KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
62


__ADS_3

Dzoki mulai malas dan tak nyaman berada di sana. Apalagi dengan sosok Mira yang terlihat semakin tak bersahabat.


Dzoki pergi dari ruang makan meninggalkan Mira dan Ketut di sana.


Dzoki bergabung dengan teman -temannya yang lain dan mulai mempersiapkan kegiatan pagi ini di sekolah negeri dan paud.


"Kenapa loe pak ketua? Masam aja tuh muka," tanya Adi yang sudah duduk di teras depan lengkap dengan jas almamayer dan id card yang harus selalu di pakai sebagai tanda pengenal anggo KKN.


"Biasa. Ada yang bikin kesel aja. Gue paling gak suka ada orang yang cari muka sama gue saat gue udah bilang gue udah punya bini," ucap Dzoki makin kesal.


Adi dan Lily terkekeh mendenga r pengakuan Dzoki yang terlihat kesal dan marah.


"Loe aja kali yang baper pak ketua," ucap Daren kemudia yang tiba -tiba muncul denagn satu plastik berisi sikat gigi dan plastik lain berisi gelas plastik untuk berkumur. Tidak lupa ada beberapa pasta gigi dengan perisa buah yang alan di pegang oleh anggota KKN dan di bagikan di atas sikat gigi.


Dzoki menoleh ke arah Daren dan melotot.


"Gue? Baper? Gak ada dalam kamus gue baper sama cewek. Loe gila kali. Ruang lingkup gue selalu ada cewek. Modelan Mira itu banyak dan gue gak pernah tertarik sama perempuan model begitu. Jauh sama Cyeril, bini gue," ungkap.Dzoki dengan kesal.


Pagi ini semua anggota kelompok sudah berada di dua tempat sesuai dengan pembagiannya.


Semua anggota laki -laki sudah mengumpulkan semua anak SD dari kelas satu hingga kelas enam.


Semua berbaris rapi di lapangan per kelas. Dzoki dan Made sudah membagukan semua sikat gigi dan gelas platik untuk berkumur.


Satu per satu siswa maju ke depan untuk meminta pasta gigi dan belajar sikat gigi di pancuran keran yang ada di sekitar sekolah.


Sambil memberikan pengetahuan betapa pentingnya sikat gigi minimal dua kali sehari. Hal ini juga sama yang di berikan di sekolah paud oleh anggota KKN perempuan. Mereka berbagi tugas dengan baik.


Dua jam mereka memberikan materi di luar pelajaran dan meminta otorisasi kepala sekolah sebagai tanda bahwa mereka susah melakukan kegiatan positif bersama anak -anak sekolah.


Dzoki dan keemlat temannya sudah berjalan melalui pinggir sungai. Kebetulan sekolah SD memang berada di tengah sawah dekat dengan aliran sungai. Dari kejauhan ada warung bambu yang menjual bakso ala kampung dan gorengan serta jajanan anak kecil.


Semakin berjalan menyusuri pinggiran sungai, semakin dekat dengan warung bambu itu. Terlihat gadis yang sedang asyik menikmati bakso itu dengan beberapa jajanan kerupuk duduk di luar warung sambil menatap aliran sungai yang tenang dengan udara dingin yang masih menisuk kulit.


"Itu kam Cyeril," ucap Ketut sambil menunjuk ke arah wanita yang duduk santai menikmati bakso.

__ADS_1


Dzoki langsung menatap ke arah depan yang di tunjuk oleh Ketut.


"Cyeril?" panggil Dzokikera dan berjalan cepat ke arah Cyeril.


Keempat teman lainnya hanya saling berpandangan.


"Beda kalau udah punya bini. Di kintilin terus," goda Adi keras hingga Dzoki membalikkan tubuhnya dan menatap Adi.


"Berisik loe pada. Mau bakso gak? Kalau mau sana pesen, gue yang traktir," ucap Dzoki setengah berteriak dan berlari kecil untuk menghampiri Cyeril.


Langkah kaki Dzoki terhenti menatap Cyeril yang cantik.


"Ril ... Itu kamu?" tanya Dzoki lembut.


Cyeril yang sedang mengunyah bakso pun mendongak menatap Dzoki lalu tersenyum.


"Aku bukan Ril. Tapi aku bidadari kamu," ucap Cyeril tertawa lepas menggoda Dzoki.


Dzoki pun ikut tersenyum dan memeluk Cyeril rindu. Padahal mereka baru berpisah satu hari saru malam saja seeprti setahun sudah rasanya di tinggalkan.


"Enak ya," ucap Dzoki merasakan bakso kampung itu.


Baksonya sederhana dengan bumbu ala kadarnya tapi rasanya sungguh luar biasa enak.


"Cyeril sudah habis tiga mangkok," ucap Cyeril tertawa.


"Hah? Tiga mangkok?" tanya Dzoki tak percaya.


"Iya tiga mangkok. Enak kan?" cicit Cyeril manja.


"Habiskanlah. Mas pesan sendiri sama teman -teman," ucap Dzoki masuk ke adalm warung dan memesan dua mbgkok mangkok pedas sekaligus dengan es teh manis.


Dzoki keluar lagi dan menunggu pesanan di depan.


"Kamu sama siapa?" tanya Dzoki pelan.

__ADS_1


"Bunda," jawab Cyeril singkat dan mengunyah suapan bakso terakhirnya.


Perutnya sudah mulai penuh dan kenyang. Tapi udara sejuk dan pemandangan indah di depannya tak bisa membuat Cyeril beranjak dari tempat itu.


"Mana Bunda? Kakak kan udah bilang kamu jangan keluar sendirian," tegas Dzoki khawatir.


"Kak ini di kampung. Gak bakal ada yang bisa iseng kan di sini," ucap Cyeril pelan sambil memegang dagu Dzoki.


"Ril ... Musuh Kakak itu banyak. Mantan anggota genk King Speed adalah musuh terbesar Kakak. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau atas perintah Egi. Lalu, Tasya. Dia juga salah satu perempuan yang masih terlihat abu -abu. Kadang baik dan kadang gak. Kamu ingat cincin merah delima itu sampai sekarang belum ketemu," ucap Dzoki pelan..


"Cincin merah delima? Belum kembali? Bukankan waktu itu Kak Dzoki sudab menerima dari Tasya?" tanya Cyeril pelan.


Cyeril memang pernah lihat Tasya menunjukkan cincin itu pada Dzoki. Tapi masalahnya di kembalikan atau tidak itu yang ia tak paham.


"Hanya di tunjukkan tapi tidak di kembalikan sampai saat ini," ungkap Dzoki serius lalu tertawa keras.


"Aku tanyakan boleh? Pada Tasya?" tanya Cyeril pelan.


"Jangan. Kakak sedang mencari cara untuk mencari Tasya. Dia hilang," ucap Dzoki pelan.


"Hilang? Kemarin aku ketemu sama dia. Di kampus saat aku kembali ke mobil. Dia panggil aku," ucap Cyeril pelan.


"Hah? Kamu serius Ril. Dia ada? Bukan kali. Kamu salah lihat kali," ucap Dzoki makin cemas.


Cyeril menggelengkan kepalanya cepat.


"Tasya ada. Tapi perutnya rata. Bukankah dia sedang hamil?" tanya Cyeril pelan.


"Iya dia hamil. Entahlah. Kamu jangan sekali -kali menuruti dia. Apapun itu. Jangan lernah tanya sial cincin itu," ucap Dzoki ketus.


"Iya paham Kak," jawab Cyeril singkat.


Cyeril tak pernah menyangka bisa menjadi seorang istri dari ketua genk motor yang bertobat. Tapi ternyata tidak semudah itu. Musuh Dzoki malah semakin banyak di saat Dzoki memutuskan keluar dari keanggotaan genk motor. Tidak hanya itu saja, orang -orang di sekitar Dzoki juga akan di buat merasa tidak tenang hidupnya termasuk Cyeril.


Cyeril menatap aliran air sungai yang tenang. Ketenangan air itu ternyata menghanyutkan. Diamnya air itu ternyata bisa mematikan. Cyeril tak boleh lemah dan bisa di jadikan boneka tumbal bagi orang -orang yang kini tidak suka pada Dzoki, suaminya. Cyeril pasti menemukan cincin delima itu.

__ADS_1


__ADS_2