
Tasya berulang kali berteriak dengan keras di dalam ruangan kamar tidur milik Egi. Kedua tangannya di ikat di ranjang tempat tidur.
Egi tidak mau Tasya menggagalkan rencana balas dendamnya. Tasya yang awalnya menyukai Egi yang pendiam dan nampak kalem pun lama kelamaan sifat aslinya pun kentara jelas. Jauh dengan sikap Dzoki yang terlihat arogan tapi lembut di dalam.
Egi duduk di sofa panjang sambil menyulut rokok satu batang. Ia hanya memakai boxer saja setelah mengerjai Tasya beberapa kali membuat Egi puas menikmati. Tatapannya masig menyorot ke arah Tasya yang sengaja ia ikat dan di lucuti semua pakaiannya. Perut Tasya yang mulai membesar pun tersorot jelas dari kejauhan. Tapi itu yang membuatnya nampak seksi dan semakin menggairahkan.
"Salah gue ke loe apa Egi!!" teriak Tasya yang terus berontak dan berusaha mengendurkan ikatan kecang pada pergelangan tangannya. Mungkin saja, tangan itu bisa terlepas dan membuatnya kabur.
Egi hanya tertawa licik pada Tasya.
"Loe pikir saja sendiri. Salah loe itu apa? Harus gue jelaskan satu per satu," ucap Egi santai.
"Gila loe. Gue ini hamil anak loe!! Malah gue yang loe siksa!! Loe itu waras gak sih!!" teriak Tasya pada Egi keras membentak.
Egi masih santai dan tak tersulut sedikit pun dengan bentakan Tasya. Ia masih menghisap rokok di tangannya dan di hembuskan pelan melalui mulutnya.
Tasya makin meracau kesal. Ucapannya makin terdengar melebar kemana -mana.
"Loe itu emang gila Gi!! Loe gak sayang sama anak loe sendiri!! Bahkan gak peduli sama kondisi gue yang lagi hamil," teriak Tasya makin geram.
Egi mematikan puntung rokoknya yang tinggal sedikit di asbak. Lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Tasya yang masih berada di atas ranjang dengan tubuh yang masih polos tanpa tertutupi apapun. Pemandangan ini memang sangat enak di pandang.
Seorang wanita tanpa sehelai benang di tubuhnya dan meliuk -liuk di atas kasur dengan tangan terikat. Itu sangat menaruk sekali membuat libido Egi dengan cepat terpacu naik hingga ke ubun -ubun.
Egi pun merangkak ke atas ranjang dan mulai menaiki tubuh Tasya yang pasrah. Kedua kaki Tasya di biarka berontak. Kalau makin mengganggu, tidak ada salahnya kedua kaki itu juga ikut terikat.
Egi mengambil obat di samping nakas lalu ia minum dua butir. Dengan celar ia mengikat kaki Tasya dengan ikat pinggang yang di kaitkan pada tiang ranjang.
__ADS_1
Egi mulai melepaskan boxernya. Stik golf itu sudah kokoh tegak dan nampak kuat, siap menunjukkan keperkasaannya.
Tangan Egi pelan menyusuri tubuh Tasya sambil bercerita panjang lebar kalau ia benci pada Dzoki.
Egi sudah tidak sadar. Ia sengaja dopping obat untuk membuat tubuhnya rileks.
"Loe tahu kan Sya!! Orang tua gue itu berceeai karena apa?!! Karena perusahaannya kolabs. Mereka sudah mempertaruhkan semuanya dan berjuang mati -matuan untuk mendapatkan proyek raksasa itu. Tapi malah Ayah Dzoki yang beruntung. Itu yang buat gue benci sama Dzoki!! Di tambah lagi, loe jiga suka sama Dzoki padahal loe tahu, dari awla gue kenal loe. Gue pengen banget jadi cowok loe. Tapi ... sekarang sudah gak lagi. Ternyata tubuh loe sama kayak tubuh perempuan malam yang sering gue tidurin!! Gak ada yang spesial!! Ini yang bikin gue malas nikahin loe. Loe itu mudah dan murah!! Gak ada gue, loe bisa menclok sana sini. Ada hue, emang loe setia sama gue. Tapi itu bisa gue jadiin tolok ukur. Loe tahu? Gue lagi ngincer siapa sekarang?" tanya Egi pelan.
Kepalanya mulai di tenggelamka di leher Tasya dan terus di hisap di bagian -bagian yang membuat gemas Egi.
Tasya hanya bisa diam dan pasrah. Hisapa itu awlanya memang enak tapi di akhir meninggalkan rasa sakit di kulitnya.
Egi langsung menghujamkan stik golfnya tepat di di lubang yang sudah siap menganga menerima sodoka lembut hingga kasar itu.
Kedua tangan Egi juga tak bisa diam dan terus bergerilya memegang dan memilin ujung semeru yang menimbulkan letusan suara enak di drnagr dari bibir Tasya.
"Gue lagi pengen Cyeril. Tuh cewek makin lama bikin gue tegang kalau lihat dia. Pesonanya luar biasa sekali, pantes aja Dzoki lebih milih Cyeril di bandingin loe. Walaupun loe itu cantik!! Tapi loe teteo beda sama Cyeril," ucap Egi kesal.
Egi terus melakukan gerakan maju mundur hingga Tasya menheluarkan cairan hangat berkali -kali dan membuat Egi terus ingin bermain petak umpat di dalamnya.
"Hah ... Mungkin saja rasanya akan sama seperti ini," racau Egi yang mulai menggila.
Tasya hanya diam menatap Egi yang setengah mabuk dari pil yang di minumnya tadi.
Skip ...
Pengacara Firman mulai beraksi. Ia dan anggota teamnya mulai mencari dan mengumpulkan banyak bukti untuk melepaskan Dzoki dan memang tidak ada keterkaitan sama sekali antara Dzoki dan Mahesa.
__ADS_1
Selama ini mereka tidak kenal dekat. Bahkan ngobrol bersama pun tidak.
Dzoki terdiam melamun di dalam sel rahanan. Ini adalah pengalaman terburuk. Pantas saja, Ayah dan Bundanya selalu menasehati untuk tidak ikut -ikutan untuk dalam anggota genk motor. Bukan nyawa saja yang bisa melayang saat balapan liar, bukan hanya nama baik saja yang bisa mencoreng keluarga besarnya. Tapi juga ada intimidasi, ada bullyan, ada mafia, ada unsur kesengajaan karena tidak suka.
"Dzoki ... Ada yang menjenguk kamu. Ayo keluar," ucap cipir yang membuka kan gembok sel tahanan yang di tempati eh Dzoki.
Dzoki keluar dan mengangguk tenang. Ia tidak tahu, siapa yang akan datang pagi ini. Tidak mungkin kedua orang tuanya. Apalagi Cyeril yang sedang hamil dan sudah kecewa pada Dzoki.
Langkah Dzoki memelan. Ia menatap ke arah ruang tunggu dan mendapati istri kecilnya duduk menunggunya dengan satu kantung palstik besar yang di letakkan di mejanya.
"Sayang ...." panggil Dzoki mesra.
Cyeril menoleh ke arah Dzoki dan tersenyum manis.
"Kak Dzoki ...." teriak Cyeril bahagia. Ia menghampiri Dzoki dan memeluk tubuh kekar Dzoki yang terasa nyaman saat di peluk.
Dzoki membawa Cyeril ke kursi. Kali ini tidak ada tangisan seperti kemarin. Cyetil sudah legowo dan lega.
"Ini masih pagi sayang. Kamu gak lelah sudah ke sini pagi -pagi?" tanya Dzoki pelan.
Ini baru pukul delapan pagi. Bahkan narapidana lain belum ada yang di jenguk. Tapi Cyeril sudah standby di ruang tunggu menunggu kedatangan suaminya. Memang jam kunjungan di mulai pukul delapan pagi sampai pukul emlat sore tanla ada jam istirahat.
"Satu detik waktu itu berharga buat aku. Melihat wajah Kak Dzoki itu membjat anak kita bahagia," ucap Cyeril pintar beralasan.
"Hemmm ... Bisa saja istri Kakak menggoda Kakak dan membuat Kakak terbang melayang," ucap Dzoki megusap lembut kepala Cyeril.
"Sarapan yuk Kak?" pinta Cyeril cepat.
__ADS_1
Cyeril tahu, Dzoki belum sarapan pagi. Ia termasuk lelaki yang suka pilih -pilih makanan. Dzoki lebih suka makanan rumahan buatan Bunda Nur atau Cyeril. Makanya Cyeril memasak untuk Dzoki banyak. Untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Semuanya sudah di persiapkan dalam kotak makanan. Tidak lupa Cyeril menambahkan beberapa toples kue kering untuk di makan bersama teman -teman Dzoki di dalam sel tahanan.
Tidak semua narapidana itu jahat. Ada yang sama seperti Dzoki hanya di jebak. Ada yang melakukannya tanpa kesengajaan. Ada yang bukan pelaku sesungguhnya karena ia di bayar. Ada yang memang pelaku aslinya. Tapi semuanya itu hanya cerminan saja atas perbuatannya. Mereka baik dan sopan. Ada segudang alasan kenapa mereka berbuat jahat.