
"Paman Jin....!
Suara panggilan Tan Liong mengalihkan pandangan Hwa Jin dari tubuh Tio Gan yang telah mati.
"Heeih..Saudara Liong,,! kau telah menyelamatkan putra ku..!!"
Wajah Hwa Jin nampak ceria, mendapati Tan Liong yang sedang menggendong putranya yang disandera laba-laba Hijau Tio Gan, disebelahnya tampak Hwa Lian berdiri sambil menundukan kepalanya.
"Hwa Lian kenapa kau menundukan wajahmu? kau mestinya gembira melihat adikmu sudah selamat sekarang.!!!"
"A..a..aku sangat senang ayah..!! " dengan suara hampir tidak kedengaran.
"saudara Liong, paman sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan putra paman, oleh karena itu paman harap kamu mau singgah kerumah paman, ada sesuatu yang mau paman bicarakan denganmu."
Sambil meminta putranya untuk dia gendong.
"Aku harap kamu tidak menolaknya.!! ucap Hwa Jin dengan penuh harap.
"Baiklah paman Jin, siapa tahu nanti aku bisa mendapatkan sedikit keterangan dari paman Jin, tentang tokoh-tokoh didunia persilatan yang aku cari..!!"
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita berangkat..!!!"
Berempat bersama putra dalam gendongannya, mereka pun berlalu dari kediaman laba-laba Hijau Tio Gan.
*******
"Saudara Liong...atau lebih baik kupanggil saja dirimu sebagai anak Liong biar lebih dekat rasanya bagiku"!!
Hwa Jin memulai membuka pecakapan dengan Tan Liong setibanya mereka dirumah, setelah merebahkan putranya ditempat tidur serta mengobatinya.
"Terserah paman Jin, saya dengan senang hati menerimanya..!"
"Adapun maksud pamanmu ini adalah besar rasa hati ini bila anak liong mau menjadikan putri paman satu-satunya, Hwa Lian menjadi calon sisihan anak liong kelak.....!"
Hwa lian yang baru saja ingin masuk membawakan minuman ke tempat mereka bercakap-cakap, ketika mendengar percakapan terakhir dari ayahnya mendadak berhenti dan berbalik tidak jadi membawa minuman tersebut karena sangat malu.
Mendengar langkah yang terhenti dan berbalik arah, Hwa Jin mengetahui putrinya mendengar percakapan mereka, maka dia pun tersenyum sendiri, sembari memanggil putrinya.;
"Hwa Lian, mengapa tidak bawakan anak Liong minumannya..?
__ADS_1
"Iya ayah, anak segera datang...!" dengan menekan rasa hati yang berbunga-bunga dan malunya, Hwa Lian melangkah kedalam dengan hati tak tenang.
Setelah menaruh minuman untuk mereka berdua, Hwa Lian bermaksud berbalik kedalam tapi dicegah oleh ayahnya.
"Duduklah disini anak Lian, ayah ingin kamu ikut mendengarkan karena ini semua demi masa depan mu, anakku...!"
"Anak Liong, paman percaya sepenuh hati kepadamu, sekarang paman menunggu keputusan dari mu. Tapi paman tidak ingin memaksa mu, bila engkau merasa keberatan dengan permintaanku, engkau berhak menolaknya..!"
Tan Liong terlihat berada dalam kebimbangan untuk mengambil keputusan. Disuatu sisi dimemang suka dan cinta pada Hwa Lian tapi disisi Lain dia merasa tugasnya belum selesai untuk membalaskan dendam orang tuanya.
Sampai lama dia dalam posisi diam, berpikir keputusan apa yang harus diambilnya, Hingga akhirnya dengan membulatkan tekad dia menyampaikan masalah yang dihadapinya
"Paman Jin, dengan terus terang saya katakan bahwa saya suka dan cinta dengan Hwa Lian putri paman, tapi saat ini saya tidak berani mengajak Hwa Lian menjadi istri saya, mengingat usia kami masih sangat muda dan juga saya belum selesai membalaskan dendam mendiang orang tua saya."
"Haa haaa anak Liong..!!..Hal ini mudah saja diselesaikan, tidak usah dibuat susah, cukup anak Liong dan putriku, Hwa Lian diikatkan dengan pertunangan maka, setelah anak liong menyelesaikan tugas, anak liong bisa segera melangsungkan pernikahan, Bagaimana..?"
Mendengar rencana Hwa Jin yang tidak memberatkan dan malahan membuatnya leluasa melaksanakan tugas tanpa membebaninya maka Tan Liong pun mengangguk menyatakan setuju.
Hwa Lian yang mendengar sang pangeran yang dicintainya setuju bertunangan dengannya, terlihat tersenyum malu.
__ADS_1