
Cyeril menatap Kahfi lekat. Cyeril berusaha menangkan hatinya dan mengontrol kembali degub jantungnya agar tetap berdegup dengan normal dan wajar.
Kahfi juga menatap Cyeril lekat. Gadis yang ada di depannya ini semakin cantik saja.
"Kamu gak mau tahi siapa gadis itu?" tanya Kahfi pelan dengan tatapan masih lekat ke arah Cyreril.
"Gak perlu Pak. Karena Cyeril bukan tipe perempuan yang selalu ingin tahu irusan orang terlebih perasaan orang lain," ucap Cyeril tegas. Cyeril bermaksud untuk membatasi dirinya sendiri agar tidak terjebak pada komunikasi dan obrolan yang tidak penting untuk di lanjutkan. Lebih baik komunikasi mereka sebatas urusan pada kerja sama usaha saja, tidak lebih dan tidak kurang.
"Tapi sepertinya, saya perlu memberi tahukan ini kepada kamu," ucap Kahfi masih berusaha ingin mendekati Cyeril.
"Jangan Pak. Lebih baik, Bapak bercerita dengan yang lain atau dengan karyawan Bapak sendiri. Mereka pasti sangat senang sekali mendengarkan curhatan Bapak, terlebih Prita. Dia kan nge -fans sama Bapak," ucap Cyeril membocorkan seiskit rahasia teman kerjanya itu.
"Hemmm ... Kamu lagi berniat mau menjodohkan saya ya?" tanya Kahfi kepada Cyeril.
"Gak Pak. Buat apa menjodohkan Bapak. Bapak saja sudah pintar mencari jodohnya sendiri," ucap Cyeril pelan.
__ADS_1
"Ya dong. Karena saya maunya berjodoh dengan kamu," ucap Kahfi lantang dan lenuh percaya diri.
"Hah? Apa?" ucap Cyeril makin bingung dengan ucapan Kahfi.
"Pak ... Gak usah bercanda berlebihan. Cyeril itu sudah nikah," ucap Cyeril menjelaskan.
"Mana saya percaya?" jawab Kahfi dengan santainya.
Cyeril mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan jari mansnya yang telah terlingkari oleh cincin emas dengan berlian bermata satu.
"Cincin? Kamu mau saya belikan untuk mahar?" tanya Kahfi dnegan suara lantang.
Cyeril menyeruput es kopinya yang dingin sekali. Ia sedang malas berdebat.
"Sayang ... Ayok kita pulang," panggil Dzoki lantang dari arah belakang Kahfi.
__ADS_1
Cyeril mengangkat wajahnya dan menatap Dzoki, suaminya yang sudah hadir di sini jntuk menjemputnya. Dalam rangka apa? batin Cyeril di dalam hatinya.
Kahfi mendadak diam dan mengetukka jarinya di meja. Itu pertanda ia sedang gugup. Panggilan sayang yang di ucapkan seseorang dari belakang tubuhnya membuat Kahfi kesal.
Kahfi kesal, kenapa tidak sejak dulu, ia mengungkapkan perasaannya pada Cyeril. Kenapa harus berakhir seperti ini.
"Kak Dzoki?" panggil Cyeril lirih. Antara kaget dan senang juga di panggil dan do jemput seperti ini. Padahal Cyeril tahu, Dzoki sedang sibuk lembur di kantor Ayah Riski.
"Ayok pulang, sayang. Bunda sudah menunggu di rumah," ucap Dzoki makin tegas dan lantang. Suaranya sengaja di tinggikan agar Kahfi mendengar ucapannya dengan jelas. Ucapan yang menandakan bahwa Cyeril adalah miliknya dan tak ada yang boleh lagi mendekati Cyeril.
"Ya Kak," jawab Cyeril menurut.
Cyeril bergegas berdiri dan menggendong tas slempangnya. Terlihat perut buncit Cyeril yang sedang mengandung. Hal itu membuat Kahfi semakin terkejut lalu menatap ke arah belakang.
"Dia Kak Dzoki, suami Cyeril," ucap Cyeril tegas.
__ADS_1
Ucapan jujur Cyeril sungguh membuat Kahfi semakin marah dan emosi. Ia tak menyangka sama sekali. Keduanya bisa menikah. Cyeril yang selalu baik dan ramah malah mendalatkan bocah tengil dan preman seperti Dzoki.