
Cyeril sudah berdiri dan berjalan menghampiri Dzoki yang sudah merentangkan tangannya untuk menggandeng tangan Cyeril yang mungil.
Tak lupa Dzoki mencium pipi Cyeril yang sengaja di lakukan di depan umum terlebih di depan Kahfi. Agar lelaki itu sama sekali tidak akan berbuat macam -macam pada Cyeril, istri kecilnya itu.
"Maaf lama menjemput kamu, Sayang. Gimana kontrak usahanya?" tanya Dzoki dengan suara keras.
"Ekhemm ... Kita sudah mulai bisa membawa peralatannya besok. Benar kan Pak Kahfi?" tanya Cyeril sopan.
"Ekhemmm ... Iya. Silahkan. But the way ... Selamat buat kalian berdua dan selamat untuk kehamilan kamu, Ril. Besok silahkan bawa barang -barangnya dan kontrak kerja saya buatkan besok sebagai pemasukan kafe," ucap Kahfi pelan.
Ya, Kahfi sudah tak berkutik dan merasa terpojok. Ia tidak taji kalau Dzoki adalah suami Cyeril.
Setelah memantapkan acara untuk besok Dzoki dan Cyeril berpamitan untuk segera pulang.
"Kak Dzoki gak di marahi Ayah?" tanya Cyeril merasa tak enak.
"Ayah akan lebih marah jika menantu kesayangannya dan calon cucunya di rebut oleh orang lain," ucap Dzoki tertawa lepas.
__ADS_1
"Mana ada begitu. Kan Cyeril sudah ijin sama Kak Dzoki. Lagi pula hubungan drngan Pak Kahfi memang hanya sebatas hubungan kerja saja. Kak Dzoki cemburu ya?" tanya Cyeril menudub langsung.
"Iya memang. Kak Dzoki khawatir sekali. Terus perasaan makin lama perasaannya makin tidak enak. Makanya Kak Dzoki ijin sama Ayah untuk jemput kamu. Malah di ajak makan malam di rumah. Jadi sekarang ke tempat Bunda dulu ya? Gak apa -apa kan?" tanya Dzoki lada Cyeril.
"Ya gak apa -apa dong Kak. Kan Bunda sama Uah yang suruh. Jadi gak masalah," ucap Cyeril sekali tidak keberatan.
"Makasih ya Ril," jawab Dzoki pelan.
Keduany mulai membuka pembahasan tentang bagiamana konsepnya menitipkan kue di kafe Kahfi.
"Nama produk kamu apa? Perasaan belum kasih nama beken untuk logo dan nama usaha kamu, Ril, ucap Dzoki mengingatkan.
Suatu nama usaha akan sangat penting peranannya sebagai hak cipta karya kita sendiri dan bukti bahwa usaha kita di kenal. Kalau usaha itu berbentuk makanan, maka orang akan mengenal rasa, bentuk dari nama yang sudah kita patenkan.
"Hemm ... Cyeril belum mencari nama yang pas," ucap Cyeril pelan sambil berpikir untuk mencari nama yang tepat.
"Coba kamu cari nama yang pas dan mudah di ingat," titah Dzoki kepada Cyeril.
__ADS_1
"Kak Dzoki ada masukan? Untuk nama?" tanya Cyeril meminta saran kepada Dzoki.
Dzoki menggelengkan kepalanya pelan. Tapi, ia tetap membantu Cyeril mencarikan nama yang pas untuk usaha kue istrinya itu.
"Kak ... gimana kalau kece, tulisannya K'Cye? Gimana? Huruf K di ambil dari nama Kak Dzoki dan Cye nya dari Cyeril. Usaha ini kan kita rintis bersama. Jadi harus ada nama berdua?" ucap Cyeril senang.
"Kamu yakin?" tanya Dzoki pelan.
"Yakin apa?" jawab Cyeril.
"Yakin ada nama kita," ucap Dzoki sedikit menggoda.
"Yakin. Bukankan kita sudah bersama? Atau ada niatan untuk meninggalkan Cyeril dana anak ini?" tanya Cyeril pelan sambil menatap wajah Dzoki dari arah samping.
"Gak. Kak Dzoki gak mau ninggalin Cyeril. Jangan ngomong begitu lagi. Kak Dzoki gak suka," ucap Dzoki kesal.
"Maafkan Cyeril Kak," ucap Cyeril lirih merada bersalah. Niatnya menggoda malah jadi salah paham begini.
__ADS_1