
Malam itu, setelah pemberontakan jendral Go dapat dipadamkan, raja Tio Ong menitahkan bawahanya, menghukum buang pangeran Yung menjadi rakyat biasa dan tidak memiliki hak apapun lagi diistana.
Tan Liong yang dianggap sangat berjasa, dianugrahi sebagai bangsawan dari keluarga istana, mendapatkan gedung tersendiri. Sedangkan yang lain, mendapatkan jabatan dan ada pula yang mendapatkan kenaikan pangkat.
Sebulan sudah, Tan Liong berada digedung baru hadiah dari raja. Segala sesuatu sudah ada yang melayani sehingga kebosanan mulai menghinggapi diri Tan Liong. Pada hari ini dia, bermaksud melanjutkan penyelidikan tentang musuh pembunuh ayah ibunya. Maka dipanggilnya pengurus gedung, yang sudah dia anggap keluarga sendiri.
"Bibi Lin !, hari ini saya akan pergi dengan waktu yang tidak bisa saya tentukan! saya mohon bibi merawat gedung ini, sepeninggalan saya!" ucap Tan Liong, sambil memberi penjelasan alasan dia pergi.
"Tuan muda tidak usah khawatir.!, bibi akan jaga gedung ini, sampai tuan muda kembali !
"Baiklah bibi Lin, saya sangat percaya pada bibi, yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. "Sekarang juga saya akan berangkat !"
*******
__ADS_1
Gunung Sejhin adalah sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi, malah lebih cocok dibilang bukit dari pada sebuah gunung. Udara dipegunungan ini sangatlah sejuk, dengan pohon-pohon besar tumbuh mengitarinya. Walau hanya sebuah gunung, yang termasuk pendek, namun gunung ini sangat terkenal sekali. Bagi orang-orang rimba persilatan gunung ini adalah tempat kediaman pendekar dewa berjubah putih Si Thian. Dia merupakan salah satu pendekar golongan putih yang memiliki kesaktian yang tidak lumrah hingga sangat disegani kawan ditakuti lawan.
Pagi itu, pada saat embun masih menggantung di udara, dua orang lelaki yang sudah berumur sekitar tujuh puluhan nampak sibuk memandang papan catur. Salah satunya yang berpakaian seperti pengemis nampak seperti patung, yang diam dengan mata melotot tak berkedip.
"Sudah, menyerah sajalah Lokai!! dirimu sudah tidak ada jalan lagi heee...heeee " terdengar suara dari lelaki yang berbaju putih, sambil cengar-cengir memanasi lelaki berbaju pengemis itu.
"Uh...jangan merasa menang dulu kau, kutu buduk! tangan si pengemis terlihat memindahkan posisi kuda, "skak" ucapnya kepada lelaki berbaju putih.
"Sialan, mengapa aku kalah lagi dengan tua jembel jelek ini"' gerutu lelaki baju putih sambil garuk garuk kepala yang tidak gatal.
"Gimana ! menyerah lagi kah?" tanya si baju pengemis pada lawan mainnya.
"Baik! kali ini hari keberuntunganmu, lokai !!" kita ulangi sekali lagi.."
__ADS_1
Papan catur pun ditata ulang, mereka mulai dari awal dan segera tenggelam dalam permainan.
Kakek , waktunya sarapan pagi...! terdengar suara dari jauh namun sangat lembut dan jelas sekali.
"Iya, sekarang kakek datang! sambil mengerutu tidak jelas, lelaki berbaju putih membalas suara tadi.
"Cukup dulu hari ini jembel tua, aku masih hutang 2 kali, besok kita lanjutkan, waktunya untuk makan, ayo kita berangkat " ajak lelaki baju putih pada sahabat yang berbaju pengemis.
"Pas sekali, undangan yang tidak perlu ditolak, kebetulan cacing diperutku sudah meminta jatahnya heee heeee..."
Mereka segera meninggalkan tempat permainan, bergerak dengan cara terbang, menuju suara panggilan tadi.
Dua orang ini adalah sahabat karib yang banyak menghabiskan waktu dengan permainan catur. Orang yang memakai baju putih tadi adalah Si Thian yang mendiami pegunungan Sejhin ini, sedangkan yang memakai baju pengemis adalah Lu Kong atau lebih terkenal dengan sebutan pengemis tangan petir. Lu Kong yang dipanggil Lokai atau jembel tua merupakan beberapa pendekar aliran putih, yang memiliki kemampuan tidak lumrah dan sangat jarang muncul didunia persilatan.
__ADS_1