KITAB NAGA EMAS

KITAB NAGA EMAS
CH.81. Kematian Wu Yian


__ADS_3

Pedang Wu Yiang berkelebat, mulai menyerang dengan cara menebas dari arah samping kanan pinggang Tan Liong. Kekuatan dari jurus Pedang yang Wu Yian keluarkan, sangat hebat dan begitu cepat hingga membuat Tan Liong harus memusatkan perhatian sepenuhnya, untuk menghindar dan menghadang jurus ini.


Walupun Tan Liong mengetahui jurus yang dimainkan lawannya, namun tingkat kemahiran dari permainan jurus dari Wu Yian sudah sangat sempurna dan mendarah daging. Tan Liong dalam beberapa saat saja telah terkurung oleh permainan pedang Wu Yian, sehingga belum sempat baginya membalas untuk menyerang balik.


Penantian yang sabar walaupun sedikit lama akhirnya membuahkan hasil, Tan Liong mendapat celah untuk menekan balik setelah sekian waktu dia dikurung oleh jurus Pedang Wu Yian yang begitu rapat. Dengan mengempos tenaga dalam Naga Emas yang dimilikinya, Tan Liong mulai menyalurkan tenaga dalam kegagang pedang hingga membuat pedang Naga biru, mulai mengeluarkan cahaya membunuh sangat pekat.


Wu Yian sedikit demi sedikit, mulai merasakan tekanan aura membunuh yang dipancarkan dari pedang yang digenggam lawan. Pemusatan jurus Pedang Wu Yian mulai goyah, seiring tekanan aura dari pedang Tan Liong semakin kuat mempengaruhi permainannya.


Tan Liong melihat lawannya terlihat mulai panik, tidak ingin membiarkan Wu Yian untuk lepas dari tekanan serangan jurus pedang Naga birunya. Jurus kedua juga disebut jurus pedang ilusi, serta merta dikeluarkan Tan Liong. Dengan aura pedang Naga birunya, pengaruh jurus pedang ini terlihat sangat dahsyat sekali, berkelebat mengurung pergerakan Wu Yian.


Wu Yian saat mengetahui dia diserang dengan jurus pedang ini, tadinya menganggap remeh karena dia sangat mengetahui dan menguasai jurus ini dengan sangat baik, namun saat jurus ini dikeluarkan oleh Tan Liong mendadak dia merasa seperti memasuki ruang gelap yang baru disadari, saat jurus ini hampir merenggut nyawanya. Ternyata bahwa dia telah terperangkap oleh ilusi jurus pedang ini tanpa dia sadari.


Ketakutan mulai membuat pertahanan Wu Yian semakin goyah, dia yang menguasai jurus naga biru, baru mengetahui kemampuan jurus ini ternyata sangat mengerikan. Hanya saja Wu Yian tidak menyadari, jurus naga biru itu kedahsyatannya akan lebih mengerikan bila dilakukan dengan menggunakan pedang Naga Biru itu sendiri.

__ADS_1


Beberapa bagian tubuh Wu Yian mulai nampak berdarah saat serangan Tan Liong tidak mampu dia hindari dengan sempurna. Keinginan untuk meloloskan diri sudah ada dibenak Wu Yian sedari tadi, setelah dia menyadari kemampuannya masih dibawah pemuda yang menjadi lawannya.


Tan Liong mencoba membuka jurus kedelapan, yaitu jurus naga membelah gunung untuk mengakhiri perlawanan Wu Yian. Dengan menekuk sedikit lutut dan menggenggam pedang didepan dada, tubuh Tan Liong terlihat melenting keatas. Dari atas tubuhnya meluncur kebawah dengan menggerakan tangan kanan seperti gerakan membelah.


Tekanan jurus yang dikeluarkan Tan Liong, terasa hampir puluhan meter disekeliling arena pertempuran. Wu Yian yang hendak menghindar, merasa kakinya tidak bisa digerakan untuk melangkah, maka dicoba sebisa mungkin untuk menghadap serangan Tan Liong dari atas dengan menyilangkan pedangnya diatas kepala.


"Traaaaang....cuusssss !"


Hanya sepersekian detik jurus itu terjadi, Kepala Wu Yian terlihat terbelah dibarengi ambruknya tubuh Wu Yian ketanah, tanpa ada sedikit pun suara kesakitan. Entah kapan Tan Liong memasukan pedang kesarungnya kembali, tampak dia sudah mendekati tubuh Wu Yian meraba-raba untuk menemukan Kitab yang dia cari.


Dikerajaan Chin, Tan Liong disambut oleh putra mahkota dan pangeran Luan dengan ucapan terimakasih, atas usul pangeran Luan Tan Liong diundang untuk menghadiri penghakiman untuk pangeran Kiang yang berkhianat. Mereka juga mengajak Tan Liong yang dianggap berjasa, untuk hadir makan di istana dan diberikan banyak hadiah yang segera ditolak oleh Tan Liong secara halus.


Dua hari kemudian dengan seijin Raja dan putra mahkota serta pangeran Luan, Tan Liong memohon pamit untuk meninggalkan istana untuk mencari musuh perguruannya. Sebelum meninggalkan kerajaan Chin, dia menyerahkan Kitab naga biru ke perguruan lembah langit dan mengunjungi tetua desa Losien juga desa Tihuna.

__ADS_1


****


Pagi itu cuaca yang cerah, sinar matahari belum mampu menembus rapatnya daun-daun pepohonan. Seorang gadis sangat cantik, terlihat sibuk memilah-milah daun obat, disebuah toko obat yang ada dikota kerajaan Chin. Kesibukkan yang dia lakukan benar-benar menguras konsentrasinya, sehingga saat sesosok tubuh sedang mendekatinya, tidak mampu disadari oleh gadis itu sama sekali.


" Selamat pagi adik Ro Wei, maaf mengganggu kesibukanmu ! "


Terdengar suara menyapa gadis cantik itu dengan suara lembut yang berasal dari sebelah kiri tubuhnya. Saat mendengar suara yang menyebut nama dan begitu dekat dari tempatnya bekerja, sang gadis terlihat terkejut yang seketika menoleh untuk mengetahui orang yang menyapa dirinya.


"Eh kakak Liong, maaf aku tidak mendengar kedatanganmu ! " ucap gadis cantik itu yang mukanya terlihat merah dadu mengetahui kedatangan Tan Liong menyapa dirinya.


"Paman Phang ada dimana sekarang, adik Ro Wei ?" tanya Tan Liong yang tidak melihat keberadaan orang tua itu.


"Ayah sebentar lagi datang, dia keluar untuk membeli sesuatu. Silahkan duduk dulu kakak Liong ! " jawab gadis cantik yang bernama Ro wei sambil mempersilahkan Tan Liong untuk duduk di kursi yang ada ditoko obatnya.

__ADS_1


"Terimakasih adik Ro Wei, biar aku tunggu paman Phang balik pulang " ucapnya sambil melangkah ketempat duduk yang ada ditoko obat itu.


__ADS_2