Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 52. Sihir Arch Yang Baru


__ADS_3

Tidak lama kemudian masuklah Arch dan Dupp.


"Wanita inti Es itu menyuruh kami masuk. Dia tidak mau masuk dan hanya menunggu di luar katanya." Dupp memulai percakapan.


Dengan kemampuan Soul Watcher nya, Ragil mengetahui kalau Funuell menunggu di tengah lorong. Jadi dapat di pastikan kalau gadis Inti Es ini tidak dapat mendengar percakapan kami di dalam ruangan ini.


Nilai tambah untuk Funuell di mata Ragil. Dia sangat mengerti jika pembicaraan kami bukanlah pembicaraan publik alias rahasia.


"Kalian memang seorang yang luar biasa. Tidak pergi ketika aku jatuh pingsan." Ragil melanjutkan perkataan Dupp.


"Kau pikir aku pria seperti apa?" Dupp agak tersinggung. "Aku adalah orang yang menepati janji. jangan samakan dengan anak muda jaman sekarang yang bisa nya hanya omong besar."


"Tidak. Kami tidak akan pergi. Lagi pula masih ada yang harus kita bicarakan." Arch juga menambahkan.


"Arch. Apakah kau memakai alat penyadap yang membuat ayahmu mendengar semua pembicaraan ini?." Tanya Ragil.


"Tidak. Aku tidak memakai Penyadap. Tapi Ayahku selalu tahu dimana posisiku. Aku menggunakan alat ini untuk dia mengetahui lokasimu berada dan tombol merah ini hanya digunakan jika aku dalam bahaya."


Alat yang di tunjukkan Arch sama persis dengan alat yang di berikan Jendral Etuell kepadanya. Alat itu memiliki penyadap. Tapi sepertinya Arch tidak mengetahuinya.


"Pak Dupp. Jika tidak merepotkan tolong buatkan Ruang Dimensi lagi. Ada yang ingin ku tunjukkan."


"Baik. Sekedar informasi, kemampuan Ruang Dimensi ini tidak boleh bisa lama menggunakannya. Karena Duplikat yang kubuat terbatas waktu nya.


Ruang dimensipun tercipta. Hanya mereka saja yang berada dalam ruang dimensi. Didalam ruang dimensi ini terlihat lebih luas dan tinggi. Tidak seperti ruangan yang berada didalam goa.


"Arch. Alat itu sebenarnya ada alat penyadapnya." Ragil baru berani menjelaskannya setelah berada di ruang dimensi. karena disini dimensi ini alat itu tidak berfungsi. "Aku juga mempunya alat yang sama sepertimu diberikan oleh Jendral Etuell. Pada saat didatangi Sarr, barulah aku menyadari kalau benda itu bukan hanya petunjuk lokasi tapi ada juga alat penyadap nya. Valkirie mengetahui semua yang kubicarakan dan remcanakan. Sarr juga mengakuinya.. Tapi benda itu sudah kuhancurkan karena ada alat penyadap nya.."


"Tidak mungkin. Ayahku tidak mungkin berbohong padaku." Arch membantah.


"Dengan kemampuan Saul Watcher ku dapat kulihat semua isinya ketika aku masih memilikinya. Ada enam kabel kecil, Satu Papan Board, 3 tabung kecil dan satu benda bulat berpori kecil. Yang sepertinya itu merupakan alat penerima suara." Ragil mengatakan isinya tanpa menyentuh alat milik Arch. Dia tahu karena memang dia pernah memilikinya. "Kalau kau tidak percaya kau boleh bongkar isinya."


"Aku selalu melakukan setiap perintah ayahku. Mana mungkin dia perlakukan aku seperti tawanan." Arch sangat mempercayai ayahnya. Tidak tergoyahkan.


"Aku juga tahu kalau di punuk lehermu ada sebuah alat kecil sebesar nasi. Hanya aku tidak tahu fungsinya." Ragil mengetahui alat itu ketika masih bertarung melawannya.


"Apa." Ini baru pertama kalinya Arch tahu kalau ada alat di tanam dalam tubuhnya. "Mustahil. Aku tidak percaya."


Ragil tidak mau menambah kebingungan bekas sahabatnya ini. Lagi pula alat yang ada dalam punuk Arch tidaklah membahayakan dirinya. Jadi lebih baik tidak usah mempermasalahkan.


"Sudahlah.. itu bukan hal serius. Apakah kalian pernah membicarakan kemampuan Sihir Transformasiku?" Ragil kuatir kalau pihak Militer mengetahui kemampuan Avatar dan Raja Kegelapan. "Kalau iya berarti Pihak Militer mengetahuinya juga."

__ADS_1


Arch juga merasa Ayahnya perhatian dengan dirinya. Membimbing dan membantunya meningkatkan kemampuan sihirnya dengan menggunakan tehnologi. Jika memang Ayahnya menaruh alat didalam tubuhnya dan memberikan alat penyadap, maka semua itu pasti untuk maksud baik. Bagi Arch yang di lakukan ayahnya adalah untuk kebaikan dirinya.


Arch juga tidak begitu senang membahas tentang ayahnya. Begitu Ragil mengubah pokok pembicaraan, Arch pun langsung bersemangat.


"Tidak. Kami tidak membicarakan tentang kemampuan Transformasi mu. Kami hanya membicarakan perubahan kekuatanku." Jawab Arch yang sudah mengabaikan masalah alat di tubuhnya.


"Perubahan? .Apa yang berubah dari kekuatanmu?" Ragil penasaran. Perubahan yang di alami sahabatnya ini pastilah yang terbaik. Begitulah yang ada dalam pikirannya.


"Itu yang ingin kami bicarakan. Tapi sebelumnya aku ingin mendengar tentang kaki mu. Apakah itu sementara atau permanen." Potong Dupp. "Tabib pribadimu si gadis es tidak memberikan penjelasan secara menyeluruh.


"Yahh... Sebenarnya Itu alasan aku memanggil kalian. Salah satu syarat menggunakan Sihir Take n Gift adalah mendapat kan ijin dalam memulihkan kekuatan sihir seseorang. Ijin itu harus didapat dari orang yang bersangkutan atau kerabat sedarah yang bersangkutan Atau wali seseorang." Ragil mengelus kakinya. "Ternyata Paman Dupp bukanlah kerabat sedarah. Jadi aku tidak mendapatkan Ijin dan inilah resikonya."


"Aku memang bukan kerabat sedarah dengan Paman Dupp." Arch menyela. "Tapi aku kan sudah memberikan ijin setelahnya."


"Tidak. Ijin itu harus sebelum aku menggunakan Sihir Take n Gift." Ragil menjelaskan. "Aku hanya menduga kalau kau adalah anak Paman Dupp karena memiliki Liontin miliknya."


"Liontin?" Arch masih bingung.


"Ini milik mu kan?" Dupp mengeluarkan sebuah Liontin Lalu memberikannya kepada Arch. "Dari mana kau mendapatkannya."


"Aku tidak ingat." Arch menerima pemberian Dupp. "Yang aku tahu Liontin ini sangat berharga bagiku. Mungkin ibuku yang memberikannya. Aku sama sekali tidak mengingatnya. Bahkan untuk mengingat tentang ibuku di masa kecilku masih samar-samar."


melupakan masa kecil adalah wajar bagi manusia. Apalagi Arch sejak kecilnya sudah bersama ayahnya.


"Jadi karena kau menolongku maka menyebabkan kau mengalami kelumpuhan."


"Tidak. Sebelumnya aku memang mempunyai penyakit di hati. Ini hanya menambah kualitas penyakitnya. Kita tidak usah bahas penyakit lagi."


"Baik. Sebelumnya aku berterima kasih karena kau menyelamatkan nyawaku dan masih menganggap aku sahabatmu meskipun aku pernah membunuh gurumu, Dewi Kumala."


"Hentikan basa-basi nya. Itu karena aku tahu semua yang kau lakukan adalah demi ayahmu bukan kata hatimu sendiri."


"Meskipun demikian aku harus mengatakan pada saat ini juga aku bagian dari misi ayahku. Jadi aku bisa menjadi musuhmu kapanpun walaupun saat ini aku masih berhutang Budi kepadamu."


"Aku mengerti. Apakah kita bisa kembali ke topik semula. Karena masih banyak yang harus ku lakukan."


"Langsung saja Archie." Dupp menepuk pundak pemuda penyihir petir itu.


"Aku kehilangan kemampuan sihir kebangganku. Lightning Explotion.sihir kuat yang merusak Kapasitasku?


Ragil hanya berdiam mendengarkan. Dia tidak menjawab. Seperti halnya Arbakir yang kehilangan kemampuan Transformasi yang merupakan kemampuan khusus untuk suku Naga. Kemampuan itu jadi miliknya sekarang. Hanya yang tidak di ketahui adalah mahkluk jenis apa yang dia transformasikan.

__ADS_1


Berarti kemungkinannya kemampuan Ledakan milik Arch akan menjadi miliknya. Ragil mulai membayangkan dirinya dengan kemampuan Ledakan.


"Tapi sekarang tidak kubutuhkan lagi karena aku punya yang lebih baik." Arch menyungging senyuman angkuh.


"Aku senang mendengarnya."


"Bisa kau bantu aku membuat batu hitam Blackblood ciptaan mu yang paling kuat." Pinta Arch.


Ragil mengeluarkan benda hitam berbentuk kotak. Kecil seperti dadu. Dilemparnya benda itu ke tanah. Belum lagi menyentuh tanah benda itu langsung membesar. Membentuk sebuah tembok besar ber ukuran 4 X 6 meter dengan ketebalan satu meter.


"Mainan yang bagus." Dupp tertawa senang melihatnya.


"Bagus. Perhatikan ini." Arch melangkah menjauh dari tembok ciptaan Ragil. "Aku mengikuti saran mu untuk menjadi penyihir tipe Longrange. Dengan bantuan Paman Dupp aku dapat menembak sasaran dengan kekuatan petir. Sihir ini kunamakan...:


Lightning Bullet


Sebuah kilatan listrik keluar dari tangan Archb dengan meluncur cepat ke arah tembok ciptaan Ragil.


"Dhuarr..."


Bunyi benturan kekuatan petir di tembok. Tembok itu masih utuh hanya ada sedikit uap bekas benturan


"Aku sudah menguji coba ciptaanku ini baru dapat di hancurkan oleh Tingkat Akhir selama kurang dari 20 menit. Untuk tingkat Dewa dapat menghancurkan kurang dari 5 menit dan untuk Maha Dewa bisa dalam hitungan detik." Ragil bangga akan kemampuan Blackblood nya.


"Sekarang aku akan mengubah sihirku."


Voltage.


Sihir yang berbahaya dapat menghancurkan kapasitas energi seseorang. Terakhir Arch sekarat karena kelebihan tegangan tinggi.


"Arch ... Jangan macam macam." Bagaimanapun Ragil tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.


"Tenang Ragil. Kali ini tidak berbahaya." Dupp meyakinkan.


Ragil terdiam meskipun hatinya masih cemas


Tubuh Arch kini bercahaya warna kuning dengan tegangan listrik di seluruh tubuhnya. Sampai wajahnya dan tubuhnya tidak terlihat lagi. Bentuk seperti ibu pernah dilihat Ragil sebelumnya. Itu bukan hal yang baru.


"Ini adalah batasan ku sebelumnya. Tapi sekarang perhatikan ini . Lebih dari ini maka akan melukai kapasitasku..." Arch sangat bersemangat.


Arch mengakhiri kalimatnya. Dalam detik yang sama Cahaya listrik ditubuh Arch langsung mengembang seperti balon yang ditiup. Hanya saja berkembangnya terlalu cepat. Cahaya itu membesar dua kali lipat

__ADS_1


"Jangan lakukan Arch. Kau akan merusak kapasitasmu lagi nanti" Suara Ragil semakin meninggi.


"Listrik itu berada di luar tubuh. Tidak menyentuh tubuhnya sama sekali. Ini adalah tehnik yang baru didapatkan." Dupp menjelaskan.


__ADS_2