
"Berhentiiii..!
Terdengar suara bentakan memerintah, bersamaan dengan muncul banyak orang yang mengurung Tan Liong. Dia yang baru saja keluar dari hutan, untuk melanjutkan petualangan, sekarang sudah dikurung oleh gerombolan orang-orang, yang melihat lagak dan gayanya, seperti gerombolan perampok.
"Cepat keluarkan benda berharga yang ada dibadanmu !" perintah salah satu orang dari gerombolan itu, yang bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal melintang diatas bibir.
Tan Liong yang dikurung ditengah-tengah hanya diam, berdiri dengan tenang sambil edarkan pandangan, memperhatikan orang-orang mengurung dirinya.
Heyy... ! Apa kau tuli ya..?" kembali si kumis tebal bertanya dengan membentak
Melihat omongan mereka tidak digubris oleh pemuda berbaju sastrawan ini, Emosi pimpinan gerombolan yang memiliki kumis tebal, memuncak serta merta dia memerintahkan kawan-kawannya menggeledah dan menyiksa pemuda itu sampai mati.
"Jangan lagi ada rasa kasihan, geledah dan siksa dia sampai mampus !" perintah si kumis tebal kepada kawan-kawannya.
Belum juga selesai omongan si kumis tebal, terlihat kawan-kawan yang diperintahkannya, terlempar jatuh bersamaan, dengan tubuh hancur tewas .
Si kumis tebal yang menjadi pimpinan tebelalak bengong tanpa suara. Kejut hati yang berubah menjadi ketakutan luar biasa, seperti melihat malaikat kematian, hingga tanpa sadar dia kencing dicelana.
__ADS_1
Tan Liong melangkahkan kaki mendekati, yang membuat si kumis tebal menggigil ketakutan, yang teramat sangat.
"Mampuslah bersama kawan-kawanmu...! deeg...hekkk!
Tubuh si kumis tebal terlempar jatuh, ditempat kawan-kawannya, langsung tewas dengan tubuh hancur. Tan Liong meninggalkan jasad mereka begitu saja, bergerak terbang dengan kecepatan luar biasa.
Seharian Tan Liong melayang, tanpa arah pasti yang dituju. Sampai dia melihat sebuah telaga yang indah, yang memiliki lahan yang terisi sebuah rumah ditengah-tengah telaga, Tan Liong segera turun dipinggirannya.
Suasana yang tenang, dengan air yang cukup jernih, membuat siapapun yang melintas bakalan menyempatkan waktu sejenak, untuk menikmati keindahan telaga ini.
Duduk dan bersandar disebatang pohon rindang, yang tumbuh pinggir telaga, Tan Liong tertarik memandang seorang yang memancing memakai alat pancing, tanpa menggunakan umpan.
Orang ini terlihat sudah sangat berumur, dengan jenggot memutih panjang sampai kedada. Wajahnya selalu terhiasi senyum penuh kesabaran, menatap ikan ditelaga yang tidak mendekati pancingnya.
Sungguh heran dan penasaran Tan Liong, melihat orang tua didepan melakukan hal yang sia-sia.
"Maaf pak tua, apakah pekerjaanmu itu bukan pekerjaan yang sia-sia saja?" tanya Tan Liong
__ADS_1
Tidak terdengar jawaban dari orang tua itu, malah dia nampak tetap santai memancing, seakan-akan tidak ada Tan Liong dibelakangnya.
"Hee pak tua, apakah engkau tuli dan bisu? " tanya Tan Liong jengkel
Pak Tua yang disebut Tan Liong tuli dan bisu, menoleh sejenak kepadanya dengan pandangan mata membunuh, mengandung sinar mengerikan sangat kelam dan gelap, mengejutkan hati Tan Liong.
"Kalau kau sayang nyawamu, lebih baik kau pergi sekarang juga ! semasih pemilik telaga bermurah hati padamu.!" kata orang tua tersebut mengancam
"Mmmm....sejak kapan telaga dibuat dan dimiliki seseorang " tungkas Tan Liong mulai tidak senang
"Pelajar sepertimu, sungguh berani mati berdebat dengan kami ! benar-benar anak muda tidak sayang nyawa..! ucap orang tua itu lagi mulai nampak marah
"Hhuuh...! Kau anggap seluruh telaga ini milik kalian, sehingga kalian anggap bisa mengatur orang, maaf ! aku akan tetap disini sampai aku bosan baru aku akan pergi " jawab Tan Liong mulai emosi.
"Wuuuutttt...seeerrrrr...."
Tali pancing berisi jarum diujung, menyambar dengan sebat kearah Tan Liong berada, kecepatan dan ketepatan, penguasaan menggunaankan alat pancing sebagai senjata, benar-benar hebat.
__ADS_1