
"Mana bisa gitu, Sayang. Kakak sama teman -teman naik bis lagi," ucap Dzoki pelan.
"Ya sudah. Cyeril tungguin. Cyeril akan bawa mobil di belakang bis Kak Dzoki dan Pak Supir jalan di belakang Cyeril," ucap Cyeril menggampangkan.
"Hadeuh ... Kakak gak bisa melepas kami sendirian begini. Mana perut kamu besar begitu. Kakak khawatir tahu. Kalau tahu kamu tadi datang sendiri, Kakak pasti marah," ucap Dzoki mulai emosi.
Karakter Dzoki memang kan mudah marah dan emosi. Apalagi berhubungan demgan keselamatan Cyeril.
__ADS_1
***
Semua mahasiswa dan mahasiswi sudah berkumpul di lapangan besar kecamatan. Semua berbaris dengan sangat rapi. Suasana sedikit mencekam. Menurut desas desus, ada sesuatu hal yang terjadi. Ada seorang mahasiswi dari suatu kelompok mengadu telah di perlakukan secara tidak baik hingga ia mengandung dengan teman sekelompoknya sendiri.
Cyeril duduk di sebuah warung bersama Pak Supir menunggu Dzoki. Sesekali ia memegang perutnya yang terasa keram. Usia kandungannya sudah tujuh bulan. Baru dua hari yang lalu, Cyeril periksa ke doktet kandungan bersama Bunda Nur.
"Non Cyeril kenapa? Sakit? Kok meringis begitu?" tanya Pak Supir pelan sambil menatap ke arah sekitar.
"Ah ... Gak Pak. Cuma agak keram saja," jawab Cyeril pelan.
"Tapi wajah Non Cyeril tetlihat pucat," ucap Pak Supir bingung dan panik.
Pak Supir dengan cepat ingin menelepon Bunda Nur dan memberitahukan kondiso Cyeril saat ini.
"Jangan telepon Bunda, Pak. Bunda bisa marah pada Cyeril nanti," cicit Cyeril pada Pak Supir.
"Tapi Non Cyeril pucat. Apa panggil den Dzoki?" tanya Pak Supir makin bingung.
"Jangan Pak. Sudah gak apa -apa. Tolong ambilkan minuman dingin saja," pinta Cyeril pada Pak Supir.
Pak Supir langsung mencarikan air dingin untuk Cyeril.
"Ini Non air dinginnya. Cepat di minum," titah Pak Supir lada Cyeril.
Dengan cepat Cyeril menguk air minum itu. Rasanya masih pusing dan malah tambah pusing sampai akhirnya Cyeril meletakkan kepalanya di meja.
Pak Supir berusaha membangunkan majikannya dan panik. Bisa di amrahi oleh den Dzoki atau Bubda Nur jika ia tak bisa menjaga Cyeril.
"Bu titip nona saya. Saya mau ke dalam bilang pada suaminya," titah Pak Supir pada ibu warung yang keluar membantu memegang tubuh Cyeril yang sudah terkulai lemas.
Pak Supir langsung lari ke dalam dan menemui panitia KKN. Pak Supir meminta ijin pada panitia KKN untuk memberitahu Dzoki bahwa istrinya pingsan.
Panitia KKN langsung memberitahukan melalui toa dengan suara keras dan lantang.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Dzoki berlari dengan cepat. Wajahnya langsung terlihat cemas dan panik luar biasa.