
"Didalam kantong itu ada tiga benda yang seperti ini." Si Jubah Hitam menunjukkan ketiga benda di tangannya. "Benda itu sudah di penuhi dengan sihir. Untuk mengaktifkan sihirnya cukup dengan menyalurkan energi murni ke tangan lalu menekan benda itu kuat kuat maka benda itu akan membesar dengan sendirinya."
Ragil mendemonstrasikan akan benda itu. Setelah kuat kuat di tekan lalu benda itu dilempar jauh ke jalanan. Maka seketika itu juga benda kotak itu membesar sebesar 4 X 6 meter dengan ketebalan 0.5 meter.
"Benda pertama ini yang berbentuk Kotak digunakan bila kita akan membuat tembok agar dapat menahan serangan lawan ataupun menahan pengejaran musuh."
"Benda ini juga hanya dapat digunakan satu kali saja dan akan lenyap dalam 30 menit. Membutuhkan waktu 20 menit bagi Tingkat Mahir untuk menghancurkannya. 5 Menit untuk para Dewa dan tidak sampai 1 menit jika dihancurkan oleh Maha Dewa."
Kembali gema para tamu mulai membicarakan demonstrasi itu. Benda itu memang sangat berguna di saat genting.
"Aku ingin mencobanya." Orang tua pengguna tongkat kayu ular melompat.
"Dhombhh..." Benturan sihir kayu dari Tongkat Ular.
Dinding itu hanya bergeming tapi tidak hancur meskipun dihajar oleh Penyihir Tingkat Dewa.
Penyihir tongkat Ular itu terus menghajar dengan sihir Ular kayu ciptaannya.
"Dhuarrrkk... " Setelah pukulan ke empat barulah dinding itu hancur. Setelah pecah berantakan, dinding itu berubah menjadi asab lalu lenyap.
Tepuk tangan dari para tamu memuji kehebatan si Tongkat Ular.
"Hanya di butuhkan 3 menit untuk menghancurkannya." Ucap si Tongkat Ular dengan nada pongah.
"Bagus. Berarti kekuatan sihir Kakek tongkat Ular ini memiliki damage yang besar." Si jubah memuji. "Selanjutnya benda yang berbentuk lonjong"
Kembali Si Jubah Hitam mendemonstrasikan.
Benda lonjong itu ketika dilempar menjadi sejenis kain panjang berwarna hitam.
"Kain ini berukuran 3 X 4 dengan ketebalan sangat tipis namun kekuatannya tidak kalah dengan benda sebelumnya. Kain hitam ini tidak tertembus sekalipun menggunakan air karena kain ini tidak ber pori-pori." Sijubah Hitam menjelaskan. "Kegunaannya bisa dipakai saat berbunyi dalam kegelapan ataupun untuk menangkap binatang buruan. kain ini tidak mudah dirobek dan tidak mempan di tusuk pedang. Benda ini akan hancur hanya oleh sihir yang kuat. Kemampuan daya tahannya sama seperti sebelumnya."
Para tamu mulai saling berbicara. Ada yang akan menggunakan untuk menangkap atau menculik wanita, ada yang mengatakan ingin digunakan untuk menyimpan hasil rampokan dan berbagai macam ide kejahatan mereka.
"Untuk benda yang ke tiga berbentuk lonjong. "Jubah hitam mengeluarkan benda yang berbulat memanjang. Kelihatan seperti nasi hanya saja lebih besar sedikit. "Benda ini di lemparkan ke arah lawan seperti ini."
Benda itu di lemparnya ke arah Agroo yang jaraknya sejauh 5 meter. Tentu saja Agroo kaget tanpa persiapan.
Benda bulat lonjong itu membesar di udara. Lalu benda itu berubah menjadi air yang kental.
__ADS_1
Agroo dengan sigap menebas cairan itu dengan senjata pecutnya hingga membuat cairan itu terbelah menjadi dua. Tapi cairan itu masih hanya terbelah saja. Seperti seseorang yang di lemparkan air sekalipun dapat ditangkisnya tetap saja air itu akan mengenai tubuhnya. Demikian juga dengan Agroo.
Cairan hitam yang telah mengenai tubuhnya tiba-tiba cairan itu semakin membesar dan semakin mengental. bagaikan hidup terus cairan kental itu menjalar ke tubuh Agroo. Kini dia seperti di selimuti seluruh tubuhnya dengan cairan hitam itu. Semakin bergerak untuk membebaskan diri justru membuat cairan kental itu semakin meluas.
Setelah membesar, cairan itu langsung mengeras bagaikan batu yang kuat. Kini tubuh Agroo sudah ditutupi batu yang sudah mengeras.
Para tamu berdiri dari kursinya berharap dapat melihat lebih jelas proses perubahan cairan menjadi batu
"Ketahanan batu ini sama seperti sebelumnya. Kecuali memiliki sihir unik. Contohnya seperti paman yang dapat Transformasi menjadi tubuh karet. Bagi dia tentu sangat mudah untuk keluar dari cengkraman batu ini."
"Apakah kau hendak menjual produkmu itu."Seseorang pria muda dari para tamu berbicara. Dari pakaian mahal yang dikenakan menunjukan bahwa dirinya bukanlah orang kekurangan. "Karena kalau cuman satu rasanya akan sangat kurang. Apa lagi penggunaannya hanya satu kali saja "
"Benar. Kami juga berani bayar mahal." Seorang wanita berumur empat puluhan juga tidak mau kalah.
"Ibuku adalah penguasa di desa phana dari kerajaan Timur yang letaknya tak jauh dari Lembah Phanouel." Seorang pria berumur sekitar 17 berada di samping wanita yang baru saja berbicara. "Atas undangan ketua Binoang maka kami datang ke tempat ini. Desa kami memiliki tanah subur dan berpenghasilan besar. Jadi katakan saja berapa harganya kami pasti membayar "
"Pemimpin Desa Phana adalah seorang wanita cerdas dan pandai berdagang. Tapi bukan hanya kau saja yang memiliki kekayaan." Manusia gempal bertubuh karet juga tertarik. "Boleh kau tanyakan Nona Funuell sebesar apa kekayaanku. Jadi sebaiknya adakan saja Lelang dan siapa yang menawar paling tinggi adalah pemenangnya "
"Para petualang sekalian. Jangan berdebat diantara sesama.." Jubah Hitam menghentikan keramaian. Jika dibiarkan maka tidak mustahil kekuatan sihir yang akan berbicara. "Benda-benda ini hanyalah cindramata tidak untuk di jual. Lagi pula bahannya pun terbatas. Tapi jika ingin mendapatkan yang lebih baik dari hadiah ini maka datanglah 30 hari yang akan datang dalam pertemuan berikutnya."
Para tamu mulai kecewa. Tapi bagaimanapun juga mereka dapat merasa lebih baik karena tetap mendapatkan barang-barang aneh itu dengan gratis.
Adapula dari tamu yang mencoba membujuk untuk membeli barang itu dari antara para tamu itu sendiri.
Naery Sarr sedikit heran karena baginya itu hanya barang biasa yang tidak begitu hebat tapi kenapa begitu banyak yang berminat. Dibandingkan produk dari Militer maka semua barang itu tidak ada gunanya.
"Mereka membutuhkan nya karena mereka punya sesuatu untuk dilindungi." Funuell seperti mengerti apa yang ada di pikiran Sarr. "Seperti wanita pemimpin desa Phana sering di datangi para perampok. Seandainya dia memiliki benda itu dalam jumlah besar maka para pengikutnya dapat melawan balik para perampok itu dengan mudah."
"Bagaimana dengan si tubuh karet itu."
"Dia itu terkenal dengan menjadi pedagang licik dan di benci banyak orang. Juga memiliki anggota penyihir yang kuat. Jadi dia juga butuh banyak barang aneh itu."
---------------
Matahari mulai tenggelam. Para tamu sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Binoang dan anak buahnya mulai membereskan lembah itu.
Malampun tiba. Semua kembali kepada urusannya masing-masing. Sedangkan Ragil dengan kursi roda ciptaannya hasil meniru kursi roda kayu yang di bawa Funuell.
Dia berada di atas bukit di perbatasan lembah yang menghadap ke arah Barat.
__ADS_1
Sejak kecil memang Ragil suka sendirian berada di pantai Pulau Harta menghadap ke Landria dengan berbagai imajinasi serta keinginan dan harapan. Kini dia berada di bukit Phanouel menghadap ke arah pusat dari Landria. Juga dengan rencana dan harapan.
Kini pemuda lumpuh ini tenggelam dalam pikirannya. Ditangannya terdapat dua senjata pistol. Yang satu ciptaan Militer dan yang lainnya adalah tiruan dari Blackblood. Keduanya memiliki berat yang sama. Ragil menyesuaikan berat pistol tiruannya dengan pistol yang asli.
Dalam penglihatan Soul Watcher nya, Ragil melihat kehadiran seseorang di belakangnya sekita 20 meter.
"Mengapa kau hanya berdiam di belakang Dupp. Datanglah kesini duduk bersamaku." .
Tak lama seorang dari atas pohon melompat turun menghampiri pemuda yang berada di kursi roda.
"Apa yang kau lakukan disini.?" Kata Pria setengah baya yang bersembunyi di pohon.
"Aku hanya memikirkan rencana untuk menghadap Ratu Valkirie esok."
"Lantas mengapa ditanganmu ada dua pistol. Dari tadi kulihat kau hanya menimang nimang. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal."
"Pistol ini buatan Militer dan yang satu adalah tiruan yang ku buat."
"Apakah kau mau bersaing denganku menjadi Duplikator?" Gurau Dupp menghidupkan suasana.
"Haha.. Mana mungkin aku buat duplikat. Ini hanya bentuknya sama tapi kualitas berbeda " Ragil mengangkat Pistol buatan Militer.
"Dor."
Letusan Pistol memuntahkan peluru. Peluru itu bersarang di sebuah Pohon. Terlihat uap panas hasil benturan dengan batang pohon. Peluru hampir tidak kelihatan karena menancap.
"Dan yang satu ini Tiruan yang kubuat dengan menggunakan material sihir."
"Dukk."
Peluru buatan itu juga meluncur ke pohon yang sama tepat di atas peluru buatan Militer. Setelah benturan peluru itu hanya mengupas sedikit kulit batang kemudian terjatuh ke tanah.
"Ini yang ku katakan kualitas yang berbeda." Ragil membandingkan kedua senjata itu. "Senjata milik Militer jika terkena manusia biasa akan menyebabkan kematian sedangkan yang tiruan hanya akan membuat sakit dan pingsan."
"Kalau di tempatku ada istilah peluru karet. Sebuah peluru yang tidak menyebabkan kematian."
"Nahh... Senjata api ini ketika pelatuknya di tarik maka kokangnya akan menabrak peluru yang memiliki serbuk mesiu sehingga tercipta ledakan yang membuat peluru itu meluncur dengan cepat. Padahal peluru maupun senjata tidak memiliki elemen api namun dapat menciptakan api saat meledak. Sedangkan senjata tiruan tidak membuat ledakan dan juga tidak menciptakan elemen api."
.
__ADS_1