
Bunda Nur dan Ayah Riski sudah berada di rumah sakit. Kedua orang tua itu mulai cemas. Sudah setengah jam Cyeril berada di dalam ruangan IGD dan belum ada tanda -tanda satu dokter atau perawat yang memanggil mereka untuk memastikan keadaan Cyeril yang tadi tak sadarkan diri.
Ayah Riski nampak lebih tenang di bandingkan Bunda Nur. Mungkin tingkat ketegangan dan tingkat kesetresan seorang Ibu dan Ayah itu akan berbeda sekali.
Bunda Nur bolak balik berjalan tepat di depan pintu ruangan IGD sambil sesekali menatap ke arah dalan ruangan itu melalui kaca kecil tembus pandang yang ada di pintu masuk.
Terlihat memang, Cyeril sedang di periksa. Kedua mata Cyeril masih terpejam tapi selang infusan sudah masuk melalui tangan Cyeril.
"Kok lama banget ya? Kita gak di suruh masuk sih? Kan Bunda penasaran," ucap Bunda mulai cemas dengan keadaan Cyeril.
__ADS_1
"Nanti juga di panggil Bun. Bunda yang tenang dong," jawab Ayah santai sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tunggu.
"Arghh ... Ayah gak paham sama Bunda. Bunda itu perempuan. Bunda pernah ada di posisi Cyeril waktu Ayah sibuk mendapatkan tugas di luar kota. Bedanya ... Bunda tak separah Cyeril saat ini," ucap Bunda Nur mulai gelisah dan semakin panik.
Dari kejauhan nampak Dzoki berlari cepat menghampiri Bunda Nur dan Ayah Riski yang sedang berada di luar runag IGD. Wajah Dzoki memang sedikit panik, tapi masih bisa tak di tampakkan dengan sangat jelas. Dari lubuk hati yang paling dalam jelas sekali, Dzoki khawatir. Ada benih yang ia titipkan di rahim Cyeril. Mau tidak mau dan suka atau tidak suka, Dzoki punya ikatan batin tersendiri dengan janin yang di kandung oleh Cyeril. Karena Dzoki aalah ayah biologis bayi yang saat ini di kandung Cyeril.
"Cyeril gimana Bun?" tanya Dzoki dengan memelankan nada suaranya sambil emngatur napasnya yang masih tersengil -sengol.
Tatapan Bunda Nur masih tajam dan lekat. Wajah Bunda Nur juga terlihat masih geram dengan sikap dan kelakuan Dzoki yang tak peduli tadi.
__ADS_1
"Kamu masih nanya? Keadaan Cyetil bagaimana? Kamu sadar gak Dzoki!! Kamu itu laki -laki kuat, bahkan kamu itu suami Cyeril bukan laki -laki single yang gak punya beban dan gak ada beban. Kamu ingat!! Lamu itu calon Ayah dari anak yang sedang di kandung oleh Cyeril!! Lalu kalau kelakuan kamu masih begini? Kanh mau jadi suami yang bagaimana? Kamu mau jadi Ayah yang seperti apa? Mana bisa di banggakan oleh anak kamu? Kalau Ayahnya saja gak punya kelebihan apapun!!" ucap Bunda Nur dengan anda tinggi dan menghentak.
Ayah Riski berdiri dan memegang bahu istrinya agar Bunda Nur lebih tenang dan meredam emosiny pada Dzoki.
"Sudah Bunda. Jangan di teruskan, malu smaa orang yang ada di sini. Semua mata melihat ke arah kita," titah Ayah Riski lembut dan menarik tubuh Bunda Nur untuk segera duduk di sampingnya.
Lebih baik mengontrol emosi dan menunggu hasil pemeriksaan dokter seelah memeriksa keadaan Cyeril.
"Biarin Yah. Biar Dzoki itu paham!! Dia bukan anak -anak lagi yang bisa seenaknya. Sebentar lagi dia itu punya anak!! Seharusnya dari sekarang kamu mulai berpikir keras. Bagaimana caranya bisa membahagiakan keluarga kecil kamu tanpa campur tangan Bunda dan Ayah!! Pikirka baik -baik," ucap Bunda Nur mulai kesal.
__ADS_1