
Suasana makan siang itu begitu hangat dan akrab. Cyeril dengan mudahnya beradaptasi dengan empat perempuan yang menjadi anggota kelompok KKN Dzoki. Mira selalu memisahkan diri dan mencari kesibukan lain dengan mengurus sepuluh kelinci yang di beli Dzoki kemarin untuk di bawa ke tempat KKN mereka nanti.
Cuaca panas terik ini mereka duudk di gazebo sambil main gitar dan bernyanyi. Menikmati sup buah dingin dan puding buah buatan Cyeril. Semua orang memuji kehebatan Cyeril memasak.
Dzoki duduk du samping Cyeril sambil bernyanyi dan memeluk istri mungilnya erat. Dzoki sudah tidak malu lagi menampakkan kemesraan pada semua teman -temannya.
Skip ...
Beberapa minggu kemudian ...
Tiba saatnya besok adalah keberangkatan Dzoki ke desa sumber. Malam ini, Cyeril merapikan beberapa barang tambahan yang belum sempat terbawa. Dua hari yang lalu, Dzoki dan sembilan temannya pergi ke desa sumber untuk mengantarkan barang -barang yang akan mereka pakai selama di sana termasuk barang dan kebutuhan pendukung program kerja mereka.
Delapan pasang kelinci pun sudah di bawa Dzoki ke desa. Cyeril di sisakan dua kelinci saja, si putih dan si hitam.
"Kak ... Ini pakaian dalamnya di tas ini. Nanti beberapa hari sekali, Cyeril kesana untuk mengirim pakaian bersih, Kakak siapkan saja yang kotornya biar di bawa pulang," titah Cyeril.
"Hemm ... Iya sayang. Janji ya, sering -sering datang. Kalau bisa menginap," pinta Dzoki lembut. Ia tidak bisa membayangkan jauh dari istri mungilnya itu. Tak ada kecupan, ciuman, sentuhan, pelukan ... Arghh sulit membayangkan bila itu memang terjadi. Tapi akan terjadi.
Cyeril menutup tasnya dan kini merapikan tas kecil berisi alat mandi dan produk kesehatan lainnya yang harus Dzoki pakai.
"Selesai," ucap Cyeril.menumpuk dua tas hitam berbeda ukuran itu di dofa panjang agar tidak lupa.
"Sini sayang. Kakak gak di bekali mau pergi lama," ucap Dzoki tertawa keras.
"Hemm ... Harus gitu?" tanya Cyeril pelan sambil duduk di pangkuan Dzoki di atas kasur.
Dzoki memeluk Cyeril. Mereka berdua memang makin mesea dan semakin intim. Dzoku memangku Cyeril dengan duduk di atas Dzoki membelakangi tubuh Dzoki. Tangan Dzoki menyibakkan daster Cyeril dan mengusap perut buncit itu perlahan.
Beberapa kali, Dzoki merasakan gerakan seperti tendangan kecil atai gerakan memutar dari perut Cyeril. Ini bukan kali pertamanya tapi sudah beberapa kali.
Setiap malam, hal ini selalu di lakukan Dzoki sambil di ajak bicara.
"Kak ...." ucap Cyeril lirih.
"Apa sayang ...." tanya Dzoki pelan. Bibirnua menciumi leher Cyetil dan tangannya mengusap perut besar itu.
"Jangan lupa ...." titah Cyeril pelan.
"Lupa apa?" tanya Dzoki pelan. Ia bingung sekali. Perasaan tidak menjanjikan apapun.
__ADS_1
"Jangan lupa hubungi Cyeril tiap malam. Kasihan dede utunnya nanti rindu sama Ayahnya," ucap Cyeril memohon.
"Hemm ... kalau itu sih gak usah di bilang. Pasti akan Kakak telepon setiap waktu kalau Kakak senggang," ucap Dzoki pelan.
"Terus ...." ucap Cyeril pelan.
"Terus apa lagi?" tanya Dzoki bingung.
"Jangan dekat -dekat sama Mira," titah Cyeril dengan perasaan sedikit cemburu.
"Kamu cemburu?" tanya Dzoki pelan.
"Menurut Kakak? Cyeril perlu cemburu gak?" tanya Cyeril pelan.
"Perlu dong. Itu kan tandanya kamu sayang sama Kakak," ucap Dzoki pelan.
Cyeril tertawa dan mengecup dagu Dzoki lembut. Dzoki pun menangkup wajah Cyeril dan mencium bibir Cyeril.
Skip ...
Pagi ini, Dzoki sudah siap dengan kaos kebangsaan bertuliskan KKN kampus. Dzoki sudah duduk di meja makan di temani oleh Cyeril. Tadi malam, Dzoki minta di buatkan nasi goreng dengan sari kurma sebagai pengganti kecap. Tidak lupa dua telor mata sapi setengah matang.
"Ini sarapan paginya. Mau bawa juga atau gak?" tanya Cyeril yang sudah meletakkan satu piring nasi goreng permintaan Dzoki.
"Ada. Mau?" tanya Cyeril kemudian. Ia mencari kotak makan untuk membawakan nasi goreng agar di bawa suaminya.
"Mau sayang," jawab Dzoki pelan.
Semenjak menikah tubuh Dzoki sudah naik beberapa kilogram karena terlalu banyak makan. Bagaimana tidak, selain Cyeril pintar memasak, Cyeril pintar melyani Dzoki dengan baik.
Pagi ini, Cyeril hanya mengantarkan Dzoki sampai kampus. Dzoki akan berangkat dengan rombongan bis dan mobil akan di bawa Cyeril pulang ke rumah. Dzoki mengijinkan Cyeril membawa mobil tapi untuk mengunjungi Dzoki.
"Gak ada pergi sendiri bawa mobil kecuali sama Bunda atau supir. Kakak sudah bilang Bunda juga untuk menjaga kamu. Kakak KKN juga cuma sebulan saja. Tiap minggu juga kamu pasti nengokin Kakak kan? Sana Bunda?" ucap Dzoki pelan.
"Iya Kak. Pasti kesana," jawab Cyeril pelan.
Skip ...
Tepat pukul delapan pagi di pelataran kampus smeua mahasiswa dan mahasiswi yang akan berangkat KKN sudah berkumpul sesuai dengan barusan kelompoknya masing -masing.
__ADS_1
Dzoki masih menggandeng tangan Cyeril erat menuju ke pelataran kampus setelah memarkirkan mibilnya di parkiran depan.
"Kamu hati -hati ya? Jangan lupa cek ke bidan kalau ada apa -apa," titah Dzoki pelan sambil mengecup punggung tangan Cyeril.
"Iya Kak. Kakak juga hati -hati ya," titah Cyeril pelan.
"Kakak brifing dulu langsung berangkat ke desa sumber. Kamu pulang saja. Chat kakak kalau sudah sampai," ucap Dzoki pelan mengusap pipi gembil Cyeril lembut.
Rasanya kok kayak mau berpisah lama sekali. Itu batin Cyeril yang berbicara.
Kedua mata Cyeril mulai basah dan air matanya telah mengumpul di kelopak matanya.
"Gak boleh nangis. Gak boleh sedih juga. Kasihan dede utunnya nanti," ucap Dzoki pelan.
Cyeril mengangguk pasrah. Ia mengecup punggung tangan Dzoki dan Dzoki mengecup kening Cyeril sebagai tanda sayang.
Keduanya berpisah di depan halaman kampus. Ada asa yang ikut menghilang dari diri Cyeril melepas kepergian Dzoki selama KKN ini. Walaupun hanya satu bulan pasti rasanya juga seperti satu abad.
Cyeril membalikkan tubuhnya terlebih dulu dan berjalan menuju parkiran mobil. Masa -masa indah berhenti sejenak dalam satu bulan ini.
Dzoki pun kemudian menghambur masuk ke dalam barisan kelompoknya.
"Cyeril!!" teriak seorang wanita darinarah berlawanan.
Cyeril mencari arah suara yang terdrbgar dekat.
Pandangannya terhenti lada seorang wanita yang terlihat terburu -buru mengejar dirinya.
"Tasya?" panggil Cyeril pelan.
Ya, gadis yang dulu sempat menjadi kekasih Dzoki dan hamil dengan sahabat Dzoki. Tapi ... lihatlah perutnya rata dan tidak terlihat seperti sedang hamil.
"Hei ... Apa kabar? Habis antar Dzoki?" tanya Tasya pelan.
"Ya. Ada apa? Atau punya keperluan apa?" tanya Cyeril pelan.
"Hemm ... ini ada titipan surat dari Anton. Dan ... kita bisa bicara sebentar?" tanya Tasya dengan senyum smirk yang tersembunyi.
Cyeril nampak ragu. Benar kata Dzoki, Cyeril masih belum.aman untuk pergi sendirian.
__ADS_1
Egi? Egi juga KKN saat ini. Hanya saja ia berada di kelompok lain. Diam -diam Egi dan teman -teman genk motoe lainnya memperhatikan gerak gerik Dzoki.
"Kok pake mikir. Kita ngobrol di kafe Kak Kahfi. Bisa kan? Sebentar saja," pinta Tasya pelan.