Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 15. Arbakir VS Argoo


__ADS_3

Blue Ray Blast


White Bear Summon


"Glegharrr...." Sebuah ledakan kecil.


Rupanya Agroo melancarkan sihirnya tapi serangan itu tidak mengenai Arbakir karena ada sosok yang menghalangi sihir itu. Sosok seekor beruang salju yang besar berbulu putih. Ini adalah binatang hasil Summon Pria bertato itu.


Tapi kelihatannya Beruang itu tidak kuat menahan serangan dari Agroo. Beruang itu sempoyongan sebelum terjatuh.


Arbakir terpaksa menarik kembali Beruang itu kedalam Array Pemanggil.


"Apakah kau masih punya binatang yang lebih kuat?" Ejek Agroo.


"Abdi mu akan kalah" Bisik Lihat. Dia termundur dua langkah. Itu adalah perbedaan dari Tahap tingkatan mereka yang berjarak tiga tahap." Sarr sangat gemas. Ingin menyerang menggunakan jarum pelumpuh.


"Tenang... Dia belum mengeluarkan kekuatan transformasinya." Ragil juga masih berharap melihat sesuatu yang berbeda.


Selanjutnya Agroo terus menyerang Arbakir dan pria bertato itu hanya dapat bertahan tanpa dapat membalas. Dia juga tidak melakukan Transformasi manusia Srigala Hitam yang menjadi kekuatan favoritnya.


Pertarungan Arbakir dan Agroo sudah berlangsung lewat sepuluh menit. Kondisi Arbakir terus terdesak sementara Sihir perlindungan Agroo begitu kuat dan sulit di tembus.


Meskipun Arbakir memiliki tubuh yang kuat namun tetap saja bukan lawan dari Agroo. Beberapa kali Arbakir menyerang tetap tidak bisa mengenai tubuhnya lawan. Hanya sampai di sihir pertahanan Agroo.


"Dari sini saja sudah terlihat kalau tidak lama lagi abdi mu akan kalah. Meskipun kuat tapi kalau di serang terus menerus pasti akan kalah." Sarr memberi masukan.


Meskipun Arbakir cukup jauh jaraknya dengan Ragil dan Sarr, namun dia mengerti akan rasa khawatir dari Tuannya. Arbakir berusaha tersenyum dan memberikan tanda dengan goyangan tangannya. Menandakan untuk tenang karena dia bisa menghadapinya.


Melihat hal ini justru semakin Sarr. Geregetan. Tanpa sadar kakinya menginjak-injak tanah, sangking gemasnya ingin menyerang.


Ragil melihatnya hanya tersenyum. Biasanya dirinyalah paling tidak sabar tapi ternyata ada orang yang lebih tidak sabar darinya.


"Komandan. Bukankah kau selalu mengajarkan untuk sabar dalam berperang. Kenapa kau tidak sabar hari ini."


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku Komandan." Sarr menatap Ragil. "Dalam berperang memang kita musti bersabar untuk mendapatkan hasil terbaik. Tapi jika kita kemenangan sudah di depan mata, kenapa harus bersabar lagi."


"Menurutmu, Strategi apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi kumis tikus itu.?"


"Hancurkan Sihir pertahannya dengan sepuluh bahan peledak lali Serang dia dengan pistol atau jarum pelumpuh. Yang terakhir potong lehernya dengan belati beracun ku. Kalau perlu aku yang turun tangan untuk memenangkannya."


"Aku pernah memberi tahu kepadamu. Kekuatan terbesar adalah kasih sayang yang rela berkorban demi melindungi orang yang di kasihi nya. Dan yang kedua aku kasih tahu sekarang. Kekuatan terbesar juga ada pada orang yang mengeraskan hatinya. Seperti dendam, amarah dan harga diri seperti yang di alami oleh Arbakir. Dia tahu kalau di bantu pasti akan menyelesaikan pertarungan tapi kekerasan hatinya dan harga dirinya membuat dia memilih lebih baik mati dari pada dibantu."


"Kalian sungguh membingungkan dan di luar dari logika. Lebih memilih jalan yang sulit dari pada kemenangan yang cepat."

__ADS_1


"Tidak semua solusi harus dengan logika." Meskipun Ragil cemas tapi dia tidak mau mengecewakan kekerasan hati abdi nya.


"Aku bertaruh. Pasti dalam waktu tidak sampai 10 menit lagi, Abdi mu di kalahkan. Bagaimanapun Logika lebih unggul."


"Bertaruh? Ini yang paling aku suka. Apa yang akan kita pertaruhkan."


"Terserah. Apa saja." Sarr yakin kalau Arbakir pasti kalah.


"Baik. Kita bertaruh. Kalau Arbakir menang melawan Agroo maka kau tidak boleh melarang ku memanggil dirimu apapun. Baik Komandan atau Sarr atau Data atau apapun."


"Setuju. Tapi kalau abdi mu kalah maka kau harus membebaskan aku dalam hal menyelesaikan masalah. Tidak boleh melarang ku melakukan serangan kepada siapapun yang ku anggap musuh."


"Setuju." Ragil begitu yakin bahwa kemampuan dari Take n Gift masih ada dalam tubuh Arbakir dan belum di keluarkan.


Arbakir memang orang yang keras hati tidak mudah untuk menyerah. Dia mengeluarkan Summon andalannya memanggil Naga, Binatang favoritnya.


Earth Dragon Summon


Dari lingkaran Array bawah tanah muncullah seekor naga tak bersayap. Memiliki 4 kaki dan ekor. Bentuknya seperti komodo.


"Glegharrr..." Bunyi ledakan kedua.


Naga itu tidak bergeming ketika terkena serangan Agroo. Justru Naga berbentuk komodo itu maju menyerang. Naga ini bertubuh sangat kuat dan kebal.


Agroo adalah Penyihir berpengalaman, dengan mudah menghindar serangan tersebut.


Tapi anak buahnya yang berada di belakang Agroo yang menderita karena tidak dapat menghindari cairan magma tersebut. Akibatnya kaki nya melepuh saat terkena magma. Sakitnya bukan kepalang.


Blue Ray Whip


Di tangan Agroo kini muncul cahaya biru yang memanjang dan berbentuk seperti tali pecut.


Agroo menyalurkan mana sangat banyak untuk menciptakan pecut sihirnya itu.


Dengan cepat tali bercahaya biru tersebut bagai pecut langsung melilit kedua kaki depan Earth Dragon, membuat binatang yang lambat bergerak ini tidak sanggup berjalan normal.


Pecut yang mengeluarkan cahaya biru itu bagaikan hidup seperti ular terus melilit hingga ke tubuh Earth Dragon.


Earth Dragon pun berteriak kesakitan. Bukan hanya karena lilitannya yang semakin kuat tapi pecut itu juga sangat menyakitkan dapat membakar kulit. Lebih panas dari api biasa.


"Kalau kau tidak menarik binatang peliharaan mu maka lilitan pecut ku ini akan mematahkan tulang binatang mu." Agroo merendahkan kemampuan suku naga.


Pecutan Ciptaan Agroo memang seperti hidup karena dapat di gerakan dengan Telekinetic. lilitan pecut sinar biru itu terus melilit dan semakin lama semakin kencang mengikat.

__ADS_1


Binatang itu berteriak menahan sakit. Dengan Terpaksa Arbakir menyimpannya kembali Binatangnya itu.


Akhirnya Earth Dragon itu lenyap menghilang, namun pecutan itu masih berada di tengah arena pertarungan. Serta Merta pecutan terus melanjutkan serangannya dengan memanjang menyerang Arbakir dalam jarak yang dekat. Pecutan itu juga semakin besar karena Agroo menambah menyalurkan mana yang semakin besar juga ke pecutan miliknya.


Ujung cambuk itu berputar-putar seperti per atau spiral lalu menerjang Arbakir. Meskipun Pria bertato ini kuat namun tak dapat bertahan dengan kekuatan cambuk itu. Ini mengingatkan bahwa perbedaan Level cukup mempengaruhi. Dibutuhkan strategi dan bakat untuk memenangkan pertatungan ini


Arbakir terlempar ke belakang tanpa dapat mengontrol dirinya. Dia terkapar dan langsung muntah darah.


"Dia sudah kalah. Sekarang giliran ku menyerang."


"Tunggu dulu. Dia belum mengaku kalah. Dia masih belum berubah menjadi Srigala."


Agroo melihat lawannya terkapar membuat dirinya semakin beringas. Serangannya lebih cepat dan cambuknya sekali lagi menjulur memanjang seperti spiral itu di lancarkan kepada Arbakir yang masih terkapar .


Tubuh Agroo meluncur cepat hingga serangan itu tidak dapat di cegah oleh Ragil dan Sarr untuk melindungi manusia suku naga itu.


"Glegharrr ... " Ledakan ke tiga.


Tubuh Arbakir terlempar semakin jauh. Jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi. Jatuhnya tepat didekat Ragil.


Ragil segera mendekati Arbakir untuk memeriksa nafasnya. Tapi tampaknya sudah tidak bisa diselamatkan jika melihat luka di dadanya terbuka lebar.


Sihir dari Argoo dapat membakar kulit merusak jaringan saraf. Nafas Arbakir semakin melemah. Tangannya menggenggam tangan Ragil dengan senyuman. Seolah dia ingin berkata "maafkan aku."


Hembusan Nafas terakhirnya berada di pangkuan Ragil. Detak jantungnya juga berhenti. Arbakir telah tewas.


"Bagaimana. Apa kau sudah mengaku kalah LK0811." Sarr terlihat senang. Kemenangan sudah didepan mata. Melihat kondisi Arbakir yang sudah kehilangan nyawa nya.


Ragil hanya terdiam dengan penuh kekesalan. Rasanya dia ingin meninju mantan Komandannya yang tidak punya perasaan. Menghadapi kematian Arbakir di anggap sebagai hal yang biasa.


"Siapa lawanku selanjutnya." Agroo tampak senang setelah berhasil menumbangkan lawan terkuat dari musuhnya.


"Abdi mu sudah mati. Sekarang aku akan menghajar kumis tikus itu." Sarr sudah mengeluarkan belati beracun nya.


"Tunggu!!"


"Apa lagi yang di tunggu. Abdi mu sudah tidak bernafas berarti dia sudah mati."


"Betul dia sudah mati. Tapi coba kau lihat lukanya bekas serangan Agroo."


Sarr memperhatikan dada Arbakir yang terbuka akibat luka dengan darah tertumpah. Semakin di perhatikan maka semakin dia tidak percaya dengan logika nya. Luka di dada Arbakir mulai menutup dan semakin mengecil serta memulihkan dirinya sendiri.


"Tidak mungkin. Ini adalah kekuatan Dewi Kumala. Semakin tidak berdaya hingga berada di titik 0 tapi justru kekuatannya akan di kembalikan seperti semula. Apakah Dia sudah seperti abadi."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Sarr Mengucek matanya tidak percaya. "Apakah dia masih hidup?"


__ADS_2