
"Astaga..." Paniell merasakan sebuah ke anehan.
"Ada apa ayah?" Tanya Funuell.
"Aku tidak bisa menyalurkan kekuatan sihir." Paniell mulai gelisah.
"Aku juga tidak dapat menciptakan sihir Es Ayah." Lamuell mencoba menggerak-gerakkan tangannya.
Ternyata juga di alami oleh Funuell. Gadis itu tidak dapat menciptakan pedang es nya.
Demikian juga rombongan yang datang bersama Paniell mengalami permasalahan yang sama. Mereka semua pengikut Paniell adalah orang-orang yang memiliki keahlian Sihir. Tiga pembantu utamanya sudah berada di Tingkat Menengah Awal. Level C tahap awal.
"Tuan Paniell. Semua Area disini telah di segel oleh Tuanku sehingga tidak seorangpun dapat menggunakan kekuatan sihir. Termasuk Saya dan yang lainnya."
"Apa? Apa ada segel semacam itu di Landria? Mengapa saya baru mendengar.." Paniell terkejut.
"Itu disebut Array Segel Tujuh Warna, Tuan Paniell." Ucap Ragil yang sudah berada di hadapan Paniell.
"Tuan Paniell adalah ahli obat-obatan yang sangat terkenal. Dan yang di belakang nya adalah anaknya Funuell dan Lamuell " Ucap wanita yang di belakang Ragil menjelaskan kepada Ragil seolah memberikan informasi.
"Apakah saya berhadapan dengan Tuan Ragil?" Paniell bersikap sopan dan menjura di hadapan Ragil.
"Benar. Saya Ragil yang sekarang sebagai penguasa Lembah Phanouel,"
"Pantas saja Pasukan Haduz dengan mudah di kalahkan karena mereka tidak dapat mengeluarkan kekuatan sihirnya. Demikian juga dengan ke empat murid Yakove." Sindir Funuell. "Ternyata menggunakan cara licik."
"Maaf Dik Funuell. Ini bukan licik curang. Jika harus melawan dengan kekuatan Sihir Ayahmu, tentu saja kami kalah dan dapat di bully dengan mudah." Ragil mendekat. "Tapi jika bertarung tanpa sihir itu baru namanya adil."
"Aku bukan adikmu dan aku lebih tua darimu." Ketus Funuell. "Tidak usah sok akrab."
"Aku dengar Puteri dari Raja Obat Paniell terkenal dengan jurus pedangnya. Silahkan mengambil pedang diantara mayat prajurit Haduz. Aku akan melayani anda barang satu dua jurus ." Wanita di belakang Ragil mulai menantang.
"Tanpa pedangpun aku dapat mengalahkanmu." Bentak Funuell marah.
"Tuan Paniell. Apakah Arbakir sudah menjelaskan kepadamu akan tiga cara untuk melewati lembah ini." Ragil menahan pertarungan ke dua wanita itu. "Jika terjadi pertarungan maka akan ada konsekwensi nya. Kecuali tentunya jika Tuan Paniell meremehkan saya dan tidak memperdulikan resikonya." Ancamnya
Paniell menahan Puterinya. Otaknya terus berputar mengenai tiga cara yang sudah di jelaskan Arbakir. Jika harus membayar jelas itu sangat memalukan bagi seorang tingkat Dewa. Tapi jika harus terjadi pertarungan secara serentak, itu akan merugikan pihak dirinya. Karena diatas bukit sudah dipersiapkan batu besar yang dapat membunuh mereka dengan mudah jika tanpa kekuatan sihir. Jalan satu-satunya hanya bertanding satu lawan satu tanpa kekuatan sihir. Kalau kalah harus berkorban 500 keping.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan Paniell? Cara mana yang akan kau gunakan? " Tantang Ragil. "Karena jelas kau tidak mungkin bisa kembali lagi kebelakang. Tentunya kau tidak ingin gerobak obat-obatanmu hancur tertiban batu besar. Bukan."
"Cihh!... Pria yang menjengkelkan." Funuell mengejek.
"Kurang Ajarrr.... " Lamuell yang semenjak awal menahan diri kini sudah mulai meledak. Dia melompat menerjang Ragil. Tapi tanpa kekuatan sihir maka lompatannya itu tidak bisa tinggi bahkan seperti orang lemah dan lambat pada umumnya.
Tapi Ragil sudah mempersiapkan akan segala kemungkinannya. Pada saat itu tangan Ragil sudah mengacungkan pistol ke arah kepala Lamuell. "Jangan memaksa aku membuyarkan isi kepalamu disini. Seperti Pimpinan Prajurit Haduz yang menjengkelkan itu."
Paniell sebagai orang tua dari kedua anaknya ini juga telah melihat Pimpinan Haduz yang mati karena senjata api. Tapi hanya itu mayat yang dilihat mati karena senjata api. Jadi dia mengambil kesimpulan bahwa Pemuda yang bernama Ragil ini tidak akan menggunakan senjata api nya jika lawannya tidak menyinggungnya. Karena mayat-mayat yang lain mati karena tertimpa batu dan tersayat lehernya. Dan yang memotong leher para prajurit itu adalah wanita yang berada di belakang pemuda itu. Begitulah yang ada dalam benak Paniell.
Lamuell menjadi pucat. Tanpa kekuatan sihirnya maka peluru panas akan dengan mudah menembus kepalanya.
Lamuell mundur teratur. Dia teringat akan salah seorang Prajurit Haduz yang mati karena pecah kepala nya.
"Kalian jangan gegabah." Paniell memperingati anaknya. "Maafkan akan kedua anak saya yang mudah emosi. Kulihat Tuan tampak bermartabat rasanya tidak pantas menjadi seorang penjahat."
"Paman jangan terpancing oleh sikapnya. Dia adalah Dev Ragillard anak dari Bajak Laut Dev Ravalard." Teriak murid tertua Yakove yang memiliki kumis tipis. Seorang Penyihir tingkat mahir.
"Mungkin Paman belum pernah mendengar tentang sepak terjang mereka karena Paman berada di pegunungan selama sebulan ini. Tapi Pria ini lah yang mengalahkan para Militer dalam perang melawan Ulgar." Ucap Murid kedua Yakove yang menggunakan koas sebagai senjatanya.
"Paman. Dia ini juga yang membuat Raja Leaghatt tidak mau bermusuhan dengannya." Murid ke tiga Yakove yang berambut gondrong ikut menimpali.
Mendengar kata-kata dari murid kesayangan Yakove tentu saja membuat Paniell terperanjat. Ternyata selama tiga puluh hari dia berada di pegunungan sudah banyak terjadi hal yang luar biasa tanpa sepengetahuan dirinya.
Selama ini tidak ada kerajaan yang pernah bisa mengalahkan Militer dengan senjata ciptaannya. Tapi ternyata dapat di kalahkan oleh pemuda yang seumuran dengan anaknya.
Bahkan dapat membuat kerajaan Timur seperti Raja Leaghatt gentar terhadapnya. Murid-murid Yakove ini pasti tidak mungkin berbohong.
Benar seperti yang dikatakan Puterinya, Pemuda ini tidak sesederhana kelihatannya. Sebaiknya jangan memprovokasi pemuda ini sebelum segalanya jadi terlambat.
"Hei .. hei... Hei... Siapa yang menyuruh kalian berceloteh seenaknya." Bentak Ragil membuyarkan lamunan Paniell. "Apakah kalian mau adik kalian ku perkosa."
"Dasar biadab. Kubunuh kau." Funuell sudah tidak tahan. Apa lagi mendengar seseorang hendak melecehkan kaum perempuan. Tangannya segera akan menampar Ragil.
Belum lagi tangannya menyentuh pipi Ragil, sebuah totokan mengenai di dada gadis itu.
Gerakan yang tiba-tiba dan di luar dugaan ini membuat Funuell tidak dapat menggerakan tubuhnya. Totokan itu tepat mengenai area otot gerak. Gadis ini juga menjadi merah wajahnya, antara kesal dan malu. Selama ini tidak ada pria yang menyentuh dada nya meskipun bukan di area tempat terlarang. Tapi Pemuda sombong ini menyentuh dadanya begitu saja.
__ADS_1
Totokan kedua datang lagi dari Ragil bersarang di pinggulnya membuat Funuell jatuh terduduk di tanah. Kini Otot kaki nya menjadi lemas membuat gadis ini terduduk seperti berlutut dihadapan Ragil.
Funuell mulai menyadari kenapa para Murid Yakove semua terduduk seperti berlutut. Pasti karena totokan yang sama seperti yang di alaminya.
Paniell mencoba membantu Puterinya saat serangan titik kedua dari Ragil tapi tangan Ragil yang lain masih memegang senjata dan mengarah ke kepala Paniell.
"Jangan paksa aku melakukan kebodohan." Ragil berbicara datar. "Katakan. Kau ingin perang atau duel."
"Bagaimana bisa di bilang duel dengan menggunakan senjata pistol." Lamuell merasa kesal karena situasinya tidak adil untuk pihaknya.
"Tidak. Kau tidak duel denganku. Tapi kau duel tangan kosong dengan wanitaku yang dibelakang itu." Ragil melirik ke gadis berkerudung di belakangnya.
"Jangan ngomong sembarangan." Bentak wanita itu.
"Baik. Kita duel. Tapi sebelumnya bebaskan Puteriku dulu dari totokanmu itu."
"Tidak masalah. Tapi jika anakmu berbuat ulah lagi maka jangan salahkan aku jika kubuat dia lebih menderita." Ragil membebaskan totokan nya kepada Funuell. Sekali lagi dia menotok di dada dan pinggulnya gadis itu.
Setelah terbebas dari totokan, Funuell hendak melampiaskan kemarahan tapi pundaknya di pegang oleh Ayahnya melarang Puterinya melakukan perbuatan yang merugikan.
Paniell juga merasa senang karena yang dilawan bukanlah Ragill yang di takuti oleh Raja Leaghatt tetapi justru seorang wanita. Meskipun sebenarnya ada rasa malu karena menghadapi seorang wanita, tetapi untuk melawan penjahat tidaklah harus menggunakan tata Krama dalam bertanding. pemikiran itulah yang membebaskan dirinya dari rasa bersalah.
"Sebenarnya rasanya tidak pantas sebagai pria terhormat untuk duel dengan seorang wanita. Seandainya boleh, biarkan saya melawan Tuan Ragil atau Arbakir.
"Hahahaha... Jangan kuatir. Justru dalam berkelahi tanpa kekuatan sihir, kami berdua bukanlah apa-apa di bandingkan gadis ini."
"Apa yang di katakan Tuan Ragil benar adanya, Tuan Paniell." Kata Arbakir. "Ketika pasukan kerajaan Haduz memutuskan untuk berperang maka gadis ini membunuh paling banyak dengan menebas leher mereka seperti memotong ayam."
"Jangan kuatir Tuan Paniell. Di dalam duel ini tidak ada nyawa melayang. Karena sifatnya hanya taruhan. Jadi kau musti menyiapkan 500 keping emas." Ragil menjelaskan.
"Kudengar kau ahli menggunakan tombak es. Kau bisa memilih senjata yang digunakan oleh pasukan Haduz. " Tantang wanita berkerudung hitam itu.
"Saya juga bisa sedikit menggunakan tangan kosong. Kalau boleh tahu, siapakah nama Nona."
"Tidak perlu sopan santun. Nama saya adalah Naery Sarr."
"Bisa dimulai.?" Ragil tidak sabaran.
__ADS_1
Tanpa di perintah, semua yang berada di tengah area pada mundur, memberikan ruang untuk kedua orang itu bertanding.