KITAB NAGA EMAS

KITAB NAGA EMAS
CH.26. Perjanjian


__ADS_3

"Kami datang.....!!"


Mereka tiba hampir bersamaan, di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Ketika mereka melangkah kedalam rumah, terlihat seorang gadis remaja sudah menunggu dengan wajah tersenyum.


"Ayo kek, aku sudah masak masakan kegemaran kakek" ucap gadis remaja ini yang bernama Si Kim Lan


"Benarkah Lan Lan? aduuuh....kamu memang cucu kakek yang tiada duanya!" seru Si Thian yang segera mengambil tempat duduk di depan meja makan


"Eh jembel tua, apa yang kau tunggu! mari kita sikat masakan cucuku yang paling enak sedunia heee heeee " kembali Si Thian berucap, melihat temannya hanya melototi masakan di depan meja, sedangkan dia sibuk menggigit paha ayam.


Tidak butuh waktu lama, semua masakan yang ada dimeja pindah keperut mereka tanpa sisa.


"Benar-benar hari yang indah, hari ini aku si jembel tua sungguh kekenyangan !" sambil mengelus-elus perutnya yang nampak agak buncit.


Si Kim Lan yang melihat kedua orang tua yang disayanginya, puas dengan masakan yang dia buat, nampak tersenyum bahagia. Dia pun segera membawa seguci arak kegemaran mereka.

__ADS_1


"Kim Lan, ayah dan ibumu kemana?" tanya Si Thian, yang baru merasakan suasana rumah agak sepi, tidak terdengar keberadaan mereka dirumah tersebut.


"Ayah dan ibu lagi turun gunung kek! menukarkan tanaman obat dan sayuran di kebun kita !"


"kakakmu sudah selesai latihannya apa belum? coba kamu tengok kebelakang dulu Lan Lan !"


Bergegas Si Kim Lan kebelakang rumah, yang merupakan tempat latihan mereka. Ruangan itu merupakan sebuah bangunan yang sangat besar dan luas, cocok untuk berlatih silat.


Si Kim Lan mendapati kakaknya sedang santai duduk dengan melojorkan kaki istirahat.


"Kak dipanggil kakek ! seru Si Kim Lan, sambil berbalik berlalu setelah menyampaikan pesan.


Begitu mereka tiba dihadapannya, Si Thian menoleh ke sahabatnya Lu Kong.


"Bagaimana menurutmu, apakah hari ini kita berangkat menemui tua bangka itu?" tanya Si Thian meminta pendapat

__ADS_1


"apakah menurutmu, penguasaan jurus pemecah gelombang cucumu sudah bagus?" pengemis tua Lu Kong balik bertanya


"Wah...yang itu malah dia mahir sekali ! cuma, tenaga dalam saja perlu ditambah, sampai kepuncak !"


"Kalau begitu tinggal kau beri pil dewa mu saja, beres sudah.."


"Mmmm....baiklah ! biar dia tidak lama menunggu janji kita !"


Si Thian dan Lu Kong, memiliki sahabat lagi satu generasi dengan mereka berdua. Sahabatnya ini, memang memiliki watak yang keras tidak mau kalah, tetapi jujur. Sehingga setiap waktu mereka selalu melakukan adu kemampuan, siapa yang lebih unggul dari mereka. Si Thian juga Tak pernah mau mengalah sehingga pertarungan mereka selalu diadakan setiap lima tahun sekali.


Sampai akhirnya, pertarungan ini dilanjutkan dengan perjanjian mengajarkan cucu masing-masing, untuk diketahui, siapa paling berbakat menjadi pengajar.


Hari ini merupakan hari yang dijanjikan untuk pertemuan mereka. Persiapan sudah dilakukan dengan memberikan pil dewa. Pil pembangkit tenaga dalam sampai kepuncak ilmu, yang dikuasai Si Cia Shin, Mereka pun segera berangkat ketempat pertemuan.


Tempat pertemuan mereka adalah, sebuah dataran yang tidak begitu luas, akan tetapi sangat bagus bagi orang yang melakukan pertandingan. Tempat yang sunyi dengan pepohonan mengitari berjarak lumayan.

__ADS_1


Pada hari ini, perjalanan Tan Liong dari ibu kota sudah tiga hari berlalu. Selama perjalanan itu, Tan Liong hanya sempat mencari penginapan dan warung makan, sesekali bertanya pada orang yang ditemui, tentang musuh yang dicarinya. Sampai dia melintasi tempat ini, yang dia gunakan untuk istirahat dibawah pohon berdaun lebat.


Baru setengah kentungan dia istirahat menghilangkan lelah, sudah terganggu dengan suara ribut perkelahian, dilahan kosong depan tempatnya berada.


__ADS_2