KITAB NAGA EMAS

KITAB NAGA EMAS
CH. Pemakaman iblis langit bumi


__ADS_3

Sebuah kotak kayu, berukuran kecil dengan bahan dari kayu jati tua hingga terlihat warna kayu sedikit menghitam. Tan Liong segera memasukkan kotak kayu itu yang telah menjadi incaran banyak orang, kedalam balik pakaiannya.


Matanya beralih kembali, memandang kepada dua orang lawan yang sedang sekarat. Mereka berdua yang terluka dalam hingga luka bakar luar tubuh nampak pasrah, saat Tan Liong melangkah mendekat.


"Katakan padaku, siapa orang yang mengirim kalian untuk membunuh teman-temanku iblis langit bumi ? " tanya Tan Liong dengan suara bengis, membuat dua orang yang sedang terluka ini menjadi tercekat ngeri, mendengar suara pemuda didepannya begitu menakutkan.


"Kami...kami hanyalah utusan ...yang me..mendapatkan tugas dari sekte pedang terbang " ucap lelaki yang terluka bakar menjelaskan, sedikit terbata-bata.


"Katakan padaku dimana letak sekte pedang terbang kalian ? bila jawabanmu jujur, kemungkinan kalian berdua akan aku biarkan hidup ! " tanya Tan Liong lagi dengan aura yang penuh ancaman membunuh.


Lelaki yang terluka bakar itu, sejenak menoleh temannya yang disebelah kiri dari tubuhnya seperti hendak meminta pertimbangan, sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Tan Liong.


Orang yang diminta pendapat terlihat menggeleng-geleng kepala mengisyaratkan untuk tidak memberi tahu.


"Kak .....? "


Sedikit suara menyerukan temannya keluar dari bibirnya, saat dilihat teman yang diminta pendapatnya tampak memberi isyarat untuk menutup mulut. Kembali lelaki itu menatap kearah Tan Liong, wajahnya sudah pucat pias sangat ketakutan tetapi dengan memaksakan diri dia bersuara keras menjawab pertanyaan Tan Liong.


"Mau bunuh kami, silahkan bunuh ! kami tidak akan memberi tahu tempat sekte kami " ucap lelaki didepan Tan Liong terdengar tegas.


Tan Liong langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang begitu menakutkan bagi mereka dari sekte pedang terbang itu, sehingga mereka berani mengabaikan ancaman kematian darinya.

__ADS_1


"Baiklah bila itu yang kalian inginkan, pergilah kalian ke neraka ! "


Dua kali terdengar suara ledakan dari pukulan yang dilepaskan Tan Liong yang langsung menyambar kedua orang tersebut. Begitu usai setelahnya, suasana kembali sunyi kembali. Sosok tubuh Tan Liong sudah lenyap dari tempat itu, meninggalkan dua onggok abu dari tubuh dua orang lelaki yang dibunuhnya.


Tanpa mengurangi kecepatan larinya, tubuh Tan Liong meluncur cepat menuju kearah penginapan. Butuh hanya beberapa waktu, dia sudah sampai ditempat penginapan dan langsung masuk kekamarnya lewat jendela yang masih dalam posisi terbuka.


Diluar penginapan saat dia tiba, sudah banyak orang mengerumuni kamar yang ditempati iblis langit bumi. Kembali Tan Liong keluar dari kamarnya lewat pintu, berlagak seolah-olah dia terbangun karena adanya keributan diluar kamar.


Dengan berpura-pura bertanya pada orang-orang, dia mendekati kamar iblis langit bumi. Kembali dia melihat jasad ketiga sahabatnya lagi dengan jelas dan mendapat tahu bahwa kematian mereka akibat racun, sebelum mereka dibunuh dengan sadis.


Tan Liong mencoba menyelidiki dengan mengitari arah jendela kamar iblis langit bumi. Beberapa saat kemudian dia menemukan sebuah pipa dari bambu sangat kecil dan agak panjang, tergeletak dibawah jendela kamar mereka.


Pemilik penginapan, mau tidak mau harus mengurus pembiayaan pemakaman dari iblis langit bumi keesokan harinya. Tan Liong yang merasa sebagai sahabat mereka, mengambil alih pembiayaan tersebut dan dia segera menerima ucapan terima kasih dari pemilik penginapan yang merasa diringankan beban pengeluaran mereka.


Usai proses pemakaman iblis langit bumi, setelah berkemas-kemas Tan Liong meninggalkan penginapan untuk melanjutkan perjalanannya.


Saat ini Tan Liong berada ditepi luar hutan, masih merupakan wilayah kerajaan Chin. Beberapa mil lagi, dia akan sampai dikota perbatasan wilayah kerajaan Chin dengan kerajaan Ye Thian.


Dengan berjalan santai Tan Liong melangkahkan kaki menyusuri jalanan yang dilaluinya. Semenjak dia memakan biji yang ditemukan digua bersamaan Kitab Naga Emas, tenaga dalam yang dimiliki dirasakan kian hari bertambah kuat dan semakin dahsyat.


Bersamaan bertambahnya umur, dua biji yang dimakannya itu, mulai mencair habis menciptakan tenaga dalam yang berlipat-lipat didalam tubuhnya yang segera disimpan ditantian. Kepekaan telinga dan ketajaman matanya, mulai dirasakan semakin bertambah kuat.

__ADS_1


Pada saat Tan Liong yang berjalan sambil melamun, dia seperti mendengar tarikan napas yang sangat halus berasal dari sebelah kiri tempatnya melangkah, berada dibalik rapatnya daun pepohonan. Tan Liong lalu berhenti melangkah dan segera berseru kearah asal suara tarikan napas yang didengarnya.


"Siapa disitu, cepatlah keluar ! " ucap Tan Liong dengan suara lantang.


"Heee..heeee..hebat, sungguh hebat kau anak muda "


Bersamaan suara berkumandang menjawab, sesosok bayangan berkelebat keluar melayang sebentar diudara sebelum turun menginjak tanah. Seorang lelaki tua dengan pedang tersembul dibelakang tubuh, memelihara jenggot pendek dengan senyum simpatik menghiasi wajahnya, tertampak didepan Tan Liong saat ini.


"Heeee heeee anak muda hebat, tidak percuma engkau mampu mengalahkan utusan sekte kami, ternyata kamu memiliki kemampuan yang lumayan " ucap lelaki tua itu dengan tetap mengeluarkan senyum dibibir.


"Mmm...apakah engakau dari sekte pedang terbang, orang tua ? " tanya Tan Liong memastikan bahwa orang tua didepannya adalah orang dari sekte pedang terbang.


"Melihat kemampuanmu, engkau layak mendapatkan jawabannya anak muda. Memang aku adalah orang sekte pedang terbang dan aku ingin kamu menyerahkan baik-baik kotak kayu yang ada padamu ! " ucap lelaki tua itu, masih dengan senyum dibibir.


"Aku mendapatkan kotak kayu dengan kemampuanku, apakah ada hal begitu mudah memberikan kotak kayu ini kepadamu dengan percuma ? " ucap Tan Liong menyindir, setelah mendengar ucapan lelaki tua yang dianggapnya keterlaluan.


"Jangan salahkan kalau aku sebagai orang yang lebih tua, tidak memberi hati pada orang yang lebih muda "


Bersamaan dengan omongannya, lelaki tua didepan Tan Liong bergerak secepat kilat menyerang. Tampak bayangan tubuh lelaki tua itu, seperti menghilang didepan Tan Liong. Tan Liong yang sudah bersiap dari tadi, saat dia diserang segera meladeni serangan tersebut.


Kedua tubuh mereka sudah saling serang dengan sangat cepat hingga hanya bayangan mereka yang kadang seperti hilang dan kadang muncul kembali, tampak bertarung dengan serunya.

__ADS_1


__ADS_2