Landria : Raja Penjahat

Landria : Raja Penjahat
Bab 65. Cerita Dua Orang Tentang... ke 3


__ADS_3

Pangeran itu juga merupakan penyihir yang handal. Pangeran itu mencintai Htur Orpahh sejak pandangan pertama. Sejak itu sang pangeran terus mengejar Orpahh dan meminangnya. Orpahh baru akan menerima pinangan itu jika sang pangeran dapat mengalahkan dirinya. Karena Orpahh mencari pria yang lebih kuat darinya? Tujuannya cuman satu agar dapat memberikan kekuatan kepada Orpahh untuk mencapai Jurus ke 7.


Pangeran itu ternyata memang sakti dan dapat mengalahkan Orpahh. Akhirnya Orpahh pun menjadi isteri pangeran di Kerajaan Noemis.


Namun demikian Orpahh tidak dapat mencapai jurus ketujuh. Hasil hubungan pangeran dengannya telah melahirkan dua orang anak laki laki yang gagah.


Menurut cerita Pangeran, mengenai kematian ibunya bahwa Madrakh lah yang telah membunuh Ibunya.


Awalnya Pangeran mendengar suara ribut di kamar ibunya. Ini seperti suara pertarungan. Setahu dia, ayahnya sedang pergi berburu. Lalu siapa yang bertarung di kamar ibunya. Ketika dia bergegas sampai di kamar, dilihatnya ibunya tergelatak di lantai. Sementara Ayahnya sedang bertarung dengan Madrakh. Pangeran juga tidak menyangka Ayahnya sudah datang dari berburu. Dikira, ibunya hanya sendirian di kamar.


Ibunya seperti terkena racun berbahaya. Tubuh ibunya perlahan demi perlahan mulai mengkerut kemudian secara perlahan menjadi debu. Mayat ibunya bagaikan hangus terbakar dalam kremasi.


Dilihatnya tangan Madrakh dari jari sampai bawah siku berwarna merah pekat. Madrakh terus menyerang ayahnya dan ayahnya hanya dapat menghindar. Seperti ayahnya takut dengan tangan Madrakh.


Benar saja, setiap tangan Madrakh menyentuh benda maka benda itu langung gosong dan lebur menjadi debu. Setiap ayahnya menghindar dari serangan Madrakh maka tembok, kursi, meja dan banyak benda lainnya yang menjadi sasaran tangan keji itu. Sihir keji itu bernama


DESTRUCTION PALM


Melihat Ibunya sudah tewas menggenaskan, Pangeranpun berteriak histeris.


Ketika Madrakh melihat kehadiran Pangeran yang memasuki kamar, Niat bertarung Madrakh lenyap. Pria itu melihat sebentar ke tubuh Ratu yang mulai menjadi abu, lalu dia segera lari lewat jendela.


Ayahnya dan dia berusaha mengejar si pembunuh bernama Madrakh itu, namun lawannya ini menghilang begitu saja bagai di telan oleh gelapnya malam.


Sejak kejadian itu pangeran dan Raja tidak pernah bertemu dengan Madrakh lagi.


Pangeran hidup bahagia bersama Istri dan kedua puteranya.


.


.


Cerita Dupp


------------------


"Suatu ketika disaat Pangeran Kerajaan Noemis sedang berburu, Madrakh datang kembali memasuki istana dengan mudahnya, setelah sekian lama menghilang." Dupp melanjutkan ceritanya kepada Ragil.


musim berburu terkadang memakan waktu tiga sampai enam hari. Tergantung banyaknya buruan. Pangeran membawa pasukannya untuk berburu, meninggalkan isteri dan kedua puteranya.


Madrakh tahu kalau Pangeran sedang berburu jadi dia sengaja datang dimalam hari. Kemampuannya yang tinggi membuat tidak seorangpun mengetahui kedatangannya. Madrakh bisa menyembunyikan aura nya hingga tidak dapat terdeteksi oleh para ahli penghuni istana.


Madrakh berhenti di satu tempat tepat di depan sebuah jendela. Lalu dia melihat Orpahh sedang tidur bersama dua puteranya.


Orpahh sebenarnya tahu kehadiran Madrakh yang hanya berdiri di depan jendela kamarnya. Tapi dia pura-pura tidak tahu. Karena Orpahh hendak melihat apa yang akan di lakukan Madrakh.


Waktu berlalu sampai matahari akan terbit, Madrakh tidak melakukan apapun selain berdiri di luar jendela. Begitu ayam berkokok, Madrakh pun menghilang.

__ADS_1


Orpahh pun bangun langsung menghampiri jendela dan memandang keluar. Dilihatnya bayangan hitam yang melesat ke arah Utara. Setelah bayangan itu menghilang, Orpahh kembali ke tempat tidurnya.


Esok malamnya pun Madrakh datang lagi. Sama seperti sebelumnya hanya memandang di luar jendela lalu lenyap setelah subuh.


Seperti sebelumnya Orpahh langsung melihat dari jendela arah kepergian Madrakh.


Hari yang ketiga datang lagi. Tapi kali ini Orpahh sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tubuh Orpahh ditutupi dengan selimut seolah tidur dengan tenang.


Ketika di lihat Madrakh bahwa tubuh Orpahh tidak bergerak sama sekali, diapun mulai curiga. Masakan tidak ada gerakan nafas.


Menyadari bahwa di bawah selimut tidak ada orang, Madrakh langsung meolmpat pergi. Dia tidak mau terperangkap dalam jebakan.


Setelah jauh dari istana, barulah Madrakh dapat dengan tenang bernafas.


"Siapa disana?" Madrakh merasakan ada seseorang bersembunyi.


"Lama juga kau menyadari kalau yang di dalam selimut tidak ada orang." Suara wanita menegur. "Aku sudah menunggumu sejak tadi.


Ternyata pemilik suara wanita itu tidak lain dari Orpahh sendiri. Dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan pedang Inti es ditangannya.


"Bagaimana kau tahu aku lewat sini?," Madrakh kaget karena Orpahh telah menanti nya.


"Aku tidak tahu. Tapi aku menduga kau berlari ke arah sini. Dua hari ini kulihat kau berlari ke Utara."


Tanpa pikir panjang Madrakh pun berlari menjauh dari Orpahh. Dia merasa telah tertangkap basah.


Orpahh pun tidak tinggal diam. Sihir angin salju mendorong tubuhnya berlari sangat cepat. Setelah mendekat langsung di terjang oleh pedang Inti es.


Madrakh pun berbalik dan menyambut serangan. Terjadilah pertarungan antara Orpahh dan Madrakh.


.


.


Cerita Orpahh


----------------------


"Bagaimanapun aku berjuang, aku tidak dapat mengalahkan Madrakh." Orpahh menatap langit kosong.dengan tatapan hampa. "Dia begitu sakti seolah menyembunyikan kesaktiannya. Meskipun aku kalah, dia tidak membunuhku."


"Bagaimana Pria kejam itu tidak membunuhmu." Funuell yang sering bergaul dengan pasien para penjahat mengerti akan kebuasan para penjahat.


"Benar. Pria itu meninggalkan aku begitu saja saat terkapar di tanah." Lanjut Orpahh. "Dari wajah sampai ke tubuhnya, aku tidak melihat aura membunuh dalam dirinya. Wajah sasis pun tidak terlihat dari mimiknya. Seolah laki laki itu seperti seorang yang suci."


Madrakh meninggalkan Orpahh begitu saja setelah dikalahkannya.


"Mengapa kau tidak membunuhku?" Orpahh bertanya.

__ADS_1


"Aku tidak ada alasan membunuhmu."


"Lalu apa alasanmu membunuh Ratu Noemis?"


"Aku tidak membunuhnya. Rajalah yang membunuhnya."


Tentu saja Orpahh tidak percaya begitu saja. Dia minta penjelasan kepada Madrakh. Rupanya Madrakh tidak keberatan menceritakan.


Madrakh dan Ratu memiliki hubungan gelap. Mereka bertemu pertama kali saat Acara Pesta Rakyat. Madrakh yang melihat kecantikan Ratu langsung mendekatinya dengan cara membuat pingsan para pengawalnya.


Sejak saat itu Madrakh sering melompat ke kamar Ratu dan menggoda nya. Itu dia lakukan disaat Raja sedang sibuk mengurus negara, atau sedang memperdalam ilmu sihir, atau sedang berburu. Begitu banyak kesempatan mereka menjalin pertemuan tersembunyi.


Rupanya sang Ratu juga membalas cinta Madrakh. Ratu tidak pernah melaporkan kepada Raja tentang kunjungan Madrakh secara diam diam ke kamarnya.


Ratu yang selalu kesepian karena Raja selalu berlatih sihir di ruang tertutup hingga Tidak punya waktu untuk bersama dengan isterinya. Raja begitu terobsesi dengan kekuatan sihir. Dia hanya mengatakan akan memperdalam sihir baru yang baru di dapatinya. Dia baru akan keluar dari pelatihan nya ketika akan memasuki musim berburu.


Kedatangan Madrakh pun langsung di sambutnya seperti ikan masuk kedalam kolam oleh Ratu yang kesepian. Hubungan mereka semakin lama semakin dekat. Cintapun berakar dan tumbuh bersemi di antara keduanya.


Hingga suatu ketika sang Ratu Hamil. Raja sering melihat Ratu sedang muntah muntah. Perutnya pun semakin membesar. Muncul kecurigaan Raja karena dia jarang berada bersama isterinya. Tapi Raja yang cerdik pura pura tidak tahu akan perubahan Ratunya.


Suatu ketika Raja mengatakan kepada isterinya akan pergi berburu dalam waktu yang lama. Sebenarnya Raja sedang melakukan muslihat hendak menangkap basah isterinya.


Ketika malam tiba didapatinya Madrakh berada di kamar bersama isterinya berduaan di kamar. Raja yang dipenuhi api cemburu langsung menyerang Madrakh.


Serangan itu sangat berbahaya. Ratu belum pernah melihat kekuatan sihir yang begitu menakutkan. Selama ini dia tidak tahu sihir apa yang telah dipelajari suaminya. Kedua tangan Raja berubah warnanya menjadi merah membara. Setiap serangannya membuat udara di sekitarnya berbau belerang. Apapun yang disentuh oleh kedua tangan itu akan menjadi debu. Itu adalah...


Destruction Palm


Ratu yang melihat Raja menyerang Madrakh dengan sihir berbahaya itu langsung menghadang serangan Raja dan menjadi perisai bagi Madrakh.


Raja tidak bisa menarik lagi serangannya jadi dia memukul dada Ratu dengan kekuatan sihir itu.


Madrakh yang melihat kekasihnya terkena serangan mengerikan langsung menyerang Raja. Pada saat itu terdengarlah teriakan Pangeran yang telah memasuki kamar.


"Tapi Pangeran yang melihatmu dengan tangan berwarna merah. Kau adalah pengguna Destruction Palm ." Orpahh membantah menghentikan ceritanya.


"Kalau kau tidak percaya ya sudah." Madrakh meninggalkan Orpahh. "Aku tidak perduli kau percaya atau tidak.


Orpahh hanya memandangi punggung Madrakh yang semakin menjauh dari nya. Punggung yang bidang dan besar. Punggung seorang Pria sejati.


Ingin rasanya Orpahh berteriak agar Pria itu tidak meninggalkannya begitu saja.


Hingga tanpa sadar Orpahh hanya tersenyum sendiri entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Memangnya Apa yang nenek pikirkan tentang si Madrakh itu." Funuell kembali membuyarkan lamunan Neneknya.


"Saat itu, Aku baru menyadari kalau sebenarnya aku mengaguminya semenjak pertama kali bertemu dengannya. Ketika Pertama kali bertarung dengan Madrakh sebelum bertemu Pangeran." Wajah Orpahh terlihat bercahaya berbinar binar. Seperti seorang telah jatuh cinta. "Aku hanya berpikir kalau Pria ini adalah yang tepat untuk pencapaian ku memasuki Jurus ke Tujuh. Karena selama bersama Pangeran, kemampuan sihirku tidak berkembang sama sekali."

__ADS_1


__ADS_2