KITAB NAGA EMAS

KITAB NAGA EMAS
CH.27. Kakek-Kakek Tua Pikun


__ADS_3

Dua pemuda yang memiliki usia sebantaran, saling serang dengan serunya. Gerakan yang mereka lakukan sangat cepat dan penuh tenaga, menimbulkan suara menderu-deru.


Lu kong tampak menyipitkan mata, mengamati pergerakan cucu kawannya Si Thian. Dia melihat, banyak celah pertahanan kosong penjagaan, yang disia-siakan, membuatnya geleng-geleng kepala kecewa.


Melihat pengemis tua Lu Kong geleng-geleng kepala, Si Thian mendelik kepadanya sambil berucap ;


"Kau jangan melihat kesalahan cucuku saja, jembel tua ! , kau lihat lawan cucuku, peluang sebenarnya menjadi kemenangan, toh juga disia-siakannya! " ujar Si Thian yang tidak suka dikritik


Di sebelah Si Thian berdiri tidak jauh antara mereka, Sahabat seterunya yang bergelar pendekar Langit Bumi Shaw Yuan nampak terkekeh senang melihat Si Thian marah-marah.


"Tua sinting, tak usah kau Ketawa ! kau kira dirimu sudah lebih baik mengajari cucumu, dari pada aku ?" semprot Si Thian pada kawan seterunya.


"Orang tua pikun, cucu malah di adu, sekarang malah ribut disini !" terdengar suara menggerutu begitu jelas ditelinga mereka.


Lu Kong , Si Thian dan Shaw Yuan saling pandang lalu mengedarkan pandangan kesegala arah, hingga akhirnya mereka melihat seseorang, sedang tidur-tiduran dibawah pohon, agak jauh dari tempat mereka berada.


"Apa yang kalian lihat? belum pernah lihat pangeran lagi tidur?" sambung suara tadi kembali

__ADS_1


"Kurang ajar, dia meledek kita !..benar-benar perlu diberi pelajaran ! heee ....siapa kau?" seru Shaw Yuan, yang paling berangasan sambil ngomel-ngomel


"Kakek-kakek tua, mengapa kau bertanya, siapa?" lagi suara itu terdengar balik bertanya, yang membikin mereka semakin jengkel


"Sialan..! kita malah dipermainkannya..!


"Biar aku saja pergi kesana ! kata Lu Kong menimpali seraya berkelebat mendekati orang itu.


Betapa terkejutnya Lu Kong, ketika sudah dekat, dijumpai hanya seorang pemuda yang usia sebantaran dengan cucu temannya.


"Eh anak muda, kaukah tadi yang berbicara?" tanya Lu Kong sangsi


Pusing dengan jawaban yang bolak balik dari tadi, Lu Kong ngeloyor pergi, balik ketempat temannya sambil geleng-geleng kepala


Jembel tua, apakah kau sinting seperti si tua Shaw Yuan? tanya Si Thian setelah Lu Kong mendekat


"Aku sinting...? Lu Kong menunjuk dirinya, lalu berucap lagi " Kalian semua yang sinting!" dengan sedikit emosi mengambil tempat duduk dan memandang pertempuran.

__ADS_1


Shaw Yuan dan Si Thian hanya memandang bengong dengan sikap aneh pengemis tua Lu Kong. Keduanya kembali beralih pandangan ketempat pertempuran.


"Kalian memang kakek-kakek pikun, mengajari cucu sendiri lalu di adu, yang akan membuat bibit permusuhan untuk mereka kelak!" kembali mengiang suara tadi ditelinga mereka yang membuat mereka bersama-sama menoleh ketempat Tan Liong berada.


Betapa terkejut hati mereka, mendapati tidak ada siapa-siapa lagi ditempat tadi.


"Kemanakah pemuda tadi..? Apakah ada yang melihatnya pergi ?" tanya Lu Kong pada kedua temannya


Pemuda...??? Tanya Shaw Yuan dan Si Thian bersamaan setengah tidak percaya


"Ada yang mencariku..?


Tiba-tiba pemuda yang mereka cari, ada dibelakang mereka cukup dekat, sedang asik duduk memakan roti kering


Kau.....? hampir berbarengan mereka berseru tak percaya. Sekelas mereka bertiga, yang terkenal sebagai pendekar yang jarang mendapatkan lawan tanding, sekarang dibikin terkejut oleh seorang pemuda, sungguh membuat runtuh kepercayaan diri masing-masing.


"Kakek-kakek yang baik, aku mohon hentikan dulu pertandingan mereka, setelahnya baru kita berbicara" ucap Tan Liong dengan suara lembut memberi saran

__ADS_1


"Cia Shin coba mundur sebentar, ajak lawanmu istirahat dulu" seru Si Thian pada cucunya


"Nah ! jelaskan kepada kami, siapa kamu dan apa maksud perkataanmu?" tanya Si Thian kepada Tan Liong setelah melihat cucunya dan cucu dari sahabatnya berhenti dan beristirahat.


__ADS_2