KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
27


__ADS_3

Ayah Riski masih duduk di ruang tunggu sambil bersandar di kursi besi panjang yang ada di depan ruang IGD.


Begitu juga Bunda Nur yang ikut duduk tegang di sebelah Ayah Riski. Dzoki berdiri bersandar pada dinding rumah sakit sambil menatap beberapa ibu hamil yang berjalan dan menunggu untuk di periksa bersama suaminya.


Tingkah ibu hamil itu aneh dan lucu- lucu ada yang tiba -tiba memukul suaminya. Ada yang minta di usap terus perut beaarnya itu. Ada yang meringis kesakitan dan memegang bagian pinggang.


"Perasaan Cyeril tidak begitu," ucap Dzoki lirih.


Ia menatap juga ibu hamil yang di dorong menggunakan bed dorong untuk tindakan lahiran atau operasi karena harus di pindahlan ruangannya.


Dzoki bergidik ngeri. Rasanya seram juga. Ia berjalan ke koridor panjang itu. Sepanjang koridor ada beberapa ruang poli untuk pemeriksaan dan ruang bayi.

__ADS_1


Jelas tetbaca di sana ruang bayi. Dzoki tanla sadar berjalan ke arah sana dan melihat bayi -bayi yang sudah yerlahir di dunia.


Kaca besar tembus pandang itu memang di gunakan untuk melihat lara bayi -bayi mereka yang memang di rawat dengan baik oleh perawat selama ibu mereka belum pulih benar dan masih membutuhkan perawatan untuh kestabilan tubuhnya.


"Wah ... bayi -bayi itu lucu sekali. Cyeril tentu akan memiliki anak seperti ini. Lalu bagaimana dengan Tasya? Hah? Dalam hatiku sama sekali tak merasa aku telah melakukan apapun pada Tasya," lirih Dzoki berucap.


"Dzoki ... Cyeril sudah siuman," panggil Ayah Riski dengan suara keras sekali membuat Dzoki yang melamun pun langsung menoleh ke arah Ayah Riski dan berjalan ke arah temlat tadi dengan cepat.


Bunda Nur sudah berada di dalam ruangan bersama Dzoki karena tadi dokter yang memeriksa Cyeril telah memanggil dan menyuruh orang tua serta suami Cyeril masuk ke dalam ruang IGD untuk di berikan informasi seputar kesehatan Cyeril.


"I -iya saya suaminya," ucap Dzoki yang baru saja datang dan langsung di tembak pertanyaan seperti itu. Ia langsung gugup setengah mati. Apalagi saat tatapan Dzokinlangsung tertuju pada Cyeril yang masih terbaring lemah

__ADS_1


Ada perasaan bersalah di dalam hatinya.


"Jaga Ibu Cyeril, istrimu dengan baik. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Sebagai suami harus siaga dan jangan teledor. Menjadi wanita hamil iti tidak mudah harus di jaga hatinya, perasaannya dan jiwanya. Intinya cuma satu. Mereka harus bahagia. Jika tidak maka akan berdampak pada jiwanya dan kandungannya. Tinggal pilih mau yang mana," titah dokter kandungan yang memeriksa Cyeril.


"Baik dokter. Terima kasih atas saran dan nasihatnya. Saya pasti akan selalu ingat semua saran dan semua nasihat terbaik untuk istri saya," ucap Dzoki pelan.


"Bagus. Jangan lupa sering kontrol setiap bulan dan setiap ada keluhan," ucap dokter kandungan itu kembali mengingatkan.


"Iya dokter," jawab Dzoki pelan.


Dzoki perlahan melangkahkan kakinya mendekati ranjang rawat yang di tempati oleh Cyeril. Dzoki berdiri di smaping ranjang rawat itu berseberangan dengan Bundanya.

__ADS_1


Rasanya masih agak canggung sekali untuk memulai percakapan di antara keduanya. Apalagi tadi malam keduanya yerlibat percekcokkan.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Dzoki pelan.


__ADS_2