
Dzoki sudah berdiri di dekat meja perpustakaan di mana Cyeril seang membaca majalah tentang wanita hamil.
Tatapan Dzoki begitu tajam menatap Cyeril dan mendengus kesal.
"Ngapain loe di sini. Katanya ada kuliah pagi? Malah asyik mojok berdua di perpustakaan. Udah lama nih begini? Jadi ini alasan berangkat pagi? Ada yang nungguin? Lupa sama kewajiban!!" teriak Dzoki yang sedikit di tahan.
Ddzoki emosi dan marah besar kepada Cyeril saat ini. Rasanya ingin menggebrak meja itu dan menatap tajam ke arah Anton.
Cyeril hanya menunduk dan menutup majalah yang sedang di bacanya.
"Loe tahu kan? Cyeril itu lagi kerja, sama gue!! Jadi loe gak usah ganggu dia lagi. Selama beberapa bulan ke depan, dia tanggung jawab gue, dia milik gue. Kalau ada yang ganggu Cyeril maka dia akan berurusan sama gue. Gak peduli siapa pun dia!! Loe paham!!" tanya Dzoki tegas bersuara tepat di depan wajah Anton sambil mengangkat kerah kemeja Anton lalu di turunkan pelan sambil di tepuk -tepuk bagian bahu Anton.
"Sorry Ki. Gue gak tahu soal itu. Gue cuma simpati sama Cyeril karena Ibunya baru saja meninggal. Gue sebagai temen pasti ikut berduka cita," ucap Anton pelan menjawab jujur.
"Heh ... Simpati terus kasihan lama -lama loe bisa suka terus jatuh cinta. Ya kan? Jujur aja loe udah nyaman sama Cyeril," ucap Dzoki menuduh.
Cyeril mengangkat wajahnya dan menatap lekat ke arah Dzoki. Cyeril berdiri dan menggebrak meja pelan.
"Cukup Kak. Jangan memperkeruh masalah ini dan melebar kemana -mana. Kita pergi sekarang," ucap Cyeril tegas dan membawa majalah itu untuk ia pinjam dan di baca nanti saat berada di rumah.
Anton hanya melongo. Ada yang aneh pada diri Cyeril saat ini. Cyeril yang sekarang berbeda dengan Cyeril yang dulu ia kenal.
Cyeril yang saat ini di kenal terlihat tertutup dan sangat berhati -hati seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Dzoki berjalan di belakang Cyeril. Cueril berhenti sejenak di bagian peminjaman buku untuk di tulis dan di catat kapan buku atau majalah itu di kembalikan.
Saat keduanya berjalan di koridor menuju ke arah kelas. Cyeril memberanikan diri untuk bertanya kepada Dzoki.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Cyeril pelan.
"Sudah ikut saja!! Gak usah banyak omong," ucap Dzoki pelan.
"Kak Dzoki kenapa sih? Bukannya dalam perjanjian kita tadi malam, kita sama -sama bebas," ucap Cyeril sedikit ragu.
"Itu gue!! Gak dengan loe!! Paham!! Kemarin emang gue bilang gitu sama loe. Kita sama -sama bebas. Tapi ... gue gak mau bebasin loe!! Ngerti!!" ucap Dzoki tegas.
Cyeril melirik ke arah Dzoki. Sikap Dzoki bener -bener berubah dan kembali saat pertama kali Cyeril berkenalan dengan Dzoki di awal semester masuk dunia perkuliahan.
"Kok gitu Kak. Aku kan juga butuh teman," ucap Cyeril pelan.
"Silahkan tapi tidak bersama Anton!! Apalagi berduaan. Cih ... Mau bucinan?" tuduh Dzoki sinis.
"Enggak Kak. Tadi Anton yang ikutin Cyeril. Cyeril sengaja duduk di perpustakaan biar tenang dan gak ada yang ganggu sekalian nunggu jam kuliah," ucap Cyeril jujur.
Jadwal kelas sesi dua di undur sampai jam sebelas siang. Dosen mata kuliah tersebut sedang berhalangan hadir.
Dzoki seperti biasa berkumpul dengan teman -teman satu gengnya. Mereka sempat salah paham tapi Egi mencari celah untuk merangkul Dzoki kembali sambil menunggu waktunya untuk membalas dendam.
Dzoki, Egi dan teman -temannya sudah duduk santai di anak tangga sambil bersorak bahagia tanpa beban masalah. Beberapa dari mereka ada yang membawa pacar mereka dan duduk bersama sambil memeluk dari belakang.
Pemandangan yang sudah sangat biasa di lihat di kampus. Bahkan mereka berani berciuman di dalam lift yang kosong atau di koridor yang sepi. Selalu ada celah bagi mereka yang ingin bermaksiat.
Cyeril berdiri di samping tangga dan menatap ke segala arah dari lobby. Ia sendiri bingung mau apa berdiri di sini.
"Kak ... Cyeril mau ke kantin ya? Mau beli minuman dingin. Kakak mau?" tanya Cyeril pelan.
__ADS_1
"Cola satu. Inget yang kaleng sama rokok ya," pinta Dzoki pelan tanpa memberikan uang.
Cyeril mengangguk pelan dan berjalan menuju kantin. Dalam perjalanan menuju kantin, Anton kembali mendekati Cyeril dan membuat terkejut perempuan itu.
"Hei ... Ada apa sih sebenarnya. Kamu nurut banget sama Dzoki. Sampai aku denger panggilan kamu aja berubah buat dia. Sebutannya Kak? Terus ini masalah masih berlanjut soal cincin merah delima itu? Kamu gak bilang yang sebenarnya? Aku kan udahnkasih bukti," ucap Anton pelan.
Ia kasihan pada Cyeril. Merasa Cyeril tak menanggapinya bahkan terkesan mengabaikan Anton pun menjadi gemas sendiri dan menarik tangan Cyeril hingga tubuh mungil itu berbalik dan tanpa sengaja memeluk tubuh Anton yang tegap dan wangi itu.
Dada Cyeril bergemuruh dan detak jantungnya berdetak lebih cepat dan kencang dari waktu normal. Cyeril takut Dzoki melihat kejadian ini. Kejadian yang sama sekali tak di sengaja.
"Arghh ... Kamu kenapa sih Nton. Jangan begini!!" tetiak Cyeril keras dan dengan cepat ia mendorong tubuh Anton agar menjauhi dirinya.
"Kamu yang kenapa Ril. Aku cuma ngerasa kamu berbeda dari biasanya. Raut wajah kmau nampak ketakutan dan tertekan saat bersama Dzoki. Sebenarnya ada apa? Cerita sama aku. Biasanya kamu cerita sama aku," ucap Anton cepat.
Anton dan Cyreril sudah bersahabat lama. Lebih tepatnya mereka berteman sejak masa orientasi memasuki kampus perrama kali. Saat itu, Anton langsung jatuh hati pada Cyeril.
Cyeril pernah membantu Anton agar tidak di hukum oleh kakak tingkatnya dengan memberikan kunci jawaban tugas yang ia lupa kerjakan. Bukan lupa, tapi bukunya tertinggal.
Persahabatan mereka tidak sampai di situ saja. Mereka sabgat dekat dan saling berbagi serta saling bercerita tentang apapun yermasuk maalah pribadi.
Sampai suatu hari, Anton pernah mengajak Cyeril pergi dan mengungkapkan perasaanya. Tapi Cyeril malah tertawa dan mengukum senyum seolah semua ini hanya candaan.
"Malah enak bertemen dan bersahabat gini. Kalau kita jadian. Rasanya jadi beda nanti. Gak bisa gila bareng -bareng lagi," ucap Cyeril pelan.
"Aku serius Ril. Gak bercanda," ucap Anton mencoba meyakinkan Cyeril saat itu.
"Udah ah ... mau makan," jawab Cyeril saat itu santai dan tidak peduli.
__ADS_1
Mulai saat itu Anton hanya bisa menikmati hubungan mereka dalam persahabatan. Anton berusaha menyelami Cyeril dan menunggu kembali waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya lagi yang tertahan.