KITAB NAGA EMAS

KITAB NAGA EMAS
CH.64. Desa yang misterius


__ADS_3

Seluruh anggota perguruan, nampak sibuk melakukan pembersihan jasad-jasad anggota perguruan yang memberontak yang memilih terbunuh dari pada menerima hukuman perguruan yang mengerikan. Hukuman bagi penghianat perguruan, orang yang dinyatakan bersalah akan dihukum dengan dihancurkan kemampuan ilmu beladirinya sehingga orang tersebut menjadi orang yang biasa seumur hidup.


Hu Song dan Wan Lung orang yang menjadi kepercayaan tetua Ryu Shen palsu, ikut tergeletak mati. Mereka berdua memang tidak ingin mengalami hukuman perguruan yang mengerikan, berprinsip lebih baik mati dari pada kena hukum perguruan.


Tetua-tetua perguruan satu persatu telah disembuhkan oleh Tan Liong, berkat darah yang dimilikinya mampu yang menawarkan racun.


Setelah sembuh, Mereka bersama-sama membongkar tempat rahasia yang dipergunakan tetua Ryu Shen palsu, menyembunyikan jenasah tetua Ryu Shen asli. Ditempat itu mereka banyak menemukan barang-barang yang dipergunakan oleh tetua Ryu Shen palsu, untuk melakukan kejahatannya.


Akhirnya setelah proses penguburan jenasah tetua Ryu Shen asli selesai dan semua permasalahan perguruan sudah ditangani, tiga hari kemudian Tan Liong sudah berpamitan meninggalkan perguruan Teratai Hati Suci untuk melanjutkan petualangan.


*********


Siang hari yang tidak terlalu panas, dijalanan setapak yang jarang dilalui, Tan Liong berjalan santai tanpa beban. Sudah sepuluh hari berlalu setelah dia meninggalkan perguruan Teratai Hati Suci, hari-harinya dilewati hanya di alam bebas. Tidur diatas pohon, mandi disungai dan makan hanya dengan daging hewan yang dia tangkap.

__ADS_1


Hatinya ingin segera menemukan kota atau sebuah desa untuk minum arak yang digemarinya. Semua bisa saja dilakukan dengan cepat, bila saja dia menggunakan ilmu berpijak diudara atau ilmu lari cepat, tapi semua itu tidak mau dia lakukan karena dia belum ada tujuan pasti harus kemana.


Pada saat menyusuri jalan setapak, akhirnya dia menjumpai seseorang untuk pertama kalinya, seorang lelaki yang sudah tua, sedang duduk dibawah pohon untuk berteduh.


Tan Liong mendekati lelaki ini, mencoba menyapa dengan sikap yang menghormat kepada generasi yang lebih tua.


"Salam hormat kepada kakek ! maaf mengganggu, masih jauhkah desa atau kota dari sini, kek ? " tanya Tan Liong dengan sedikit membungkukkan badan.


"Maaf kakek, Engkau orang tua bisakah memberi petunjuk pada saya sebagai generasi muda yang tersesat, arah yang harus dilalui menuju desa atau kota terdekat? " tanya Tan Liong dengan cara yang lebih sopan


Tetap tidak ada jawaban dari lelaki tua didepannya, akhirnya Tan Liong ingin melanjutkan langkah tanpa mengganggu orang tua itu lebih lanjut. Walau dia tahu dari tarikan napasnya, orang tua itu tidak tidur.


"Maaf kek, saya mohon diri dulu...!"

__ADS_1


Bergegas Tan Liong berlalu, tanpa berkeinginan menoleh lelaki tua tadi. Rasa mangkel masih terasa disanubari, karena merasa tidak diacuhkan oleh lelaki tua itu begitu saja.


Sekian waktu berlalu, Tan Liong beruntung menjumpai sebuah desa yang cukup ramai. Orang-orang juga terlihat sibuk dengan kegiatannya. Hanya yang sedikit menjadi tanda tanya di hati Tan Liong, bisa menemukan sebuah desa yang lumayan ramai ditempat terpencil ditengah-tengah hutan yang dilaluinya.


Mereka atau orang-orang yang dilihat Tan Liong sama sekali tidak membuatnya curiga, karena cara berpakaian dan tingkah laku mereka sama seperti penduduk desa lainnya. Tidak ingin dibebani pikiran yang terlalu berat, Tan Liong melangkah kesebuah rumah makan yang paling dekat, untuk mengganjal perut dan membeli arak kesukaannya.


Seruni Hijau, nama rumah makan yang dimasuki Tan Liong merupakan warung makan yang terlihat bersih dan besar untuk ukuran rumah makan sebuah desa. Orang-orang yang berkunjung dirumah makan ini lumayan ramai, kebanyakan dari mereka warga disekitar desa ini.


Saat Tan Liong mencari meja makan yang kosong, matanya menemukan lelaki tua yang tadi ditemui di jalanan menuju desa ini. Kapan orang tua itu ada disini, sangat mengherankan dan mengejutkan hati Tan Liong. Lelaki tua itu nampak duduk santai menikmati minuman yang ada didepan meja, sedikitpun lelaki itu tidak menoleh dengan kedatangan Tan Liong.


Tan Liong mencoba bersikap wajar, mulai duduk dan memesan arak serta makanan yang dia ingini. Sebuah guci arak ukuran sedang pesanannya sudah ada dimeja, dia pun menikmati arak tersebut dengan sikap wajar tanpa mengurangi kewaspadaan.


Sekilas saat duduk tadi Tan Liong mendapati, orang-orang yang terlihat seperti warga desa biasa itu, ternyata adalah penyamaran pesilat yang sangat rapi. Tanpa sengaja di melihat setiap gerak-gerik mereka, sangat cepat dan tangkas, sebagai seseorang yang memiliki ilmu beladiri tinggi.

__ADS_1


__ADS_2